Jaros.. Oh.. Jaros..

Oleh: Anastasya Shofia*

PANGGIL aku manusia bell, karena setiap aktivitas yang aku jalani selalu bergantung pada benda yang berbunyi nyaring ini. Jujur, awalnya aku tidak menyukai julukanku sebagai manusia bell. Namun, tinggal di pondok pesantren memaksaku untuk menyukainya.

Bagaimana mungkin hidup bisa bergantung pada benda yang bunyinya memekakan telinga ini? Namun, itulah kenyataannya. Ajaib...!

Setiap waktu sang jaros selalu mengeluarkan bunyinya, sebagai tanda kegiatan rutinitas pondok akan segera dimulai. Dari bangun tidur, sampe tidur lagi sekitar 14x dalam sehari termasuk 3x waktu makan  jaros dibunyikan sesuai waktu yang telah ditentukan.

Awal masuk pondok, aku cuma bisa cengo bin melongo pas denger bunyi jaros yang terkesan unik dan bunyinya sedikit maksa supaya pendengar segera menunaikan perintahnya. Tapi sekarang, gendang telinga udah terbiasa. Kadang suka deg-degan juga kalo jaros udah dibunyiin tepat saat posisi lagi nyantai. Sering kewalahan sendiri dan buru-buru ngejalanin perintahnya.

Misal: pukul 13:45 jaros pasti dibunyikan tanda kajian kitab kuning akan segera dimulai. Hey! Jam segini paling enak selonjoran di atas kasur sambil merem menikmati tidur siang. Jangan harap telat sedikit hitungan detik turun dari kamar (apalagi kamar kami terletak di lantai dua) bisa lolos dari hukuman mudabbiroh bagian ta’lim. Soalnya mereka pasti udah standby buat ngawasin a’dho’. Nggak disiplin? Langsung hukum bending.

Kenapa harus repot-repot nurutin perintah jaros? Jawabannya sederhana! Karena di samping itu ada kegiatan yang masing-masing kegiatannya udah dipegang sama mudabbiroh masing-masing qismu. Kalo nggak ngelaksanain perintahnya, siap-siap aja deh. Karena, maydan selalu menanti buat dipake lari keliling-keliling. Meskipun  mudabbiroh ‘ amn dan ta’lim yang paling berperan di sini, tapi beruntung karena pondok ini nggak sampe ngutus ‘amn dan ta’lim  buat pasang tampang horror sampe ngacung-ngacungin tongkat dan mukulin tangan pakek hanger kayak cerita yang sering beredar di pondok pesantren modern lain. Beruntung, karena tradisi semacam ini tidak dipertahankan dan tidak diperkenankan di sini. Toh dengan hukuman lari dan bending aja santri udah banyak yang ngeluh.

Aku merasa bangga kepada diri sendiri, ketika aku telah berhasil “menaklukan” si jaros ini. Maksudnya menaklukkan itu, setelah tinggal beberpa lama di pondok, aku telah terbiasa dengan bunyi jaros dan selalu sigap untuk segera melaksanakan perintahnya. Kehadiran jaros ini membuat aku jadi berpikir, mungkin tanpa kehadirannya kehidupan pondok pesantren tidak akan tertata. Jadi, jaros ini bisa dikatakan sebagai jantungnya pondok. Eh bener nggak? Kadang aku mikir juga. Misal kalo listrik mati, otomatis jaros ini ikutan mati alias nggak bisa dihidupin. Lalu yang akan terjadi adalah kegiatan di pondok nggak bisa termanage dengan baik. Bisa jadi santri nggak bisa makan, karena waktu makan kita ditandai dengan bunyi jaros.

Karena teriakan jaros ini aku bisa metik banyak pelajaran, terutama dalam hal kedisiplinan yang menjadi salah satu poin dari Trilogi Pondok Pesantren Qothrotul Falah sendiri, yaitu akhlakul karimah, ukhuwah islamiyah dan disiplin tinggi. Ketika awal masuk pondok, aku sempet heran kenapa perintah agama yang sunnah malah diwajibkan di pondok ini seperti shalat sunah rawatib, shalat hajat, shalat dhuha, dan satu lagi shalat tahajjud.

Pernah suatu ketika aku absen shalat tahajjud, karena bablas tidur dan cuek dengan si jaros yang jam empat pagi udah teriak-teriak. Eh ketika dibangunkan, aku kena hukuman qismu ta’lim. Aku langsung disuruh lari bawa-bawa kasur mengelilingi maydan. Setelah kejadian itu, aku kapok nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Sekarang karena udah terbiasa dengan menjalankan sunnah-sunnah-Nya, ketika terlewatkan satu waktu saja rasanya menyesal sekali. Dengan menjalankan sunnah-sunnah-Nya, di sinilah aku paham, banyak nilai plus yang bisa diambil.

Hidup tiga tahun di sini adalah waktu yang singkat. Ketika masa kontrak nanti telah habis dan pulang ke rumah, pasti akan rindu dengan jaros yang selalu perhatian. Dengan bunyinya dia mengingatkan kami akan segala kegiatan bernilai positif yang harus segera dilaksanakan. Begitu penting ternyata peran jaros dalam kehidupan pesantren.[]

Moral of the story:  
Sahabat, untuk menuju kematangan diri, kita membutuhkan bimbingan dan arahan, termasuk dari jaros. Namun, ketika kematangan itu sudah muncul, tentu kemandirian harus dikedepankan tanpa harus bergantung pada yang lainnya.  

*) Alumni Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten dan Mahasiswi IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten