Siaran ala Santri

“ASSALAMU’ALAIKUM wa rahmatullahi wa barakatuh. Apa kabar para sahabat Qi FM semua? Kembali lagi bersama saya Uyun di 107,7 Qi FM, radio komunitas bikin warga jadi cerdas, yang disiarkan langsung dari Lantai II Gedung MPS Pondok Pesantren Qothrotul Falah.”

Pasti antum semua masih bertanya-tanya, apaan sih maksudnya? Tapi, mungkin kalau buat santriawan-santriawati Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan masyarakat Cikulur udah nggak asing lagi dengan suara yang nyaring melontarkan kata-kata seperti itu. Itu pertanda para penyiar Radio Qi FM mulai mengudara menyapa para sahabatnya. Kami biasa menyapa para pendengar radio dengan sapaan Sahabat Qi FM. Nggak lain biar terasa lebih dekat.

al-Hamdulillah dan subhanallah banget, pondok yang aku tempati ini benar-benar banyak menyajikan berbagai macam pengalaman. Nggak cuma dituntut harus bisa ngaji, tapi kami juga benar-benar dibimbing untuk bisa mengambil manfaat dari seluruh kegiatan yang ada di pondok. Dan salah satu yang paling menarik minatku waktu itu, yaitu bergabung menjadi Crew Radio Qi FM. Menjadi penyiar radio, selain melatih diri buat lancar berbicara, aku juga melatih diri untuk menjadi penyiar yang sesungguhnya. Siapa tau aku menemukan bakatku di bidang ini.

Sudah tiga tahun lamanya, pondok kami bekerja sama dengan Search for Common Ground (SFCG) Indonesia untuk mendirian radio komunitas di pondok. Dari mulai training radio, sampai pembuatan film dokumenter pun para penyiar radio sudah mengalaminya. Karena itu salah satu program kerja SFCG.  Kakak-kakak fasilisator dari pihak sana yang banyak memberikan arahan dan pengalaman kepada kami, khususnya para penyiar.

Di Indonesia ini, hanya ada sepuluh pondok pesantren yang bekerjasama dengan SFCG, dan al-hamdulillah pondokku ini termasuk salah satunya. Sangat mensyukuri tentunya bisa termasuk ke dalam penyiar-penyiar kece ala santri. Selain kita bisa mengudara dengan nama samaran masing-masing, juga sambil dengerin musik, kita juga bisa belajar ulang lewat siaran itu. Karena para penyiar juga menyiapkan berbagai macam program siaran yang bermanfaat untuk para pendengar. Dari mulai acara KAKIKU (Kajian Kitab Kuning), Fiqih Educations, KASSIH (Kajian Sejarah Islami), OBRAL (Obrolan Malam), Seven Wonder, dan Salam Sapa.

Semua progaram itu udah dibagi waktunya, supaya nggak bentrok sama jadwal ngaji. Sengaja program itu dibuat supaya para penyiar bener-bener serius dalam penyampaiannya, sekalipun nyantai. Menurut kami, jarang banget ada yang siaran radio yang menyajikan tentang kajian kitab kuning dan inilah salah satu cara kami buat menarik pendengar. Selain bisa denger musik bareng, kita juga bisa belajar bareng. Apalagi radio komunitas yang satu ini adalah radio komunitas yang berada di tengah-tengah pesantren, yang sudah seharusnya menunjukkan ciri khas kepesantrenannya.

Biasanya nih, sebelum siaran dilangsungkan, penyiar suka mengkaji dulu apa yang akan mereka sampaikan. Aku pernah punya pengalaman, pas giliran aku siaran dan belum ada persiapan, alhasil pas ada yang nanya lewat SMS, aku dan patnerku kali itu nggak bisa jawab. Itu jelas kekeliruan yang nggak boleh terulang. Terus kalau buat curhat colongan, biasanya itu muncul pas jamnya OBRAL. Dengan kegiatan obral inilah kita jadi ngerasa deket sama sahabat Qi FM.

Bahkan pernah suatu hari ada salah satu sahabat Qi FM yang berkunjung langsung ke pondok, cuma mau ketemu para penyiar dan meminta nasihat tentang masalah pribadinya. Kebetulan pada saat itu ustadz dan ustadzah juga berperan sebagai penyiar. Beliau nggak kalah kece dan enerjiknya dalam bersiaran. Dan hasilnya itu, penggemar setia Qi FM datang berkunjung kemudian curhat tentang masalahnya.

Ustadz Nurul H. Maarif yang kebetulan saat itu menjadi penyiar memberikan saran dan nasihat untuknya. Sampai-sampai ia menangis dan berterima kasih kepada Radio Qi FM yang telah menyiarkan acara tersebut. Karena dengan hal itu ia bisa share dan memecahkan masalahnya. Berkah banget deh, hidup di pondok. Nggak cuma bisa belajar bertoleransi dari keragaman santrinya, tapi kita juga bisa belajar berbagi walaupun cuma lewat radio.

Inti dari cerita ini, segala sesuatu yang pernah aku alami di pondok ini nggak mungkin dialami oleh banyak orang. So, sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, yang telah mempertemukanku dengan segala pengalaman-pengalaman yang luar biasa unik di pondok ini. Sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang ingin kuceritatan, seperti sebagai Peace Leader, Triping.Com, Qi Falah, dll. Tapi sudahlah, lain waktu saja. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 16 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, pengalaman adalah guru terbaik. Perbanyaklah pengalaman, sehingga orang lainpun bisa belajar dari kita. Sampaikanlah kebaikan pada sebanyak-banyak orang, termasuk lewat udara.