Bukan Tempat Pembuangan Anak

PERTAMA kali aku mendengar tentang pesantren, rasanya aku tidak mau sekolah di sana. Kenapa? Karena banyak sekali orang yang bilang kalau sekolah di pesantren itu sangat menyeramkan. Ada yang bilang karena ketat, banyak hukuman dan yang lainnya.  Sehingga kata pesantren  itu sering disebut juga dengan nama Penjara Suci.

Mendengar kata penjara saja sudah membuat aku mengurungkan niatku untuk sekolah di pesantren. Tapi keluargaku sangat menginginkan aku sekolah di pesantren yang tidak jauh dari rumahku, yaitu Pondok Pesantren Qothrotul Falah (QF). Di situ aku mulai bingung harus memilih untuk melanjutkan sekolah di mana. Dengan hati yang tidak rela untuk sekolah di pesantren, akhirnya aku memaksakan diri untuk mengikuti kata-kata orang tuaku sekolah di QF.

Singkat cerita, setelah waktunya masuk pondok tiba, aku berdiam diri di kamar rumahku, karena rasanya tidak sanggup untuk melangkahkan kaki ke pondok. Dengan wajah ditekuk, aku paksakan untuk pergi ke pondok. Dan setelah sampai di pondok, aku bertemu dengan teman-teman SMP-ku. Aku melihat mereka kayaknya sudah siap untuk tinggal di pondok. Dengan melihat teman-temanku, aku berfikir, temanku saja bisa, kenapa aku tidak? Setelah mengurus barang-barang yang akan aku bawa ke pondok, aku merasa ingin kembali ke rumah, karena pertama masuk pondok saja udah kayak gini, tidak nyaman, gimana ke depannya?

Saat itu aku belum punya lemari, kasur, dan seragam. Sengaja tidak dibelikan oleh orang tuaku, karena alasannya takut aku tidak betah. Sayang sama barang-barang yang udah dibeli. Aku sambil nangis berjanji tidak akan pindah asalkan segera dibelikan barang-barang yang aku butuhkan. Akhirnya orang tuaku langsung pergi ke pasar untuk membeli keperluanku di pondok saat itu juga. Besoknya barang-barang itu diantarkan ke pondok. Di situ aku senang sekali sudah punya sendiri, tidak usah numpang sama teman lagi. Sudah dapat setengah bulan, aku merasa punya masalah sama teman di situ. Aku mulai tidak betah di pondok. Tapi al-hamdulillah, semuanya bisa terlewati dengan suka duka, hingga akhirnya aku kini bisa sampai Kelas XII SMA.

Selama tinggal di pondok, banyak hal yang aku dapatkan. Dan ternyata hidup di pondok itu sangat berharga bagi kita. Tidak sama dengan omongan orang lain yang aku denger sebelum mondok. Ternyata hidup di pondok itu berwarna, banyak mengajarkan kita akan kesabaran, kemandirian, dan kebersamaan. Di pondok aku mendapat pelajaran yang sangat berharga. Yang tadinya tidak tahu, setelah aku masuk pondok, aku jadi lebih tahu banyak tentang kesederhanaan.

Selama aku di pondok, aku juga mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman. Di pondok banyak permasalahan yang aku hadapi. Tapi al-hamdulillah, aku bisa menghadapi masalah itu dengan baik. Kalau dipikir-pikir, banyak untungnya aku sekolah di pondok. Jika aku sekolah di luar, mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini.

Aku merasakan pahit, manis, bahagia dan sedih hidup di pondok. Tapi semua itu terasa biasa saja, karena aku memiliki banyak teman yang selalu menemaniku. Tanpa mereka, mungkin aku tidak akan ada di sini sampai sekarang. Dan berkat dorongan dari keluarga juga, aku bisa bertahan di pondok ini. Ternyata hidup di pondok itu sangatlah enak dan bisa menjauhkan kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak kebayang jika aku sekolah di luar, mungkin aku sama halnya dengan remaja-remaja yang tidak terjaga akhlaknya di luar sana. Setidaknya kalau di pondok insya Allah yang namanya shalat lima waktu itu pasti dijalankan. Jangankan shalat lima waktu, yang sunnah saja diamalkan. Kalau sekolah di luar, jangankan shalat sunnah, yang fardhunya saja mungkin sering dilewatkan.

Jadi, aku sangat merasa bersyukur dan beruntung mengikuti keinginan orang tua, karena orang tua ingin anaknya menjadi anak yang baik, salehah dan sukses. Sekarang tidak ada kata-kata menyesal bagiku untuk sekolah di pondok. Orang-orang yang sekolah di pesantren itu orang-orang pilihan Allah. Jangan pernah berfikir kalau sekolah di pesantren itu sekolah pembuangan anak. Itu sangat salah sekali! Yang ada, sekolah di pesantren itu menjadikan kita tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan juga memiliki kepribadian yang baik.[]

Cikulur, 13 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, orang tua senantiasa menginginkan anaknya menjadi anak yang membanggakan. Ya pinter, ya saleh atau salehah. Bersyukurlah jika mereka berinisiatif menyekolahkan kita di pondok, karena memang pondoklah tempat terbaik untuk mendidik kader-kader terbaik.


Profil N’cuszz

Nama        : SUSILAWATI
Sapaan        : N’cuszz
TTL         : Lebak, 14 November 1996
Alamat     : Kp. Koncang Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur Kab. Lebak-Banten
No. Hp     : 085883384158
E-Mail     : -
Facebook     : Suzi she n’cuszz
BB         :
Twitter     :
Blog         :
Hobi         : Main bola volly
Aktivitas    : Dewan Kerja Pramuka, Pengurus OPPQ 2014-2015 dan PMR
Cita-cita     : Pengusaha sukses
Motto         : Berusaha dan bersabar
Kesan         : Banyak deh yang udah ane alami di pondok ini. Yang paling berkesan sih pas lagi ikut ulangan bahasa, eh.. tiba-tiba dipanggil ke kantor MPS sama Ustadz Turmudzi. Ane dimarahin habis-habisan dan ternyata diam-diam temen-temen ane udah bersekongkol nyiram ane dari belakang pake air comberan plus tepung terigu. Ane lupa kalau hari itu tuh pas hari ulang tahun ane. He..he..
Pesan     : Buatlah kedua orang tua kita menangis karena kesuksesan kita kawan, bukan karena kegagalan kita!