Menyusun Puzzle Masa Depan

ANTUM pasti sudah tau, yang namanya pondok pesantren itu salah satu tempat yang bisa dijadikan tempat belajar akan arti kehidupan. Suka, duka, kecewa dan yang lainnya akan terasa di sana. Nggak cuma pelajaran sekolah yang didapatkan, tapi di pondok, kami diajarkan apa yang nggak ada di sekolah-sekolah umum. Misalkan diajarkan untuk berbagi, hidup saling menolong dan sebagainya. Memang, di sekolah umum juga diajarkan, tapi perbedaannya adalah jika kita di pondok, maka kita akan langsung praktik dalam keseharian. Tapi itulah, yang kadang kala dianggap berat tapi mampu membangun kemandirian atau kedewasaan dalam diri seseorang. Bener banget, kalau pondok itu bisa diibaratkan penjara suci.

Aku masuk ke pondok karena keinginan sendiri. Pas pertama dateng ke pondok, aku masih punya semangat ‘45 karena nggak ada rasa tertekan. Tapi pas yang nganterin kakak, udah keluar gerbang pondok rasa sedih menjalar dalam hati. Bisa dibayangin dong, gimana nggak sedihnya selama 15 tahun nggak pernah pisah sama orang tua, tiba-tiba aku harus pisah?

Setelah hari itu, maka dimulailah hari baruku. Dengan teman baru, guru-guru baru dan pastinya lingkungan baru. Tapi al-hamdulillah, proses sosialisasinya begitu repot, ya, wajarlah soalnya kami berasal dari daerah yang berbeda, karakter yang berbeda, suku dan bahasa yang berbeda pula.

Aku dan teman-teman datang ke pondok ini dalam pribadi yang berbeda. Yang mempunyai tujuan masing-masing untuk masa depan yang lebih baik pastinya. Tanpa sanak saudara, kami di pondok ini bersatu menjadi keluarga dengan cobaan yang ada. Serasa senasib dan seperjuangan. Ketika punya masalah, kami menyelesaikan masalah itu bersama-sama. Walaupun saat ingin menyelesaikan satu masalah saja, di antara kami harus berbeda pendapat. Tapi ada juga yang berperan sebagai penengah dan dengan itu kami lalui masalah yang ada satu persatu dengan baik. Di situ aku dan temen-temen banyak belajar dan pastinya inilah satu hal pelajaran yang nggak akan pernah aku dapatkan di sekolah umum.

Cobaan datang silih berganti. Baik itu masalah teman, masalah sama kakak kelas, adik kelas dan masalah pribadi. Kami lalui semua itu bersama-sama dengan canda, tawa dan tangis. Belum lagi masalah fisik. Jujur aja, entah kenapa semenjak aku masuk pondok aku sering sakit-sakitan dan aku sadar itu cobaan buatku. Pas aku masih SMP, aku nggak pernah sakit sampe parah. Misalnya sampe satu bulan. Tapi di pondok aku ngerasain itu. Selama tiga tahun sekolah di SMP, aku nggak masuk ke sekolah cuma satu kali. Itu pun bukan karena sakit, tapi ada hal lain. Tapi di pondok bentar-bentar sakit dan sekali lagi aku sadar itu cobaan buatku. Sabar dan hidup meurih di pondok itu harus. Itu terjadi karena aktivitas di pondok yang sangat padat, dari pagi hingga pagi kembali.

Cobaan yang hampir membuat aku gugur di pondok, yaitu saat aku kelas satu SMA semester dua. Saat itu aku bener-bener ngerasa nggak betah di pondok. Aku kira nggak cuma aku, tapi juga sebagian dari temen-temenku. Malah sebagian dari mereka sudah ada yang gugur sebelum akhir. Beneran deh, saat kayak gitu tuh rumah kebayang terus di kepala. Apalagi saat aku ngeluh pengen pindah, kakak malah mengizinkan. Tapi ada hal yang memotivasi aku dan mampu mengurungkan niatku untuk pindah. Motivasinya yaitu: ‘‘Aku malu sama keinginan sendiri. Bukannya aku ke pondok karena keinginan sendiri kan?’’ Ya, karena hal yang mungkin dianggap sepele itulah aku mampu bertahan di pondok. Dan dari situ aku mulai menyibukkan diri dengan cara mengikuti beberapa ekskul. Misalkan bergabung di Pondok Baca Qi Falah, Website, PMR, Buletin, Triping Community dan ekskul lainnya.

Ya di sinilah, di pondok yang bisa dibilang dalam tahap perkembangan, Pondok Pesantren Qothrotul Falah, aku dan One Breath (teman seangkatan) berpijak. Di bawah naungan Qothrotul Falah lah kami mengumpulkan puzzle-puzzle masa depan yang terpecah untuk bersatu, agar aku dan teman-teman nantinya mampu menjadi  kejora kehidupan untuk masyarakat nantinya. Dan di pondok inilah aku dan santri lainnya dibimbing untuk menghadapi dunia luar. Dengan Triloginya yaitu disiplin tinggi, ukhuwah islamiyah dan berakhlakul karimah. Pondok akan membimbing santri agar mempunyai ketiga karakter itu dan jika ketiga hal itu sudah menjadi karakter setiap santri, maka yang lainnya akan mengikuti.

Buat temen-temen semua, thanks a lot deh, karena kalian udah membuat kenangan yang berarti dalam hidup ini. Kenangan yang akan dijadikan untuk cerminan di masa mendatang, kenangan yang kita goreskan bersama di Qothrotul Falah. Ya, itulah kenangan yang nggak akan pernah aku dan kalian lupakan.[]

Cikulur, 03 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, ujian yang kita terima di pondok ini adalah cara Allah mendewasakan kita. Hadapilah ujian itu dengan bijaksana dan penuh kesabaran, sehingga kita bisa menyusun puzzle-puzzle masa depan dengan gemilang.


Profil Robe’

Nama    : SITI ROBEAH
Sapaan    : Robe’
TTL     : Lebak, 08 Oktober 1997
Alamat     : Kp. Cisumur Ds. Margamulya 04/1 Kec. Cileles Kab. Lebak-Banten.
No. Hp     : 085777556733 / 08578070366
E-Mail     : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. /
Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook: Shity As-Sanusi
BB     : -     
Twitter : -
Blog     : www.shiticoretansantri.blogspot.com
Hobi     : Baca buku dan nulis
Aktivitas: Pondok Baca Qi Falah, Dewan Kerja Pramuka, Triping Community, Bulletin Qi Falah, PMR, www.qothrotulfalah.com, Pengurus OPPQ 2014-2015.
Cita-cita: Dosen, psikolog
Motto     : Ketika lahir menangis, ketika mati ditangisi
Kesan    : Selalu ada pelajaran dari setiap yang dilakukan. Dan itu baru aku   sadari setelah masuk gerbang Qothrotul Falah. Penderitaan hidup yang selama ini mengajarkan arti kehidupan.
Pesan     :Teruslah berusaha menjadi yang terbaik untuk orang-orang di sekelilingmu.

(Dinukil dari buku Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, 2015)