Dari Anggota Sampai Ketua

Friend, sebelum aku ceritain pengalamanku, aku mau ngejelasin secara singkat dulu nih tentang Pondok Baca Qi Falah (selanjutnya aku singat PBQF ya) atau perpustakaannya Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Biar semua temen-temen pada tau tentangnya. PBQF didirikan pada 28 Desember 2008. Perpustakaan ini sekarang banyak sekali mengalami perubahan dari sebelumnya. Baik dari segi gedungnya, bukunya, dan juga kegiatan-kegiatannya. Perpustakaan ini sekarang terlihat lebih hidup.

Awal cerita, ketika aku duduk di Kelas X di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, banyak sekali ekstrakurikuler (kegitan tambahan) yang ditawarkan di pondok ini. Aku pun merasa sangat senang ketika banyak sekali pilihan kegiatan sampingan. Perlu diketahui sama temen-temen, aku merasa cukup sedih juga sih. Sebenernya aku pingin mengikuti semua eksrakurikuler, tapi karna ada peraturan agar setiap siswa hanya mengambil dua kegiatan biar tidak bentrok dengan kegiatan yang lainnya, maka aku harus memilih dua saja. Dan aku pun menjatuhkan pilihanku untuk masuk dan bergabung di ektrakurikuler Pondok Baca Qi Falah. Dimulai dari situlah aku mengenal lebih dalam dan mendapat wawasan (pengetahuan) mengenai cara berorganisasi yang baik.

Oh ya teman, awal ketika ingin bergabung dengan kepengurusan PBQF ternyata nggak mudah loh! Karna ada penyeleksian yang ketat. Awalnya sih, ketika aku daftar untuk menjadi pengurus, aku sempat khawatir karna takut tidak diterima. Apalagi banyak sekali yang mendaftar menjadi pengurus. Mungkin bisa dibilang aku memang bernasib bagus. Namun, pada akhirnya akupun terpilih menjadi pengurus. Aku merasa bangga karna aku bisa masuk menjadi pengurus dan bisa bergabung dengan yang lainnya. Dimulai dari situlah aku memulai pengalaman hidup baruku dalam kepengurusan perpustakaan. Aku masih ingat ketika aku bersama teman-temanku yang lain, sekitar dua puluh orang.

Kita semua memulai berorganisasi dengan dibimbing oleh Ust. Nurul H. Ma’arif selaku pembina kami. Pada masa itulah bisa dibilang masa-masa yang paling wooow! Karna aku merasa sangat bersemangat sekali bersama teman-temanku yang lain. Sama halnya dengan eskul-eskul yang lainnya, kami selalu mengadakan perkumpulan pengurus satu minggu sekali. Tepatnya di hari Jum’at dengan agenda seperti biasanya, yaitu bersih-bersih, evaluasi/rapat, dan sorenya kita mengadakan beberapa kegiatan wajib seperti bedah buku, cerdas-cermat, nobar alias nonton bareng, dll.

Perlu diketahui juga nih, meskipun Jum’at adalah hari libur, tetapi pada hari itu aku nggak menganggapnya libur, karna aku mengisinya dengan berbagai macam kegiatan. Ya, terkadang dari temen-temenku ada saja yang mengejekku dengan berkata: “Sok sibuk banget sih kamu, Man!” Aku menganggap omongan itu biasa saja. Dan aku jadikan penyemangat.

Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang aku peroleh dari mengikuti kegiatan estrakurikuler ini, diantaranya: aku bisa berjumpa dengan para penulis terkenal seperti Isma Kazee (penulis novel pesantren Ja’a Jutek dan Jerawat Santri, Yudi Efendi (penulis Thank You Problem), Edi (penulis 47 Museum Jakarta), dan banyak lagi. Terkadang aku dan teman-teman nggak percaya ketika kami kedatangan orang-orang hebat itu. Ada pepatah; “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”. Tetapi kita selama menjadi pengurus selalu saja didatangi oleh para tamu yang membawa ilmu untuk diajarkan pada kami. Baik tamu penulis, tokoh agama, motivator, aktivis maupun yang lainnya. Baik yang lulusan dalam negeri maupun luar negeri. Kami pun merasa bangga sekali.

Tak terasa waktu terus berjalan. Aku jalani kegiatan ini setiap hari. Bahkan, bisa dibilang aku bersama dua temanku yang lain (Siti Robeah dan Fitri Aryanti) menjadi pengurus paling tua, karna kami sudah menjalani kepenguruasan ini  selama kurang lebih dua tahun lamanya. Bahkan yang tadinya dulu aku hanya anggota, sekarang menjadi Ketua Pondok Baca Qi Falah. Dan sangat kurasakan beban yang aku emban sebagai ketua. Berbeda dengan biasanya. Yang tadinya aku diperintah, sekarang aku memerintah.

Dan tak lupa pula, aku tidak hanya memerintah, tapi aku juga membantu anggota perpus yang lainnya untuk mengerjakan tugas-tugas kepengurusan. Dari sinilah aku merasa lebih banyak mendapat pengalaman. Baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Salah satu pengalaman yang menyenangkan aku dapat merasakan bagaimana kentalnya tali kekeluargaan antara aku dan pengurus yang lain. Kebersamaan, bahkan kekompakan kita semua. Apalagi ketika kita sedang melakukan kegiatan-kegiatan. Juga bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, yang disukai oleh para pengurus yang lainnya.

Nah, buat temen-temen, mungkin hanya sampai di sini aja nih ceritaku.  Mungkin di lain waktu temen-temen bisa baca lagi tentang pengalaman-pengalamanku yang menarik lainnya. Dan aku harap temen-temen selalu semangat dan lebih giat lagi menjalankan aktivitas apapun.[]

Cikulur, 13 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, hidup ini bagaikan roda yang terus berputar. Kadang kita di bawah, kadang di atas. Ketika di bawah, carilah pengalaman sebanyak-banyaknya sebagai persiapan ketika kelak kita di atas. Ketika di atas, jangan lupa bahwa kita pernah di bawah.

Profil DJ ME

Nama         : M.E. Sulaeman
Sapaan        : DJ ME
TTL        : Jakarta, 15 Oktober 1996
Alamat        : Kp. Sarian Ds. Pasirgintung Kec. Cikulur Kab. Lebak-Banten 42356
No. HP.    : -
E-Mail        : -
Facebook    : Muhammad Eman Sulaeman
BB        : -
Twitter        : -
Blog        : -
Hobi        : Baca buku dan futsal
Aktivitas    : Aktivis Pondok Baca Qi Falah, QF Multimedia, Kru Film Dokumenter Santri, Penyiar Radio Qi FM 107.07, Peace Leader Qothrotul Falah, Dewan Kerja Pramuka, pengurus OPPQ 2014-2015.
Cita-cita    : Dosen
Motto        : Succes is a journey, not a destination
Kesan        : Hal yang paling berkesan ketika jatuh dari motor bersama Ust. Ahmad Turmudzi, saat hendak ke Badur Gunung Kencana. Suka senyum-senyum sendiri kalau melihat goresan bek as jatuh di motor Ust. Turmudzi. He..he..
Pesan        : Jadikanlah diri kita sebagai manusia yang bermanfaat, baik buat diri sendiri maupun buat orang lain.
Karya        : Film Shalawat (2013), buku Renungan Santri: Esai-esai seputar Problematika Remaja (Dkk, 2014).