Pondokku, Qothrotul Falah

1 Juli 2012, tepatnya hari Ahad, adalah awal mula aku masuk Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Aku melangkahkan kaki dengan perasaan gelisah tak menentu. Rasa-rasanya deg-degan dan campur aduk.

“Benar enggak sih, aku harus meninggalkan keluarga selama tiga tahun dan menjalankan hidup serba mandiri?” ucapku dalam hati.

Semua ini keinginanku. Aku harus ingat dengan tekad awalku. Aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku. Jadi, aku harus menjalankan semuanya dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sabar. Semua ini kan keinginanku. Semudah itukah aku membatalkannya?

Hitungan jam tinggal beberapa menit lagi mendekati. Aku harus meninggalkan rumah. Rasa sedih pasti ada karena meninggalkan keluarga tercinta. Dalam hatiku berkata: “Ya Allah, aku harus bisa menjalani hidupku tanpa keluargaku di sini. Aku pasti bisa! Dan harus betah. Bismillah”.

Hari minggu pukul 01:30, aku pun berangkat menuju Qothrotul Falah. Keberangkatanku diiringi dengan kesedihan keluargaku. Mungkin mereka tidak tega melepaskanku. Isakan tangis pun terjadi pada saat itu. Ketika aku mulai berpamitan, tangisan pun semakin menjadi-jadi. Ketika melihat nenek menangis, rasanya tidak tega. Tapi harus gimana lagi? Aku harus pergi untuk menuntut ilmu demi cita- citaku.

Sepanjang jalan aku terus menangis. Sampai-sampai pamanku berkata begini: “Atuh udah Neng, jangan nangis aja. Udah kayak mau pergi jauh saja”.

Uh, nggak ngertiin banget sih? Ya, yang namanya cewek, perasaannya lebih halus. Cepat tersentuh. Akhirnya, aku pun sampai di depan pintu gerbang Qothrotul Falah. Aku melihat-lihat suasana sekitarku. Penuh sekali dengan orang yang tak aku kenali satu persatunya. Dan menurutku, semuanya serba aneh. Banyak banget orang di sini. Ada  yang baru turun dari mobilnya dan santri baru yang lainnya pun terus berdatangan. Aku pun turun dari kendaraanku dan aku langsung disambut oleh para panitia. Kami pun berkenalan. Kemudian kami diminta untuk tanda tangan terlebih dahulu untuk absensi. Mereka berseragam. Kompak berpakaian batik. Sangat sopan dan ramah tamah.

Setelah selesai dari situ, aku dibawa ke suatu tempat oleh kakak kelasku yaitu ruangan pengetesan santri. Jadi, sebelum memasuki tahap yang selanjutnya, aku harus melewati pengetesan terlebih dahulu. Baik berupa tes tulisan dan juga tes lisan. Nggak lupa aku juga dites baca al-Qur’an. Selesai pengetesan, aku dibawa ke atas atau ke kobong untuk membereskan barang-barang bawaanku. Baju-bajuku dimasukkan ke dalam lemari. Pada saat itu aku tidak sendiri. Aku dibantu oleh kakak kelasku, yaitu Teh Yeni. Orangnya sangat cantik dan baik.

Setelah selesai membereskan baju-baju, aku turun untuk bertemu pamanku. Dialah yang mengantarkan aku masuk ke dalam pondok itu, karena saat itu orang tuaku tidak mengantarkanku. Aku ma’lumi itu, sebab kebaradaan keluarga sangat jauh jaraknya. Memakan banyak waktu untuk ke pondok. Mereka tinggal di Jakarta.  Sedangkan aku tinggal di kampung bersama nenek dan bibiku. Aku melihat teman-temanku yang lain. Mereka ke sini dengan orang tua lengkap. Sedangkan aku, hanya ditemani seorang paman. Tapi tak apalah. Tanpa mereka pun aku bisa tiba di pondok ini dengan selamat.

Matahari pun menyinari seluruh alam raya ini. Kusambut pagiku dengan semua suasana baru. Mulai dari lingkungan, orang-orang sekitarku dan yang lainnya. Hari itu hari pertamaku tinggal di QF. Kegiatan pertama adalah perkenalan santri baru atau yang sering disebut MABIS (Masa Bimbingan Santri). Kegiatan MABIS berlangsung tiga hari berturut-turut. Kegitan ini khusus untuk anak-anak baru. Sebagai kegiatan penutup, diselenggarakanlah perkemahan untuk menyambut anak baru.

Aktivitas pun akhirnya berjalan seperti biasanya. Program-program pondok pun diaktifkan kembali. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Kalau ditelaah, jadwalnya sangat padat. Tapi kalau sudah dijalankan terasa biasa-biasa saja. Mungkin untuk anak baru masih ada toleransi. Jadi masih bisa menikmati bagaimana kehidupan di pondok, beradaptasi dulu dengan lingkungan sekitar dan mengenali berbagai macam kegitannya.

Di pondok ini ada yang disebut mudabbir. Merekalah yang ikut mengurus santri dalam kesehariannya. Nama organisasinya Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ). Kalau di sekolahan luar disebut OSIS. Sangat berbeda banget deh, budaya pondak dengan umum. Sebulan setelah keberadaanku di pondok, seluruh santri mungkin sudah terbiasa dengan suasana pondok dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mulai keseharian di pondok, kegiatan KBMnya, diniyahnya, dan juga yang lainnya.

Di pondok ini diadakan pengajian Diniyah, yaitu pengajian kitab kuning pada pukul 14:00-15:00. Aneh juga sih pertamanya. Soalnya baru mengalami hal semacam ini. Apa yang akan diajarkan pada saat jam-jam seperti itu? Ternyata  yang diajarkan adalah kitab kuning. Waktu itu aku belum tahu kitab kuning itu apa. Tapi sekarang aku tau. Ternyata kitab kuning adalah kitab yang isinya tulisan-tulisan Arab dengan hurup gundul dan kitabnya/kertasnya berwarana kuning. Benar-benar aku tidak paham gimana cara ngajinya. Tapi syukurlah, ustadz di sini mengerti keadaan santrinya. Kita diajarkan cara-cara menyoret kitab yang benar. Sedikit-demi sedikit aku pun bisa, meskipun belum sepenuhnya.

Ada yang berbeda lagi dengan QF, yaitu masalah KBM. Mungkin berbeda banget dengan sekolahanku waktu SMP dulu. Mulai dari berangkat ke sekolahnya saja sudah berbeda jauh. Dulu, waktu SMP kalau mau pergi sekolah santai-santai saja. Terserah mau berangkat jam berapa. Yang penting sampai ke sekolahan. Lain halnya di sini. Di pondok ini ditanamkan jiwa disiplin tinggi dan menjaga kerapihan. Jadi, seluruh santri wajib berangakat sekolah atau turun dari kobongnya masing- masing sesuai waktu yang telah ditentukan. Misalnya pukul 06:45 santri wajib turun untuk memasuki kelasnya masing-masing dan mengikuti doa bersama.

Masalah seragam sekolah sangat diperhatikan. Harus lengkap dengan atribut-atribut yang diwajibkan. Santri memakai ID card, dasi, logo QF, name tag dan lain sebagainya. Santri wajib mengikuti peraturan-peraturan di pondok ini dan menanamkan jiwa pondok, yakni Trilogi Qothrotul Falah (Ukhuwah Islamiyah, Disiplin Tinggi, dan Berakhlak Mulia). Kita wajib mematuhi dan mengamalkannya dalam diri kita.

Banyak sekali kenangan dan pengalaman. Banyak sekali yang tak mungkin terlupakan selama aku tinggal di pondok tercinta. Masa-masa jadi anggota, teman- teman baru, masa-masa menjadi CABA (calon Bantara), merasakan kepedihan bersama-sama ketika menajadi Bantara, bergabung di OPPQ, dan juga yang lainnya. Luar biasa penuh warna-warni kehidupan.

Itulah friend! Kehidupan di pondok itu tidak sekejam atau seperih yang orang-orang bilang. Banyak sekali pengalaman, inspirasi dan kejutan yang tak terduga. Jangan sekali-sekali mengatakan hidup di pondok itu begini salah begitu salah. Kalau kata Ustadz Nurul H. Ma’arif sih; “Hidup itu perlu aturan. Dengan aturan, hidup kita akan sukses dan terarah”.[]

Cikulur, 10 Februari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, sungguh berat rasanya meninggalkan keluarga yang sangat kita cintai beberapa tahun lamanya. Namun untuk tujuan mencari pengetahuan, hal itu haruslah kita lakukan. Insya Allah, kebahagiaan akan kita dapati kelak.

Profil Titi

Nama         : TITI SAFITRI
Sapaan        : Titi
TTL        : Lebak, 20 Oktober 1996
Alamat        : Kp. Cikalahang Des. Pasirgintung Kec. Cikulur Kab. Lebak-Banten 42356
No. Hp        : 085772104450
E-Mail        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook    : Titi Shafitry
BB        : -
Twitter        : @titi_lastchild
Blog        : -
Hobi        : Baca buku dan traveling
Aktivitas    : Pengurus OPPQ 2014-2015 dan Dewan Kerja Pramuka.
Cita-cita    : Dokter dan menjadi pemilik restoran
Motto        : Succes is a journey, not a destinations
Kesan        : Yang paling berkesan selama di pondok tercinta ini adalah ketika tidur malam. Pada saat itu seluruh santri tidur nyenyak, khususnya saya dan teman sekamar. Lagi enak-enaknya tidur, nggak tahunya ada yang nyemprot air ke dalam kamar melalui fentilasi jendela. Tidak salah lagi, semua ini kerjaaan bulis malam. Mau marah nggak enak, karena posisinya tengah malam. Bisa repot jadinya kalau teriak-teriak bisa bangunin sekamar. Positifnya, mungkin mereka sedang membangunkan santri yang ingin shalat tahajjud.
Pesan        : Life firstly from dream, if we think we can, so we can.