Satu Nafas, Satu Tujuan

Oleh: Fahruroji

TANGGAL 10 Juli 2012, adalah pertama aku masuk ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Rasanya berat sekali meninggalkan kedua orang tua. Tadinya, segala apapun diurus oleh orang tua. Tapi kini aku dituntut hidup mandiri. Segala apapun aku lakukan sendiri. Mulai dari nyuci dan menjemur baju, nyuci piring, dan sebagainya. Itu aku lakukan serba sendiri. Tak ada campur tangan orang lain.

Walaupun semua itu dilakukan sendiri, tetap tidak ada rasa capek yang sangat, karena di sini banyak sekali teman. Mereka mampu menghilangkan kejenuhanku di pondok. Menurutku, teman itu segalanya dibandingkan pacar. Mempunyai pacar malah bikin pusing. Hafalan nggak ke target. Belajar jadi berkurang. Bisa-bisa nilaiku menurun lagi kalau punya pacar. He..He.. Mendingan aku pacaran sama kitab kuning, al-Qur’an, buku, dan lain-lain, yang menurutku baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Hal yang paling mengesankan di pondok ini, adalah saat aku bergabung di One Breath. Itu nama angkatan kelasku. Nama itu dibuat bukan berarti kita membuat geng di pondok, melainkan hanya untuk menumbuhkan rasa kebersamaan kami antara teman-teman sekelas. Rasanya nyaman sekali bisa mengenal banyak teman dari berbagai daerah. Ada yang dari Berbes, Bekasi, Lampung, juga Tangerang.

Susah senang kami selalu bersama. Pahit-manis kami rasakan bersama. Kenapa aku katakana kayak gitu? Karena di saat kami menjadi Calon Bantara (CABA), kami dilatih untuk selalu menjaga kekompakan, apalagi jika kita sudah menjadi pengurus nantinya. Jika tidak ada kekompakan dari pengurusnya, maka semua program yang kami buat akan percuma, karena tidak dijalankan dengan baik oleh pengurusnya sendiri.

Tapi, di sinilah kami dilatih kekompakan dengan sesama teman sendiri. Entah itu dalam mengurus program angkatan atau masalah pribadi. Biasanya kawan-kawanku sering membantu mencari solusinya, jika aku menghadapi masalah. Bagi kami, masalah yang dialami temanku, itu menjadi masalah bersama. Indah memang jika menjalin kebersamaan di pondok. Serasa memiliki keluarga baru. Apalgi pas jadi CABA dan dilanjut Kemah Akbar. Di situlah kami diuji ketangkasan dan kepintaran. Misalnya, sejauhmana kami menguasai materi-materi Pramuka dan lain-lain. Juga diuji kekompakan, karena dengan kekompakanlah kami bisa maju dan berani untuk berubah membangun impian kami menjadi Bantara Angkatan 14.

Namun jalan tidak selalu lurus dan tak selalu mulus. Pasti ada saja cobaan buat kami, termasuk saat kami ditinggal Kakak Pembina, Kak Liandi Kaputra atau yang sering kami sapa Abang Chutay untuk melanjutkan kariernya di dunia photografi di rumahnya. Tidak jarang dia tetap menanyakan dan menemui kami di pondok. Masih aku ingat ketika Si Abang bilang di sela-sela perkumpulan untuk merancang sebuah program kami untuk OPPQ. “Tumbuhkanlah rasa cinta kalian terhadap pondok dari sekarang, maka pasti kalian akan terus melakukan perubahan positif di sini,” katanya.

Dan kini, ketika Si Abang tidak lagi di pondok, kami harus membuat perubahan sendiri dengan mandiri. Kekompakan yang kami tanam sejak awal masuk pondok, kini kami terapkan ketika menjadi pengurus OPPQ. Kerasa banget manfaatnya, ya walaupun kami sesekali masih sering melenceng dari kekompakan. Tapi itu semua kami jadikan sebagai sebuah pelajaran.

Di sini saatnya kami membuktikan bahwa kami mencintai pondok dan akan membawa perubahan untuk pondok kami tercinta ini. Untuk itu, aku bersemangat sekali jika sesekali kawan-kawanku membuat sebuah ide-ide baru yang semata-semata hanya untuk kebaikan bagi pondok. Entah kata apa yang patut kami ucap selain ucapan terima kasih kami kepada semua elemen yang ada di pondok ini, karena kalian yang membuat aku dewasa. Ya, aku, engkau dan kita adalah satu nafas dan satu tujuan.[]

Cikulur, 09 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, kekompakan itu ibarat sapu lidi. Jika lidi itu hanya sendirian, maka tiada kekuatan padanya. Namun jika lidi itu digabungkan, maka akan menjadi kekuatan yang hebat. Dengan kekompakan pula, kita bisa meraih mimpi.

(Alumni Ponpes Qothrotul Falah)