Siar Lewat Layar

Oleh: Siti Robeah

DI lembar ini, ane ingin berbagi apa yang ane lakukan selama di pondok. Sebagian orang bilang, menulis, membaca, dan merenung itu dunia yang membosankan, bikin jenuh, pegel mata dan bla-bla-bla. Nggak jauh beda dengan apa yang ane bayangkan dulu. Tapi setelah ane jadi salah satu bagian dari pengurus perpustakaan,  www.qothrotulfalah.com dan ekskul lainnya, tepatnya lagi semenjak ane didoktrin untuk baca, baca dan baca, pikiran-pikiran negatif  itu hilang lambat laun. Dan ane menikmatinya kini.

Di website, ane berposisi sebagai reporter bersama beberapa teman santri. Ada Ayat, Uyun, Eman, dan yang lain. Yang biasa ane sama temen-temen liput, itu seperti kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung di pondok dan tak lupa mewawancarai orang-orang yang bersangkutan dengan kegiatan, yang untuk dimuat di website.

Ane dan dua teman ane pernah mewawancarai seorang narasumber dari luar pondok juga. Tepatnya sih dari luar negeri. Ia bernama Ian White dari Australia, yang saat itu sedang berkunjung ke pondok. Kami saat itu menanyakan apa perasaan ia saat masuk lingkungan pesantren yang saat itu sedang booming isu bahwa pesantren sarang teroris. Wawancara itupun kami beri judul Pesantren bukan Sarang Teroris. Sebenarnya kegiatan kami di website nggak cuma wawancara. Kadang kala kami juga membuat artikel tentang problem yang sedang ramai jadi perbincangan di masyarakat.

Website sendiri menampilkan profil pondok, artikel kiai dan ustadz/ah maupun santri, foto-foto kegiatan dan info-info tentang pondok lainnya. Tulisan aktivis Triping Community juga dimuat di sana secara rutin tiap minggunya. Ya, di bawah bimbingan Ustadz Nurul H. Maarif yang sekaligus menjadi Pemimpin Redaksi website resmi Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini, kami berjuang untuk syi’ar lewat layar.

Bagi kami, dakwah tidak harus di mimbar saja, tapi bisa juga melalui lembar dan layar. Syukur al-hamdulillah, di pondok kami sudah menjalankan tiga cara dakwah itu; di mimbar, di lembar (melalui buku karya kiai dan santri) dan di layar (www.qothrotulfalah.com dan film karya santri). Semua sarana ini harus diambil oleh pesantren dengan sebaik-baiknya, sehingga ajaran pesantren lebih mudah tersebar luar ke masyarakat.

Kawan, di websitelah ane banyak belajar; belajar merangkai kata, belajar memahami setiap permasalahan, juga belajar untuk terus giat membaca. Di website ane banyak mengambil manfaat, diantaranya ane bisa menjalin silaturahim dengan orang lain, bisa sedikit demi sedikit menulis, bisa berbagi dengan yang lain, bisa menggali info-info yang ane sebelumya nggak tau. Manfaatnya sangat banyak, deh.[]

Moral of the Story: Sahabat, manfaatkan media apapun untuk menyebarkan kebaikan kepada masyarakat. Semakin banyak media, semakin banyak masyarakat yang mendapatkan kebaikan.

(Alumni Ponpes Qothrotul Falah Lebak Banten)