My Hero is Bibi Dapur

KITA sering denger kalimat my hero is my teacher. Pahlawanku adalah guruku. Tapi untuk kali ini kawan, yang aku katakan adalah my hero is Bibi Dapur. What? Bibi dapur? -_-.

Ya, semoga kalian juga menyadari itu kawan. Setiap hari di pesantren, kita makan tiga kali. Break fast (Waw.. kereeeeen), ya walaupun hanya dengan nasi dan tambahan bakwan, tapi bisa bikin kita kuat dan bertenaga buat belajar di sekolah dengan segala macam aktivitas. Sesudah shalat Dhuhur berjamaah, kita pasti langsung denger bel.  Teeeettt……. Tteeeettt… Perut yang keroncongan pun langsung bersorak gembira. Waktunya makan siang kawan! Makan seadanya tapi mengenyangkan. Itu tandanya berkah. Mau dengan tempe ala Ustadz Karim, atau dengan daging tanpa tulang alias tahu pun selalu bersyukur. Begitupun dengan jatah terakhir, yaitu makan sore. Nggak kalah nikmatnya.

Kebayang nggak sih, Bibi itu harus bangun dari jam 2.00 pagi cuma buat nyiapin sarapan para santri? Jam-jam segitu kita sih para santrinya masih nyenyak dalam tidur. Tapi Bibi udah siap dengan tungku, wajan, dan segala tetek-bengek peralatan memasaknya. Apalagi kalau bulan Ramadhan, Bibi harus bangun dari jam 01.00 dini hari. Dan itu dilakukan setiap hari. Itu baru untuk sarapan pagi lho kawan, belum lagi buat makan siang, makan sore, dan juga ditambah nyiapin makan buat para guru. Masak, masak, dan memasak.

Rasanya nggak tega untuk berani mencibir makanan dapur yang memang setiap harinya dengan tempe, tahu, dan sayur itu. Teradang juga l sate alias sayur terong. Apalagi kalau udah ngeliat betapa lelahnya Bibi ketika mengatur semuanya, keringat yang bercucuran, terlebih di usianya yang sudah renta. Namun semangatnya sungguh luar biasa untuk melayani ratusan santri. Sempet aku iseng-iseng di dapur nanya-nanya Bibi.

“Bi, emang nggak capek setiap hari masakin makan santri yang jumlahnya banyak banget? Kok Bibi nggak pernah ngeluh sih?” tanyaku.

Dengan tangan yang terus tertumpu pada pisau untuk memotong sayur-sayuran, Bibi dengan santai menjawab; “Bibi cuma ngarep barakah dari pondok ini, Neng.” Aku tersenyum.

“Santri-santri di sini udah serasa anak bibi, yang mesti Bibi sediain makan setiap hari, biar punya tenaga dalam setiap kegiatannya,” lanjut Bibi.

Oh Bibi… Betapa jasamu begitu besar bagi kami. Jasamu tiada taraaa…

Ya, bukan pondok namanya kalau nggak makan ala kadarnya. Belajar buat hidup sederhana, prihatin, dan selalu bersyukur. Walaupun terkadang ada rasa bosan dengan lauk-pauk yang seadanya itu. Nggak jarang santri bernyanyi yang liriknya kayak gini: “Wayahna tempe deui, tempe deui. Wayahna tahu deui, tahu deui”. Duh kawan, jangan neko-neko deh kalau lagi di pondok! Yang ada ya dimakan saja. Kata D’masiv mah, “Syukuri apa adanya, hidup adalah anugerah.”

Lagi pula wajar saja jika kita makan hanya dengan lauk-pauk seperti itu, wong kita bayaran bulanan saja hanya 375 ribu perbulan. Itu sudah termasuk biaya sekolah, listrik, komputer dan yang lainnya lho! Kalau dihitung-hitung untuk makan tiga kali sehari, wah itu udah sangat sulit mengaturnya. Dan kalau kita berfikir rasional, pasti akan nanya, uang segitu kok bisa sih nyukup ya? Ya sudahlah. yang penting kita bertenaga. Anggap aja masakan Bibi dapur itu masakan yang dimasakin oleh master chef yang dihidangkan di restoran ternama atau di hotel-hotel.

Banyak-banyak bilang makasih deh sama Bibi dapur yang udah setia masakin makanan buat kita. Kalau perlu bilang gini ke Bibi; “Ich danke ihnen bi”. Kira-kira bakal ngerti nggak ya Bibi? He..he..

Seandainya nggak ada Bibi dapur, bagaimana nasib perut ratusan santri? Contohnya nih, Bibi sakit sehari aja, udah pada galau deh santri karena nggak ada yang masakin. Makanya yuk kita do’ain Bibi dapur biar sehat selalu, semangat dalam memasak buat santri. Semoga keringat lelahnya ketika memasak menjadi saksi amal saleh untuk Bibi di akhirat kelak. Kita doakan juga, semoga Bibi dapur bisa berangkat haji atau umrah. Kabulkanlah doa kami, ya Allah!

Oh ya, nggak sedikit juga lho, alumni yang merindukan masakan Bibi dapur. Katanya; “I like tempe Bibi dapur”. Bibi dapur itu ibarat master chef-nya Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Semangat terus deh buat Bibi dapur! Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 15 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, belajarlah dari kesederhanaan. Syukurilah apa yang ada dalam kehidupan kita. Dan jangan lupakan atau menyepelekan akan jasa-jasa setiap orang yang udah membantu kita dalam hidup ini, siapapun dia.


(Dikutip dari buku Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, 2015)