Pengalaman Menjadi Pengurus

Oleh: Anita Firdaus

PONDOK Pesantren Qothrotul Falah. Nah, di sinilah aku mendapat wawasan yang lebih luas serta perubahan yang membuatku menjadi lebih dewasa. Ini sebuah pegalaman berharga. Awal pertama aku masuk pondok ini, pada Juni 2012.

Awalnya, aku sangat asing dengan dunia pondok pesantren. Tapi lambat laun aku mulai terbiasa dan akhirnya sampai sekarang masih tetap berada di sini. Tak terasa dan tak dirasa-rasa, dua tahun lebih pun sudah kujalani. Kulalui pahit-manis saat bersama teman. Saat tak ada makanan, saat tak ada minum, air keran pun jadi solusinya. Dan al-hamdulillah, kami sehat dan terjaga.

Pondok ini, pondok yang mempunyai aturan. Dan aturan itupun dijalankan oleh pengurus atau disebut juga Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ). Tak terasa lamanya menjadi anggota, kami pun akhirnya merasakan bagaimana pahit-manisnya menjadi pengurus. Pengangkatan kepengurusan tersebut bertepatan pada Februari 2014. Tepatnya, ketika aku masih duduk di Kelas XI  semester akhir. Kami semua diamanahi untuk membimbing santri dan menjadi tangan kanan asatidz wal asatidzah. al-Hamdulillah, aku dipercayai menjadi pengurus Bagian Kesehatan. Walaupun awalnya aku tidak suka di bagian ini, namun aku berpikir positif. Mungkin inilah yang terbaik untukku.

Menegur, mendidik, dan memberi contoh yang baik, terhadap adik-adik kelas merupakan kewajiban kami sebagai pengurus. Ketika ada masalah apapun itu, kami pun sering terlibat di dalamnya. Tak terasa satu tahun berakhir sudah. Manis pahit kami lalui sebagai pengurus dan kepengurusan tersebut digantikan oleh adik-adik kelas kami. Sebelum kami digantikan, terlebih dahulu ada pembacaan Laporan Pertanggungjawaban ( LPJ ). Laporan ini dipertanyajawabkan. Dan itu adalah  hasil selama kami menjabat menjadi pengurus; apakah kami baik atau buruk menjalankan amanah ini.

Pengalaman menjadi seorang pengurus adalah hal yang sangat aku syukuri. Karena dari situlah aku banyak belajar, bahwa kepedulian terhadap saudara-saudara kita itu sangat penting. Kita nggak boleh pandang bulu dalam menyayangi mereka. Dan semua yang aku lakukan selama ini, aku lakukan dengan harapan semoga Allah mempermudah jalanku dalam menuntut ilmu.[]

Cikulur, 03 Januari 2015

Moral of the story:
Sahabat, kepedulian terhadap saudara-saudara kita itu sangat penting. Kita nggak boleh pandang bulu dalam menyayangi mereka. Harapannya, Allah mempermudah segala urusan kita.