Laptop atau Handy Cam?

AKU bukanlah seorang penyair yang mampu merangkai-rangkai kata yang indah untuk para pembaca. Dan aku juga bukan seorang penulis yang mampu menyusun kalimat-kalimat yang memotivasi dan memberikan kata bermakna. Namun, di kesempatan kali ini, ijinkan aku berbagi cerita, berbagi rasa, dan berbagi pengalaman untuk para pembaca.

Minggu, 1 Februari 2013. Aku masih mengingat saat pertama aku bergabung dengan QF Multimedia. Di sana aku belajar banyak hal; mulai pengoperasian komputer, pengenalan software, install, pengoperasian kamera DSLR, download, dan masih banyak lagi. Kak Liandi Kaputera atau yang sering kami sapa Kak Chutay adalah pembinaku dalam hal ini. Dialah orang yang memberiku banyak hal baru, yang sebelumnya tak aku kenal dan tak pernah aku dengar. Namun berkatnya, setidaknya aku memiliki bekal yang aku katakan lumayan. Karena aku masih harus mencari bekal-bekal yang belum aku temui. Setidaknya jika ada yang bertanya padaku masalah download-men-download, aku masih bisa jawab dan membantu.

Aku juga akan selalu ingat bahwa aku ini adalah seorang Penyiar Radio. Keren bukan? Itu yang aku rasakan setelah bergabung dengan Radio Qi FM 107.7. Ya, setidaknya di dunia ini ada satu orang yang menyebutkan aku keren jadi seorang penyiar radio. He..he.. Iya itu, aku tadi. Aku rasa itu nggak salah. Berkat semua itu, di luaran sana banyak orang yang mengenal penyiar dengan nama udara Abang Bebeng Bengoeng. Itulah nama udaraku pada saat bergabung dengan Qi FM 107.7. Bahkan ada pendengar yang berkata suaraku ini lembut. Walaupun itu tidak benar, aku tetap bangga. Dan berkat aku bergabung dengan radio komunitas ini, aku bisa terpilih untuk mengikuti pelatihan pembuatan Film Dokumenter yang diadakan oleh  Search for Common Ground (SFCG) Indonesia. Ya, akhirnya aku mengenal banyak sekali orang-orang keren sekaligus orang-orang hebat juga.

Berkat pelatihan itu aku bisa mengenal Mbak Endah W. Sulistianti (Tim Eagle Award Metro TV), Mas Badrus Syamsul Fata (The Wahid Institute), Mas Suraji (SFCG), Mas Yopi (Trainer Film Dokumenter) dan yang lainnya. Mereka lah orang yang hebat, yang sudah memberikanku ilmu, semangat dan motivasi. Dan yang seru juga aku bisa ketemu dan ngobrol sama bule-bule juga loh. Ada Ian White dari Australia, ada Sarah dari Amerika, dan sebagainya.

Setelah aku mengikuti pelatihan yang dilaksanakan empat hari itu, akhirnya aku tau bagaimana mengoperasikan kamera. Khususnya handy cam. Yang dulunya tak pernah aku kenal apa itu handy cam, bagaimana bentuknya, setelah itu otomatis aku punya sedikit pengetahuan baru mengenai perfilman. Dalam pikiranku setelah ikut pelatihan itu, ada dua hal yang menghampiri; beli laptop sama kamera. “Laptop atau kamera, laptop atau kamera?” Itulah pertanyaan yang sering kali aku pertimbangkan, yang gunanya memajukan pengetahuanku dalam perfilman ini.

“Kalau aku beli handy cam, keren sih. Tapi, mau disimpan di mana data-datanya? Kan nggak mungkin cukup kalau di memory card terus. Dan mau ngedit pake apa?”

“Kalau aku beli laptop duluan, aku mau ngerekam pake apa?”    

“Ya sudahlah terserah, mau pake punya siapa yang pasti beli laptop dulu.”

“Tapi duit dari mana? Emang punya duit? Punya tabungan nggak?”

Itulah sekilas percakapan diri sendiri dengan sebuah keinginan yang nggak memungkinkan bagiku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kegundahan ini ke Emak. Respon emak biasa-biasa aja. Kata emak; “Geus ke deui. Ari boga duit, engke laptop mah meuli ke geh”

“Tapi kapan yah Emak boga duit?” tanyaku dalam hati. Maklum, Bapak dan Emakku tidak memiliki pekerjaan seperti orang lain.

Beberapa bulan berlalu. Ya, mungkin sekitar dua bulanan. Akhirnya Miss Eneng Atikoh (Direktur Radio Qi FM) mengatakan film yang kami kirimkan ketika pelatihan beberapa bulan yang lalu akan dilombakan dalam Festival Film Santri (FFS) di Festival Huis Kedutaan Belanda, Kuningan Jakarta, Jum’at, 21 Juni 2013. Dan Miss Eneng akhirnya menentukan siapa saja yang akan diikutkan ke sana. Al-Hamdulillah, aku termasuk salah satu diantaranya, dari enam santri lainnya. Miss Eneng juga memberitahukan kapan kami semua akan berangkat ke sana. Setelah aku tau mengenai hal itu, hari-hariku dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan.

Pada akhirnya aku bercerita pada Emak, nampak Emak gembira mengetahui hal ini dan dia banyak bertanya mengenai persiapan aku untuk ke sana. Maklum, aku anak kesayangannya. He.. He… Pada saat itu, waktu keberangkatan sudah datang. Kami berangkat sekitar jam 06.00 WIB. Aku ingat betul, pada saat itu yang mengemudikan mobil adalah Kiai Aang Abdurohman, S.E. (yang kini tengah menjalani studi S2 di Untirta Serang) atau yang disapa Kiai Aang. Dia adalah putera pertama Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah sekaligus Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS). Beberapa jam dalam perjalanan, aku melihat dan belajar banyak hal. Mulai dari kesabaran, fokus, serius dan konsentrasi. Semua itu aku dapatkan dari Kiai Aang yang sedang mengemudikan mobil pada saat itu.

Tak lama kemudian, akhirnya mobil yang kami tumpangi memasuki Kota Jakarta. Mulai terlihat banyak sekali perbedaan yang mencolok di mataku. Di kampung aku biasa melihat banyak sekali hutan dengan pepohonan yang rindang, udara yang sejuk dan keramahan penduduknya. Namun di wilayah Betawi ini, pandanganku dipenuhi hutan beton yang menjulang tinggi dengan udara yang sedikit lebih panas yang kurasakan. Juga penduduk berlalu lalang dalam jumlah yang sangat besar. Dengan kepribadian yang beragam. Mungkin, itulah daya tarik bagi kota yang didirikan Belanda ratusan tahun yang lalu itu.

Di sana aku juga melihat banyak sekali tugu/patung seperti patung Tugu Tani, Pancoran dan kawan-kawannya yang lain. Sebelum kami ke Kuningan atau lebih tepatnya Kedubes Belanda yang menjadi wilayah tujuan kami, kami menyempatkan diri singgah di Monas (Monumen Nasional) untuk sekedar melepas penat di perjalanan.

Di Monas nampaknya pada saat itu sedang ada acara. Karena waktu itu terlihat sangat ramai. Di sana kami menemui banyak sekali tentara yang sedang bergoyang. Memang pada saat itu ada konser dangdut. Akhirnya, kami semua berpencar mencari tempat hiburan masing-masing. Dalam waktu sekejap, teman-temanku menghilang. Aku hanya dengan Pak Agus Faiz Awaludin. Beliau adalah guru di pesantren sekaligus sahabat yang baik bagiku. Kami berdua berkeliling bersama dan kami juga sempat mengabadikan momen tersebut dengan berfoto-foto.

Setelah beberapa lama di sana, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Kedutaan Belanda. Setelah sampai, kami dikejutkan dengan pemeriksaan keamanan yang sangat ketat di sana. Pertama kami melewati pintu pendeteksi logam dan barang-barang kami diperiksa secara detail. Akhirnya waktu Dzuhur pun tiba, kami semua berniatan menjalankan shalat Dzuhur, tetapi bukan di Kedubes Belanda, melainkan di masjid yang ada di dekatnya. Mungkin kalau jalan kaki sekitar 500 meteran. Ya, walaupun kami sedikit telat, di sana kami tetep menjalankan ibadah dengan khusyu’.

Setelah itu kami kembali ke Kedubes dan kami sempat makan-makan di sana. Awalnya aku menganggap Spageti atau yang semacamnya itu makanan yang enak, tetapi setelah aku coba di sana, ternyata masih lebih enakan Urab buatan Emak Sitiku tercinta. Ya, memang benar. Ternyata bentuk tidak menjamin rasa. Spageti yang tadinya aku kira makanan yang enak, tapi setelah aku coba Spageti itu bikin enek. Itu bagiku, entahlah bagi orang lain, mungkin super lezat.

Setelah kami makan, perut pun terasa kenyang. Kami juga sempat masuk perpustakaan di sana. Baca-baca beberapa lembar buku, sampai saat Festival dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Di sana kami disambut banyak sekali Turis yang begitu ramah. Kami diberikan masing-masing satu buah buku Festival Film Santri yang akan kami hadiri pada saat itu. Setelah itu kami masuk ke tempat yang sepertinya telah didesain untuk acara ini. Di sana kami bertemu dengan Mbak Endah (Trainer film kami) juga Mbak Maghfiroh, orang yang sering sekali mengenalkan hal-hal baru ketika mereka ini berkunjung ke pondok. Di sana juga ada banyak sekali santri-santri dari seluruh Indonesia yang juga diundang sebegai perwakilan sekolahnya. Dan mereka juga sekaligus peserta Festival Film Santri yang kami hadiri saat itu.

Acara pun dimulai. Mbak Firoh dan kawannya pada saat itu menjadi pembawa acara. Dia lihai sekali mengolah ucapan dan bahasanya, sehingga peserta tidak bosan dengan acara itu. Pada akhirnya kami menonton semua film yang telah kami produksi. Ada perasaan bangga yang aku dapati, ketika aku melihat film karya kami yang berjudul Shalawat. Kalian juga bisa mencarinya di youtube, jika ingin melihatnya. Tulis aja Shalawat Ponpes Qothrotul Falah Lebak. Nanti pasti muncul.

Setelah acara selesai, akhirnya pengumuman pemenang Festival Film Santri diumumkan. Dan kamipun masuk 10 film terbaik. Bangga dong, karya kami bisa dianggap. Walau bukan yang terbaik di sana, tapi diantara teman-teman yang tidak berkesempatan sepertiku, itu lebih baik. He.. He.. Akhirnya kami pulang dengan membawa Piala penghargaan yang berlambangkan Lensa Kamera. Sesampai di pondok, aku cerita banyak sekali pada teman-temanku dengan penuh kebanggaan. Maklum, sebelumnya belum pernah kayak gini. He.. He..  

Setelah ikut festival, aku tidak puas begitu saja. Aku masih banyak sekali belajar mengenai komputer, karena saat itu aku masih bergabung dengan QF Multimedia. Aku menggali banyak sekali ilmu dari Kak Chutay (sekarang ia menyebut dirinya Chutay DesGraf). Sebenarnya dialah salah satu orang yang berjasa dalam hidupku. Ketika aku di QF Multimedia, keinginanku untuk memiliki komputer selalu saja meningkat. Itu menyebabkan aku berkali-kali minta kepada kedua orang tuaku. Walau respon mereka tidak begitu baik, karena kondisi keuangannya yang tidak mendukung dan itu sangat aku pahami.

Beberapa waktu setelah itu, the Wahid Institute mengadakan Lomba Karya Anak Bangsa. Dan QF Multimediapun mengikutkan aku dalam Lomba Photografi untuk memperingati Harlah ke-9 the WAHID Institute. Melalui poto berjudul “Memahami”, pada Kamis, 26 September 2013 akhirnya kami berhasil memenangkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 3.25 juta sebagai Juara Pertama. Uang hadiah itu kami gunakan untuk membangun Galeri Toleransi di Gedung MPS. Walau tidak terbilang sukses, masih ada perasaan bangga padaku karena aku merasa memiliki fungsi yang tidak sia-sia. He.. He.. Setidaknya ada hal baru yang bisa aku tambahkan di pondok kita tercinta ini.

Tidak sampai di situ saja, aku juga masih sangat mengingat masa-masa pelatihanku di Wisma PKBI Jakarta. Pelatihan yang bertema Creative Documentary Training; On Editing Process, itu diselenggarakan pada Selasa-Sabtu, 11-14 Februari 2014, oleh SFCG bekerjasama dengan The Wahid Institute Jakarta dan P3M Jakarta. Untuk mengikuti pelatihan ini, pondok menunjukku dan Kak Chutay sebagai perwakilannya. Kami berangkat sekitar pukul 09.00 pagi, menggunakan sepeda motor milik Kak Chutay. Sesampai di Stasiun Rangkasbitung, kami menitipkan motor di penitipan selama lima hari, karena di sana kami akan mengikuti pelatihan selama lima hari juga. Sebenarnya perasaanku saat itu sangat berat untuk meninggalkan pondok, karena waktu itu aku baru saja terpilih menjadi Ketua Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Masa Bakti 2014-2015. Tapi apa boleh buat, ini juga amanat pondok yang harus aku jalani, sekaligus amanat yang sangat menarik untuk dijalani.

Di stasiun, sambil menunggu keberangkatan kereta, kami memeriksa barang bawaan kami. Dan ternyata charger laptop yang kami bawa tertinggal di pondok. Kami berduapun kebingungan pada saat itu, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menelpon Mas Suraji (SFCG), seseorang yang bertanggungjawab dalam pelatihan ini. Kamipun bercerita tentang charger yang tertinggal itu dan diapun menyuruh kami untuk tidak perlu repot bulak-balik, karena di sana sudah disediakan komputer untuk kami berlatih. Nafas kami pun serasa lega.

Akhirnya kami berangkat menggunakan kereta api langsam. Setelah beberapa lama di kereta, akhirnya kami turun di Kebayoran Lama, dilanjutkan naik taxi ke Wisma PKBI. Setelah sampai, kami sempat bertemu dengan beberapa santri peserta pelatihan. Kami menanyakan di mana kami akan beristirahat saat pelatihan bersama kepada penjaga lobi di sana. Akhirnya kami mendapat kunci kamar masing-masing. Istirahat deh. He.. He..

Malam pun tiba. Kami makan malam bersama Mbak Endah, Mas Azis (seorang editor film), aktivis SFCG dan juga perwakilan santri-santri se-Indonesia. Setelah makan malam, kami ngobrol banyak sekali. Sharing bareng, berbagi cerita, pengalaman, dan juga berbagai hal lainnya. Setelah itu kami ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pelatihan esok paginya.

Pagipun tiba. Setelah sarapan pagi, kami memasuki kelas untuk berlatih editing video. Kami semua diajari banyak hal yang berkaitan dengan editing video. Mulai dasar-dasar editing sampai proses rendering. Setiap sehabis pelatihan kami selalu menyetorkan karya kami untuk ditonton dan dikoreksi secara bersama. Karena aku sungguh menikmati kegiatan ini, lima hari di sana serasa sangat singkat sekali. Dan kamipun pulang. Sebelum pulang, kami sempat foto bareng dulu. He.. He.. Aku bersama Kak Chutay pulang lebih awal dari teman-teman yang lainnya. Kami pulang malam itu juga setelah selesai pelatihan, sementara yang lainnya pulang keesokan paginya. Setelah keluar dari Wisma PKBI, kami bersama naik bajaj menuju stasiun kereta api. Itulah pengalaman pertamaku menaiki bajaj. Aku rasa, naik bajaj itu asyik juga. He.. He..

Akhirnya, kamipun sampai di pondok sekitar jam 21.00 WIB. Santri di pondok terlihat baru saja keluar dari majelis setelah pembacaan program OPPQ. Rupanya aku telat beberapa menit saja. Andaikan aku bisa lebih cepat, mungkin akulah yang akan membacakan programku sebagai ketua, bukan saudaraku Eman Sulaeman. Kamipun menaruh barang-barang perlengkapan di kamar Kak Chutay, dan aku pergi menemui Ustadz Ahmad Turmudzi untuk bersalaman. Setelah itu aku kembali ke kamar Kak Chutay. Dan ada hal yang mengejutkanku. Salah satu barangku hilang dicuri orang!! Yang membuat aku jengkel, pencuri itu membuat status menggunakan akun facebookku dengan bahasa yang tidak pantas untuk ditulis. Huuuuuh.. Hidup ini memang penuh kejutan yang tidak terduga. Tapi aku yakin, Allah punya banyak kejutan setelah ini.

Setelah aku memiliki sedikit bekal dalam editing video karena pelatihan itu, keinginan aku untuk memiliki laptop semakin meningkat. Lagi-lagi aku ngomong ke Emak minta dibeliin laptop. Aku nggak berani minta ke Bapak. Pada akhirnya, Emak juga sedikit geregetan. Beliau lalu menghubungi saudaranya yang berada di Surabaya dan menanyakan spesifikasi laptop dan perlengkapannya. Dan akhirnya dia menanyakan kecocokanku.

“Hayang merk naon kitu laptopna Bi.”

“Lamun bisa mah Lenovo, Accer, ari aya mah duitna,”  jawabku sedikit senang.

“Oh.. Ngke ku Emak ditanyakeun hargana. Tapi lamun mahal, merek biasa bae nya.”

“Oh.. Ngges geh, pokona mah boga bae heulaan. Gampang anu mahal mah,”  jawabku meyakinkan Emak.

Nampaknya Emak sedikit kaget ketika mendengar harga laptop yang sedikit bermerk itu, karena tarifnya mendekati bahkan bisa lebih dari Rp. 5 juta.

“Bi, merek HP bae teuing?? Teu boga duit Emakna lamun meser Lenovo mah.”

“Oh.. Nya geh teu nanaon.”

Emak kembali menelpon saudaranya itu, dan memesan laptop bermerek HP yang langsung dikirim dari Surabaya. Aku tidak begitu tahu berapa persisnya harga laptop ku ini. Tapi aku sangatlah bersyukur karena Emakku yang tercinta; Emak Siti.

Kebutuhan mencari informasi dan referensi editing video, photo, dan software yang dibutuhkan komputerku membuatku sadar bahwa pentingnya memiliki modem. Tapi aku sangatlah malu, jika aku harus meminta kepada orang tuaku lagi. Dan pada akhirnya, aku terpaksa bercerita pada mereka dan Emakpun menyarankan aku untuk menelpon pamanku yang bisa dikatakan berkecukupan. Beliau tinggal di daerah Lebak. Pada saat itu beliau sedang ada di rumah. Akhirnya aku menelponnya.

“Hallo.. Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum salam. Aya naon, bi??”

“Henteuu. Palai ngobrol bae.”

“Ndek ngobrolkeun naon kitu?”  suara di sebrang sana membuatku sedikit grogi untuk menyampaikan maksudku.

“Langsung bae nya. Pan kamari Emak meserkeun laptop. Terus teu gaduh modemna. Lajuna mah arek menta dipang meserkeun modem. He.. He..”

“Oh, baraha duit kitu hargana??”  tanyanya sedikit serius.

“Hargana Rp. 250.000.”

“Mahal amat..”

“Daripada nyieun.”

“Oh.. Nya geh ngges ngke beurang geus dohor datang bae ka imah.”

“Ok. Siap !!”

Aku menutup telpon. Siang itupun aku langsung mendatangi rumahnya bersama Husni Mubarok dan Syarif Hidayatullah, kawan-kawanku di pondok. Di sana nampak pamanku sedang berbincang dengan tetangganya, sambil memperhatikan ayam Kalkun miliknya. Kamipun berdua sedikit berbincang dan berhasil. Pamanku memberikan uangnya kepadaku. Horeeeee….  

Sekitar satu atau dua hari setelah itu, aku berangkat ke Rangkasbitung, tepatnya ke Toko Tiga Pendekar bersama Syarif  Hidayatullah, teman dekatku. Di sana kami bernegosiasi dan kami mendapat modem dengan harga yang sedikit lebih murah yakni Rp. 200.000 saja. Dibanding teman-temanku yang katanya ada yang sampai Rp. 250.000, padahal mereknya sama.

Setelah aku memiliki modem, aku bisa dengan leluasa berselancar di internet. Mencari berbagai informasi, referensi, tutorial, berita dan lain sebagainya. Bahkan setelah aku memiliki modem, aku banyak sekali menemukan hal baru yang mungkin belum banyak orang yang tau mengenai hal ini. Seperti cara membuat komputer berbicara, mengunci folder, membuat tampilan komputer menjadi 3D, membuat sinyal wifi dengan modem. Dan masih banyak lagi hal lainnya, dan aku masih mencari hal-hal yang bisa menambah pengetahuanku. Aku akan terus tiada henti meningkatkan pengetahuanku ini.

Oh ya, sekian mungkin cerita atau dongeng yang bisa aku bagikan buat kalian. Semoga ada sedikit manfaat yang bisa kita petik bersama.[]

Cikulur, 12 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, jika kita mencintai sesuatu, maka kejarlah ia tanpa mengenal lelah dan putus asa. Banyak kenikmatan dan kemanfaatan yang kelak akan kita dapatkan.


Profil Bebeng

Nama         : MATLUBI
Sapaan      : Bebeng Bengoeng
TTL            : Lebak, 24 Oktober 1996
Alamat       : Jln. Sampay-Cileles Km. 5 Sanding Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur
Kab. Lebak-Banten 42356
No. Hp        : 089667659860
E-Mail       : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook  : Matlubi
BB           : -
Twitter     : -
Blog         : -
Hobi        : Editing (video, photo), mancing ikan
Aktivitas    : Ketua OPPQ 2014-2015, Dewan Kerja Pramuka, Penyiar Radio Qi FM 107.07, QF Multimedia dan Kru Film Dokumenter Santri
Cita-cita    : Trainer Multimedia
Motto         : Hidup ini seni. Tanpa seni hidup takkan terasa.
Kesan    : Saat survival acara pramuka. Tepat di bendungan sungai yang  airnya cukup deras,  karena lelah telah melakukan perjalanan jauh, aku dan teman-teman cowok lainnya langsung nyebur ke air. Tetapi ternyata, dua temen cewek satu sangga denganku ikutan nyebur sambil gelagapan. Aku kira mereka bisa berenang, ternyata tidak. Akhirnya aku dan teman-teman cowok lainnya menolong yang tenggelam. Mereka kira sungainya nggak dalem mungkin. Makanya maen nyebur aja. Belajar renang ya, biar temen-temen nggak kelelep lagi.
Pesan    : Jadikan kenangan yang telah kita wujudkan bersama menjadi kenangan yang tak terlupakan.  
Karya    : Film Shalawat, Buku Renungan Santri: Esai-esai Seputar Problematika Remaja (Dkk, 2014), Photo Memahami.

(Dinukil dari Buku Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, 2015).