Berawal dari Botak

Kata “botak” kalau di kalangan santri, itu berarti nggak lepas dari yang namanya hukuman level dua. Dan ini termasuk pengalaman pertama ane mempunyai kepala botak di pondok. Dulu, ketika usai Ujian Nasional (UN) MTs Qothrotul Falah, tiba-tiba ane dan temen ane yang perempuan dipanggil ke kantor Majelis Pembimbing Santri (MPS). Alasannya pada saat itu banyak kabar kalau ane pacaran di pondok sama temen perempuan ane itu. Sebut saja namanya Nelis. Padahal itu adalah masa lalu.

Memang benar, ane pernah menjalin hubungan sama Nelis, tapi itu ketika ane liburan dan hanya berlangsung satu minggu. Setelah itu nggak ada lagi hubungan spesial di antara kami berdua. Karena ane pikir pada saat itu, pacaran adalah satu hal yang menyenangkan, tapi justru sebaliknya memusingkan. Semuanya serba diatur. Ngobrol deket sama temen cewek yang lain langsung cemburu, dan yang lain-lainnya. Jadinya serba salah. Dengan temen jadi jauh cuma gara-gara lebih mementingkan pacar. Untung hanya pas liburan sekolah saja pacarannya. Tapi, yang namanya perbuatan pasti ada balasannya.

Ketika masuk sekolah, kami berdua dipanggil dan diinterogasi oleh pihak keamanan pondok. Dan alhasil ane akhirnya mendapat hukuman atas kesalahan yang kami lakukan dulu. Ane dibariskan di lapangan dan di hadapan seluruh santri. “Untungnya bukan cuma ane yang kena hukuman. Tapi temen ane yang terbukti pacaran juga kena hukuman. Ya, jadi ane nggak terlalu malu,” ane bicara sendiri di dalam hati.

Dan selama mejeng di lapangan, ane pun diguyur dengan air yang kotor. Tapi ane masih untung karena ane nggak dibotak. Kalau sampai dibotak, bisa lebih malu lagi. Season pertama ane bebas dari botak. Karena diganti dengan disiram air yang kotor dan baunya yang nggak karuan tadi. Dan masalah pacaran pun selesai. Ane menyadari itu adalah hal yang salah.

Tapi, ternyata godaan nggak sampai di situ saja. Menjelang liburan sekolah, ketika usai pembagian surat kelulusan, temen seperjuangan pada bikin rencana untuk merayakan kelulusan di Cikoromoy Pandeglang. Semuanya setuju walaupun tanpa sepengetahuan pengurus pondok. Karena kami pikir, ini akan kami lakukan di luar pondok dan sudah masuk waktu liburan pula. Tadinya, ane sedikit bimbang. Antara ikut apa nggak. Karena rumah ane dekat dengan pondok, jadi ane sedikit ragu. Tapi, tanpa sepengetahuan ane, temen-temen semuanya datang ke rumah untuk mengajak ane ke Cikoromoy. Ada rasa ingin menolak, tapi ane nggak enak hati. Dan akhirnya ane pun ikut dengan mereka.

Setelah sampai di sana, ane pikir cuma refreshing biasa awalnya. Ternyata malah sambil mencoret-coret baju. Untungnya saja ane nggak pakai baju sekolah, jadi ane nggak ikut-ikutan. Singkat cerita, liburan pun terlewatkan. Ane kembali ke pondok, karena ane sama temen-temen memang udah mutusin buat ngelanjutin sekolah di tempat yang sama, yaitu Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Dan ternyata pihak pondok mengetahui perbuatan kami selama liburan itu. Alhasil, setelah dapat dua hari di pondok, malam harinya kami langsung dipanggil lagi ke kantor MPS. Feeling ane udah yakin, pasti gara-gara acara curat-coret itu. Dan di malam itulah kami langsung divonis hukuman botak oleh pihak keamanan. Inilah season kesialan ane dibotak. Setelah sampai di kamar, temen-temen yang dulu dipanggil karena pacaran pun ramai nyorakin, bahkan ada yang bilang; “Selamat dari pacaran nggak dibotak, dapet lagi dari yang lainnya”. Ya, ane cuma diam. Nggak terlalu mendengar apa kata mereka.

Dan dari kesalahan inilah, ane mulai punya tekad untuk nggak bikin kesalahan lagi. Apalagi sampai bikin ane botak. Ane mulai mencoba merenung atas apa yang pernah ane lakukan dulu, setidaknya itu semua ane jadikan sebagai sebuah pelajaran berharga.

Semenjak kejadian itu, ane mulai aktif mengikuti kegiatan yang ada di pondok, dan ternyata itu lebih menyenangkan. Dari mulai marawis, menjadi penyiar Radio Qi FM 107.07, dan QF Multimedia. Dari keaktifan itu ternyata ane semakin banyak dikenal dan tanpa ane tahu kepala sekolah pun ikut memperhatikan perkembangan ane. Karena secara tiba-tiba kepala SMA Qothrotul Falah memanggil ane dan meminta ane untuk bergabung dalam forum diskusi yang beliau bimbing. Sekarang, forum itu terkenal dengan sebutan Triping Community. Dan di forum inilah ane mulai banyak mendapatkan pengetahuan dan meningkatkan semangat membaca.

Dari cerita ini ane ingin berpesan: Bangkitlah dari kesalahan dan mencoba untuk menjadi lebih baik lagi. Dan kisah ane ini semua berawal dari botak, kemudian Allah memberikan hidayah kepada ane. Bahwa apa yang ane lakukan di pondok ini berdampak pada diri ane sendiri. Wa Allah a’lam[]

Cikulur, 16 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, kita semua pernah melakukan kekeliruan. Bangkitlah dari kesalahan dan mencoba untuk menjadi lebih baik lagi. Kesalahan adalah awal kebaikan bagi yang menyadarinya.

Profil Fahmi

Nama       : Fahmi A. Salami
Sapaan    : Fahmi
TTL          : Lebak, 15 Januari1997
Alamat     : Desa Muncang Kopong 3/1 Kec. Cikulur Kab. Lebak-Banten
No. Hp     : 081384324925
E-Mail        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook    : Fahmi A Salami
BB        : -  
Twitter     : -
Blog        : -
Hobi        : Dengerin shalawat dan musik Islami
Aktivitas    : (Pernah) di Triping Community, Penyiar Radio Qi FM 107.07, Kru Film Dokumenter Santri, Dewan Kerja Pramuka, Pengurus OPPQ 2014-2015, Marawis
Cita-cita    : Menjadi raisul ma’had
Motto    : Laisa al-fata man qala hadza  abi # wa lakinna al-fata man qala  ha ana dza
Kesan        : Hal yang selalu  ana ingat saat pertama dibotak oleh Ketua MPS
Pesan        : Hukuman tanda teguran tuh
Karya        : Film Shalawat (2013).