Rutinitas Berpahala

Oleh: Uyun Rika Uyuni*

PENASARAN dengan judul cerita yang aku tulis nggak? Mangga dibaca dulu. ?

Tiga tahun aku menjadi penghuni penjara suci ini. Ya, penjara suci itu adalah Pondok Pesantren Qothrotul Falah tercinta. Pengalaman yang luar biasa memang. Lulus dari sekolah umum menengah pertama lalu lanjut ke boarding school atau ma’had. Tapi, itu murni keinginanku untuk lanjut sekolah ke pondok ini. Bukan karena aku ahli dalam mengaji, tapi justru di sini aku ingin belajar mengaji sekaligus sekolah, biar balance ilmunya. Aamiin!

Yang namanya pondok, itu pasti nggak lepas dengan ngaji, disiplin, belajar juga jama’ah shalat. Itu yang semakin menarik minatku untuk masuk ke sana. Karena jujur, kalau di rumah aku hanya mengaji jika sudah menjelang maghrib saja. Itupun kalau aku nggak males keluar rumah. Tapi di sini aku membutuhkan tenaga ekstra untuk melawan rasa malas ketika menjelang waktu-waktu mengaji. Karena itu memang sudah menjadi rutinitas atau bahkan menjadi tradisi di pondok manapun.

Aku sadar, kapasitas otakku dalam mengaji belumlah seberapa dibanding teman-temanku yang lain. Tapi, justru itulah yang mendorongku untuk terus mengikuti rutinitas apapun yang ada di pondok, selama hal itu bisa meningkatkan kualitas diriku dalam mengaji. Selama aku merasakan dunia pendidikan mulai dari SD sampai SMP, baru di pondok ini ada yang namanya mengaji al-Qur’an 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai.

Mungkin di beberapa sekolah umum atau pesantren sudah ada yang menerapkan rutinitas ini. Dewan asatidz on time mengelola kegiatan ini. Mungkin itulah cara pihak pondok mengelola pahala Allah. Aku menikmati susana seperti itu, walaupun awalnya sempat heran dengan kegitan mengaji sebelum KBM itu. Tapi itu bukanlah rutinitas yang baru di sini, ternyata itu sudah ada semenjak awal boarding ini berdiri. Jika dihitung-hitung, pahalanya mungkin luar biasa banyaknya. Sudah berali-kali pula khatam al-Qur’an.

Aku fikir tadinya hanya setelah shalat lima waktu saja yang diwajibkan untuk mengaji al-Qur’an. Nyatanya masih ada lagi variasi lain dalam memanfaatkan waktu untuk mengaji al-Qur’an. Misalnya, ya, yang seperti aku sebutkan tadi. Pagi-pagi setelah sarapan dan persiapan untuk berangkat sekolah, biasanya kita do’a bareng di depan kelas (itu diikuti seluruh santri) dan setelah itu suara bel pun berbunyi. Tetttttt…teettt….. Itu tanda siswa harus masuk kelas masing-masing dan ustadz-ustadzah pun mulai memantau dan mengomandoi kami untuk mengaji di kelas.  “Kepada seluruh siswa-siswi dimohon untuk segera membuka al-Qur’annya dan membaca Surah al-Kahf ayat  10.” Itulah kalimat pembuka sebagai instruksi untuk kami sebelum mengaji. Dan itu kami jalankan setiap pagi.

Aku fikir cuma itu keunikan yang ada di pondok ini dalam mengelola pahala Allah. Ternyata aku salah. Justru pondokku ini masih menyajikan hal unik lagi yang masih bersangkutan dengan pembacaan al-Qur’an, yaitu wajib mengkhatamkan al-Qur’an ketia Ramadhan. Kadang dilombakan. Yang terbanyak mendapat hadiah ala kadarnya dari pondok atau Abi (pengasuh pondok).

Aku dan temen-temen sering namain kegiatan itu dengan “tiket liburan”. Karena memang benar adanya, itu adalah salah satu persyaratan santri ketika akan pulang untuk berlibur lebaran. Memang benar-benar unik, walaupun berbentuk sebuah persyaratan, tapi ide itu justru bermanfaat buat kami. Karena selain kami punya target untuk khatam, kami juga mampu mengisi waktu Ramadhan kami dengan hal positif, yaitu tadarus al-Qur’an. Dan aku berharap ketika aku lulus nanti tradisi ini masih bisa aku pertahankan. Aku sadar, ketika berada di rumah, jangankan untuk tadarus setelah shalat lima waktu atau di saat Ramadhan, untuk shalat yang wajib saja masih berleha-leha. Aneh memang. He..he..

Punya kebanggan tersendiri memang, saat aku mampu mengakhatamkan al-Qur’an dalam waktu dua puluh hari di pondok ketika Ramadhan. Mungkin rutinitas seperti ini akan membuat aku rindu terhadap suasana pondok, ketika aku lulus nanti.[]

Cikulur, 15 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, terkadang hal-hal yang kita tidak suka mengerjakannya justru itu lebih baik buat kita. Menabunglah sebanyak-banyaknya untuk kepentingan akhirat kita selagi masih ada usia, kendati sepintas apa yang kita lakukan terkesan membosankan.

*Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Penerima Beasiswa di IAIN SMH Banten.