Pengalaman yang Tak Terlupakan

Oleh: Siti Aisyah

SAAT pertama kalinya aku masuk ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah (QF), aku mulai menyadari bahwa aku harus sekolah dan berpisah dari kedua orang tuaku. Di pondok, untuk harus menjadi lebih baik.

Saat datang ke QF pada 14 Juli 2009, aku terlambat satu minggu dibandingkan mereka yang lebih awal datang. Hal ini mengakibatkan aku tidak mengikuti kegiatan MABIS (Masa Bimbingan Santri). Syukurnya aku diberi kesempatan oleh panitia MABIS untuk mengikuti penutupan MABIS dengan berbagai kegiatan. Salah satunya perkenalan mudabir/roh atau pengurus, pembagian piagam dan lain-lain.

Selesai kegiatan penutupan Mabis, aku duduk-duduk di bangku tiba-tiba, ada seseorang yang menghampiriku ternyata dia sekelas denganku. Dia bernama Miswah (sekarang sudah tidak lagi di pesantren yang sama). Kami biasa memanggilnya Wawah. Wawah adalah teman pertama yang aku temui pada saat di pesantren. MABISpun berakhir dan mulailah masa-masa PERKAJUM (Perkemahan Kamis-Jum’at) yang masih termasuk bagian dari kegiatan MABIS. Selama PERKAJUM, banyak sekali kegiatan yang dilakukan untuk memeriahkannya. Dimulai upacara pembukan dan diakhiri pembagian hadiah.

Seiring waktu berjalan, PERKAJUM pun berlalu meski sangat singkat. Namun, meninggalkan kenangan yang mendalam. Pahit manis kita jalani pada saat-saat kami bersama. Kesenangan dan kesedihan kami arungi bersama. Saat aku pertama kali masuk ke kelas, aku duduk bareng dengan Nur Ardiyanti atau yang biasa dipanggil Yanti. Dia adalah gadis yang cantik dan pintar.

Setelah beberapa lama bersatu dalam satu kelas, aku dan teman-teman pun mulai saling nyaman. Saking akrab dan asyiknya kami saat bersama-sama, kami berpikir  untuk  membuat nama angkatan, yaitu SANEK (Santri Nekat). Kami memilih nama itu, karena kami rasa bahwa kami adalah santri yang benar-benar nekat. Bisa dibilang santri nakal. Selama dua tahun lebih kami menjalin persahabatan dengan angkatan SANEK. Lalu kami sepakat  mengganti nama angkatan itu dengan nama THE GENRIST, yang menurut kami berarti Generasi Santri Star.

Tetapi di saat semangat aku untuk berubah begitu menggelora, ada hal yang membuatku down, yang tak pernah aku kira. Bapakku meninggal dunia pada saat aku hendak melaksanakan Ujian Nasional (UN). Bapakku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Memang benar apa kata pepatah; “Penyesalan hanya datang di akhir”. Aku mulai menyadari bahwa aku belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Tapi aku cukup tenang, karena perginya Bapakku dengan syahid. Menurutku itu adalah hal terindah.

Dengan bergulirnya waktu, aku sedikit demi sedikit mencoba mengikhlaskan kepergian Bapakku yang sangat aku sayangi. Setelah beberapa waktu Bapakku tiada, aku mulai semangat lagi untuk belajar menghadapi UN. Pada 21 April, kami memulai detik-detik pelasanaan UN. Kami terus semangat menjalankan kegiatan ini. Dan ketika aku dinyatakan lulus, tidak ada pilihan lain untuk tidak sekolah di pondok ini. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMA Qothrotul Falah lagi. Dan tidak hanya aku, namun ada kawan-kawan MTs ku lainnya, seperti Nining dan Elis.

Pada saat kami masuk ke SMA Qothrotul Falah, kami berpikir untuk masuk program tahfidz di bawah bimbingan Ustadzah Ratu Mawaddah dan Ustadzah Nurul Amanah. Ustadzah Ratu Mawadah adalah isteri dari anak Pimpinan Pesantren yaitu Kiai Aang Abdurohman, S.E. dan Ustadzah Nurul Amanah adalah isteri salah satu ustadz kami juga, yaitu Ustadz Sofyan Sadeli.

Pada saat aku mengenal teman-temanku yang baru, aku mulai merasa ada perbedaan antara MTs dan SMA. Namun itu semua kita jalani dengan senang hati dan penuh suka duka. Perjalananku di pesantren adalah hal yang tak mungkin bisa aku lupakan, karena begitu memberikan kesan yang mendalam dalam hatiku. Untuk teman-temanku One Breath, thanks for everything. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 17 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, tidak mudah menjalani kehidupan yang baru, jauh dari orang tua. Namun dengan kebersamaan, semua menjadi indah dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.