Cobaan di Pondok Pesantren

SETIAP manusia pasti akan mendapat cobaan dari Allah SWT. Melalui apapun dan dalam bentuk apapun cobaan itu, seperti yang telah dijelaskan dalam Qs. al-Baqarah ayat 155: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Apapun cobaan itu, kita harus menghadapinya dengan sabar. Mungkin Allah memberikan cobaan itu kepada kita, semata-mata karena Allah perhatian dan sayang kepada kita. Saya ambil kata-kata ini dari Ustadz Nurul H. Maarif (Kepala SMA Qothrotul Falah) ketika suatu saat menjadi pembina upacara. Dan Allah pun bisa melihat dan menilai, apakah kita bisa sabar dan kuat dalam menghadapi cobaan yang diberikan-Nya kepada kita.

Suatu hari saya pernah mempunyai masalah di pesantren, bahkan bisa dibilang sangat sering saya mengalaminya. Saya anggap itu cobaan dari Allah SWT. Saya berupaya menghadapi cobaan itu dengan sabar. Misalnya, saya mendapat penyakit kulit sebulan lamanya. Sampai-sampai tangan saya tidak bisa saya gerakkan dengan leluasa seperti biasanya. Terasa sakit dan perih. Untuk sekedar makan pun saya kesulitan jika harus menggunakan tangan.

Bukan hanya saya yang terkena penyakit itu, namun sebagian  santri pernah terkena penyakit itu. Kalau kebanyakan orang bilang, ini adalah penyakit pondok. Dan kalau di pesantren penyakit ini dinamakan penyakit kuple. He..he.. Hampir setiap pagi saya mengambil air hangat ke dapur untuk mengobati tangan saya. Dan tak lupa juga memakai daun Kecapi. Dan al-hamdulillah saya bisa sembuh. Tapi sayangnya ada beberapa santri yang pindah hanya gara-gara hal itu. Sebenarnya itu adalah cobaan yang Allah berikan kepada kita.

Seharusnya, kita bisa bersabar dan kuat dalam mengahadapi setiap cobaan di pondok. Apapun itu bentuknya. Baik penyakit, kanker (kantong kering), rindu keluarga dan yang lainnya. Karena Allah menyukai orang-orang yang sabar. Hal ini sudah dijelaskan dalam Qs. al-Baqarah ayat 153: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Di pesantren itu banyak sekali cobaan, karena di pesantren kita belajar mandiri dan bersabar dalam setiap keadaan yang kita alami. Untuk menjadi orang hebat, itu sudah pasti harus melewati berbagai rintangan dan cobaan. Semakin besar cobaan yang bisa kita hadapi dengan baik, insya Allah semakin tinggi pula derajat kita di hadapan-Nya. Kalau kita malah kalah dengan cobaan, tidak berusaha bangkit dari kegagalan, maka kita tidak akan menjadi pemenang yang hakiki.

Memang tidak mudah menghadapi cobaan. Tapi jika kita ingin mencapai tujuan kita, ibarat kapal yang ingin menyebrangi lautan, pasti ia akan diterjang banyak ombak besar dan ombak itulah sesungguhnya yang akan membawa kapal itu sampai tujuan. Jadi kesimpulannya, cobaan itu akan membawa kita mencapai tujuan kita, jika kita bisa melaluinya dengan baik dan sabar.

Menurut saya, masalah lain di pesantren itu adalah teman sekelas atau teman sekamar, karena teman itu adalah orang yang paling dekat dengan kita. Begitupun dengan masalah. Ia selalu hadir dalam hari-hari kita. Dulu saya pernah punya niatan untuk pindah dan rencana itu saya konsultasikan dengan orang tua saya, tapi justru Ibu dan Bapak malah melarang niatan itu.

“Belajar sabar nak, jika kamu emang bener-bener mau nurut sama Ibu dan Bapakmu,” kata Ibu.

Kata-kata Ibu bener-bener mengubah keinginan saya itu. Cobaan pondok itu belum seberapa. Kalau di pondok saja saya sudah menyerah dengan cobaan-Nya, apalagi nanti setelah saya terjun ke masyarakat? Saya ubah keinginan saya untuk keluar dari pondok, dengan melampiaskannya mengikuti beberapa organisasi di pondok ini. al-Hamdulillah, hal ini sedikit membuat saya lupa dengan keinginan konyol saya untuk pindah itu. Bergelut di dunia organisasi OPPQ cukup membuat saya betah di pondok. Selain menambah pengalaman dalam berorganisasi, saya juga mendapat pengalaman dalam mengurus adik-adik kelas saya, mengontrol mereka dalam segala kegiatan. Tentunya saya tidak sendiri, tapi ditemani teman-teman seperjuangan saya yang lainnya. Kami diamanahkan untuk mengontrol jama’ah shalat para anggota semuanya, membimbing mereka dalam tadarus al-Qur’an dan mengawasi mereka ketika dicurigai ingin kabur.

Pengawasan itu, tentu menuntut diri saya untuk berbuat demikian pula. Karena saya nggak mau dibilang kaburo maqtan ‘inda Allah an taqulu ma la taf’alun (murka Allah besar, jika menyuruh tapi tidak melakukan). Tantangan yang luar biasa memang, ketika kita menyuruh kita pun harus lebih awal melakukannya. Dan itu pengalaman yang belum tentu orang lain bisa dapatkan dengan cuma-cuma. Dari organisasi inilah saya sekarang memiliki keinginan untuk membuat sebuah pondok pesantren di kampung saya kelak. Dan mudah-mudahan saya bisa menanamkan ilmu-ilmu yang saya dapat di pondok saya ini. Selain mengaji, kedisiplinan juga perlu kita terapkan di manapun kita tinggal. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 23 Januari 2015

Moral of the story:
Sahabat, ujian ataupun cobaan yang Allah kasih kepada diri kita, itu adalah bentuk bahwa Allah peduli terhadap kita. Ingat Allah tidak akan menguji kita melebihi batas dan kemampuan kita. Jadi, bersabarlah kawan!


Profil Husni

Nama         : HUSNI MUBAROK
Sapaan        : Husni
TTL        : Lebak, 25 September 1996
Alamat        : Kp. Jaraja Des. Anggaran Kec. Cikulur Kab. Lebak-Banten
No. HP.    : 087773534419
E-Mail        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook    : Husni Albar
BB        : -
Twitter        : -
Blog        : -
Hobi        : Renang dan ngaji
Cita-cita    : Menjadi kiai (Mudir Pondok)
Aktivitas    : Pengurus OPPQ 2014-2015 dan Dewan Kerja Pramuka
Motto        : Jika selalu benar, maka kita tidak akan tau mana yang salah.
Kesan    : Kesan yang paling mengharukan itu pas ane sama temen-temen putera dibotak bareng sekelas. Karena kita solider sama temen, jadi ketika satu salah ya semua salah.
Pesan    : Jadilah orang yang disiplin, karena itu adalah awal kesuksesan kita!