Tahfidznya Qothrotul Falah

Oleh: Neng Elis N.F

SAYA berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Bukan keturunan pejabat. Bukan pula putri kiai. Saya berasal dari kalangan pedagang. Ibu saya setiap pagi bolak-balik ke pasar membeli kebutuhan para kaum ibu untuk keluarga mereka. al-Hamdulillah,  walaupun sedikit, kebutuhan saya cukup terpenuhi.

Saya berasal dari Desa Cibangkur Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak. Saya menempuh pendidikan kanak-kanak di TK Taman Jaya. Beranjak dewasa, tanpa disangka, Ibu dan Bapak menyekolahkan saya ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yang tak jauh dari desa saya. Saya melanjutkan sekolah di MTs  Qothrotul Falah sekaligus melanjutkan ke SMA Qothrotul Falah. Berawal dari sini, saya merakit pendidikan yang menurut saya gemilang.

Selama tiga tahun di MTs Qothrotul Falah, banyak pengalaman yang saya daspati dari mulai peringkat kelas, Marawis, Qosidah, cerdas-cermat, dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. al-Hamdulilah semua itu saya lewati dengan baik, berkat motivasi dan dorongan para dewan guru, kawan-kawan seperjuangan dan keluarga. Tanpa mereka, apa jadinya saya ini.

Ketika memasuki SMA, kegiatan yang saya jalani sama dengan yang saya jalani sewaktu di MTs. Hanya saja, yang membedakan sekarang adalah saya mengikuti program Tahfidz al-Qur’an atau hafalan al-Qur’an. Saya menyadari, mengikuti program itu bukan karena saya mahir mengaji, melainkan karena saya ingin lebih mengasah otak saya dalam hal menghafal. Ada yang bilang, kalau kita sering menghafal, maka insya Allah kita akan terbiasa, sehingga mudah mengingat sesuatu.

Pada tahun 2013, saya mulai termotivasi untuk menghafal al-Qur’an, karena ia merupakan wahyu sekaligus firman Allah. Dan al-Qur’an merupakan sumber dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Dan ternyata, menghafal al-Qur’an itu bukanlah pekerjaan yang mudah, karena harus memenuhi beberapa persyaratan utama dan butuh tips-tips tertentu. Juga, banyak sekali yang harus dipahami. Soal tips-tipsnya, nih saya kasih sebagian:

1.    Membaca al-Qur’an dengan tartil.
2.    Memahami setiap kata dalam al-Qur’an.
3.    Tanamkan motivasi.
4.    Jadikan al-Qur’an sebagai sahabat terbaik.
5.    Renungkan mukzijat ilmiah yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Nah, itulah tips-tips menghafal al-Qur’an. Jika dijalani dengan baik, insya Allah kita semua akan lebih mudah menghafalkan ribuan ayat-ayatnya. Semoga saja, saya dan kita semua bisa menjaganya dan semoga Allah meridhai. Amiin!

Untuk urusan tahfidz di pondok ini, saya dibina oleh guru saya, yaitu Ustadzah Ratu Mawaddah. Beliau adalah salah satu menantu Mudir al-Ma’had, tepatnya isteri Kiai Aang Abdurohman, S.E.  Beliau sendiri menghafal al-Qur’an di Cidahu Pandeglang. Kepada beliau kami menyetorkan hafalan. Selain beliau, ada juga guru kami yang mengajari hafalan, yaitu Ustadzah Nurul Amanah, isterinya Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Sofyan Sadeli. Mereka berdualah yang tanpa lelah dan bosan terus menggembleng kami menghafal al-Qur’an.

Kami tahu dari Hadis Rasulullah, bahwa membaca satu huruf al-Qur’an mengandung sepuluh pahala. Sementara di dalam al-Qur’an terdiri dari 322.604 huruf. Jika dikalikan 10 pahala/kebaikan, maka kita akan mendapatkan 32.260.040 kebaikan. Subhanallah, sungguh luar biasa Allah memberi kesempatan kepada kita untuk meraih kebaikan sebanyak-banyaknya. Kalo tidak sekarang, kapan lagi? Itu yang menjadi tantangan saya dulu ketika pertama kali ingin masuk program tahfidz. Untuk itu, sekarang saya hanya ingin memfokuskan diri menghafal. Mudah-mudahan Allah meridhai. Amiin!

Banyak pengalaman dan banyak motivasi, juga banyak pahala yang saya dapat di pondok ini. Saya berharap, suatu saat nanti ketika saya sudah menjadi alumni, bukan hanya ada program tahfidz, tapi jika perlu kampuspun harus sudah berdiri di sini. Amiin!?[]
    
Cikulur, 09 Februari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, menghafal ayat-ayat al-Qur’an itu membutuhkan segala kekuatan: kesabaran, ketekunan, keuletan, tahan godaan dan segala macamnya. Tanpanya, ayat-ayat itu akan hilang tanpa bekas.