Sate Idul Adha

“ALLAHU AKBAR... Allahu akbar... Allahu akbar. Laa ilaha illa Allah Allahu akbar. Allahu akbar wa lillahi al-hamd”.

Gema takbir yang mengalun indah mulai terdengar ramai di berbagai penjuru wilayah umat muslim. Termasuk di pondokku. Membuat seluruh santri, termasuk aku, merasakan kerinduan tingkat dewa akan keluarga di rumah. Ya, sudah menjadi rutinitas pondok jika menjelang Idul Adha, seluruh santri tidak diliburkan, tetapi kami merayakan momen itu bersama keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Bagiku itu tidak menjadi masalah, walaupun memang awalnya itu membuatku meneteskan air mata ketika pertama kali merayakan lebaran jauh dari keluarga. Kini aku mulai terbiasa dan tentu aku akan merindukan momen itu.

Waktu aku masih santri baru, aku kaget saat mendengar pengumuman bahwa ketika lebaran Idul Adha seluruh santri tidak diliburkan atau tidak dipulangkan. Mungkin, bagi santri lama itu sudah menjadi hal yang biasa. Tapi bagi kami, terutama aku yang masih dibilang santri baru, belum terbiasa dengan hal ini. Dan aku harus mencoba mengikuti rutinitas ini.

Dulu aku sempat diledek sama teman yang lain. Karena diantara mereka, aku mungkin rumahnya yang paling dekat. Di Koncang Sumurbandung. Jarak + satu kilo meter dari pondok. Walaupun memang ada juga  yang deket, seperti  Nita, Uroh, Susi, Fitriyah, dll. Saat itu aku menangis, karena aku rindu dengan sanak keluargaku di rumah, apalagi saat momen lebaran.

“Kamu kenapa, Des?” tanya salah satu temanku.  

“Aku sedih kenapa lebaran Idul Adha ini kita nggak dipulangkan?” jawabku.

“Aneh kamu mah Des. Padahal kamu rumahnya deket. Bisa ketemu setiap hari. Sedangkan aku? Aku jauh di kota Brebes Jawa Tengah sana. Tapi aku biasa saja, walaupun aku juga merasakan hal yang sama seperti kamu,” ujar temanku. Namanya Nurhayati, kami biasa memanggilnya Mbak, karena dia berasal dari Brebes Jawa Tengah.

“Iya sih Mbak, tapi beda rasanya kalau nggak kumpul sama keluarga. Paling ketemu cuma sebentar,” lanjutku.

“Iya, tapi kan di sini masih ada teman-teman yang lain. Anggap saja teman-teman barumu ini sebagai saudaramu,” bujuknya.

“Iya, makasih Mbak,” ucapku.

Akupun mulai tersenyum. Dan dari situ kami mulai akrab.

Sebelum Idul Adha tiba, biasanya pengurus (mudabbir/rah) selalu mangadakan kegiatan perlombaan untuk mengisi kekosongan agar santri tidak merasa jenuh dan tidak ada rasa pengen pulang. Biasanya kegiatan itu dilakukan selama dua sampai tiga hari, dan perlombaannya semacam pawai, gema takbir, lomba merias kamar (hujroh), cerdas-cermat, rangking 1, lomba masak sate, dan masih banyak lagi.

Sebelum perayaan Idul Adha, dua hari sebelumnya para santri selalu disibukkan dengan kegiatan memperindah kamar (hujroh) masing-masing. Mereka berlomba bagaimana caranya kamarnya didesain serapih dan semenarik mungkin. Kami meriasnya dengan tema bermacam-macam. Terkadang kasur pun kami tata menjadi sofa, meja, dan sebagainya. Suasana di kamar pasti ramai. Ada yang sedang menggunting kertas untuk tempelan-tempelan. Ada yang membuat lampu-lampuan, dan sebagainya. Berbagai pertanyaan adik-adik saat menghias kamar pun turut meramaikan suasana.

“Ukhti, ini dipasang di mana? Uhkti, ini gimana? Uhkti, kalau yang ini gini ajah yah?”

Capek memang, soalnya ngerias hujroh itu nggak cukup satu hari. Dan sore harinya, ba’da Ashar kami persiapan untuk mengikuti acara malam. Karena malam hari itu akan diadakan pawai dan dilanjut dengan gema takbir.

“Teng… kontreng… kontreng… teng … teng… dug… dug…  Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..”

Itulah saat-saat kami latihan sebelum pentas. Biasanya kami menggunakan alat-alat babe (barang bekas), seperti botol, ember, galon, sendok, dan lain sebagainya. Ba’da shalat, seluruh santri dikumpulkan di lapangan untuk acara pawai dengan membawa alat-alat babe masing-masing. Santri diikuti oleh para asatidz dan asatidzah. Pawai menyusuri jalan mengelilingi kampung dengan melantunkan takbir dan diiringi dengan musik dan ditandai dengan obor yang menyala. Suasana jalan pun terlihat ramai dengan lalu lalang kendaraan yang mulai memadati jalanan. Sesekali bunyi klakson terdengar memberikan aba-aba agar kami berjalan sedikit menyisih. Setelah beberapa jauh kami berjalan meninggalkan pondok, kami pun kembali memasuki pondok.

Setelah datang kembali di pondok, acara dilanjutkan dengan perlombaan gema takbir. Saat acara dimulai, dari setiap hujroh tampil ke atas pentas dengan silih berganti. Dan setelah larut malam, acara pun selaesai. Waktunya untuk pergi kepulau kapuk atau tidur malam. Tetapi berbeda dengan santri putra. Mereka tetap mengalunkan gema takbirnya sampai menjelang subuh, tanpa lelah.

Menjelang pagi santri disibukkan dengan persiapan untuk shalat Ied. Semuanya shalat di Majelis Putra Qothrotul Falah. Tak hanya keluarga pondok yang malaksanakan shalat, tetapi masyarakat luar pun yang rumahnya dekat, ikut bergabung bersama kami. Ba’da shalat Ied, seperti biasa kami melakukan halal bi halal atau bersalaman dan saling bermaafan.

“Aku sudah bermaafan dengan keluargaku di pondok ini, tapi aku belum bermaafan dengan keluargaku di rumah,” ucapku dalam hati saat itu.

Air mata pun langsung menetes entah kenapa. Mungkin karena kerinduanku terhadap keluarga.

Biasanya lebaran Idul Adha atau yang dikenal dengan Hari Qurban, banyak orang yang berqurban pada hari itu. Dan seperti di pondok ini, selalu ada hewan yang diqurbankan. Baik itu sapi, kerbau, atau pun kambing. Setelah para santri dialihkan ke lapangan bagian belakang, hewan-hewan qurbanpun siap untuk disembelih. Daging itu dibagikan kesetiap hujroh dan dimasaknya juga per-hujroh.

“Ayo kita bakar satenya!” ajak salah satu teteh mudabbiroh. Separuhnya membuat tungku dan menyalakan apinya, dan separuhnya lagi menyiapkan tusukan untuk dagingnya. Saat itu kami semuanya kerja. Acara nyate bareng itu dilakukan per-hujroh. Tak hanya hujroh aku yang bekerja. Hujroh  yang lain juga sibuk dengan sate-satenya. Setelah nyate, rasanya tubuhku penuh dengan keringat dan bau asap. Saat mau makan, aku baru sadar, ternyata aku tidak suka dengn daging kambing. Dan lagi-lagi rasa tidak enak kepada mudabbiroh dan rasa penasaranku akan bagaimana rasanya daging kambingpun muncul. Kami pun makan bersama beralaskan daun pisang. Rasanya seperti makan liwet, dan aku pun sedikit mencicipi sate kambing itu.

“Bukannya Desi nggak suka daging kambing ya,” tanya salah satu temanku

“Iya memang, tapi aku mau mencobanya,” jawabku.

“Kalau tidak bisa, nanti sakit perut lho!”

“Apa iya?” timpalku.

“Iya Des”

“Semoga saja tidak apa- apa,” aku mengakhiri perbincangan itu.

Setelah acara makan-makan selesai, tak lupa para santri membereskan semuanya dan merapihkannya kembali. Dan karena sudah masuk waktu Dhuhur, kami pun langsung menunaikan shalat duhur berjamaah, dan setelah itu kami istirahat sejenak.

Di sore harinya, aku merasa perutku bermasalah. Sakit perut. Mungkin efek daging kambing yang aku makan tadi siang. Aku bolak-balik kamar mandi sampai badanku merasa 5 L (lemah, letih, lesu, lemas, dan lunglai). Aku tak bisa melakukan aktivitas apapun. Badanku lemas tak bertenaga. Aku hanya istirahat di hujroh, sedangkan yang lain mengikuti acara perlombaan selanjutnya. Malam harinya aku dijemput untuk berobat dan diizinkan untuk pulang dan istirahat di rumah. Setelahnya, badanku terasa agak pulih. Aku kembali ke pondok.

Ok teman, itu adalah cerita pertama kali aku liburan di pondok dan nyate bareng di pondok. Setiap liburan Idul Adha pasti akan diadakan nyate bareng. Aku tidak sedih lagi. Sekarang aku sudah terbiasa. Tak ada yang berbeda. Tapi mungkin ada karena ditahun ini aku yang mengelola kegiatannya. Karena posisiku bersama teman-temanku kini sebagai pengurus. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 16 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, nggak seharusnya kalau kita jauh dari orang tua lantas kita merasa sedih. Masih banyak orang yang ada di dekat kita, yang bisa membuat kita bahagia. Jadikanlah pengalaman sebagai pembelajaran.

Profil Desi

Nama         : DESI SAFITRI
Sapaan        : Desi
TTL        : Lebak, 20 Desember 1996
Alamat        : Kp. Koncang RT/RW 07/02 Des. Sumurbandung
Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten.
No. HP.        : 085310028679
E-Mail        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook    : Desi Safitry
BB        : -
Twitter        : -
Blog        : -
Hobi        : Banyak
Aktivitas    : PMR, Dewan Kerja Pramuka dan Pengurus OPPQ 2014-2015
Cita-cita    : Analis Kesehatan
Motto        : Hidup itu harus seperti air, yang mengalir bermanfaat bagi kehidupan.
Kesan        : Saat teman ane, Nufus nakut-nakutin ane dengan hewan yang bernama cacing. Jadi begini ceritanya, setelah selesai kapling hari Jum’at, ia manggil-manggil. Ane kira serius. Eh ternyata dia cuma mau mamerin cacing yang dia dapetin entah dari mana dan dia coba ngelemparin cacing itu ke arah ane. Sontak ane lari terbirit-birit saking jijiknya, sampe ke hamam pun dia kejar ternyata. Nggak cuma itu, dia ternyata masukin cacingnya ke deterjen yang mau ane pake buat nyuci. Karena refleks, ane lempar tuh deterjen. Bener-bener gila tuh anak. Nggak akan ane lupain tuh kejadian menggelikan ini.
Pesan        : Jangan pernah lupakan sahabat. Baik-buruknya mereka adalah yang pernah memberikan pengalaman, pembelajaran menuju kedewasaan.