If You Think You Can, You Can

Oleh : Ahmad Najmudin

SAHABAT, aku akan memulai ceritaku dari pengalaman masa laluku sendiri. Why? Karna menurutku, yang paling jauh dari kita bukanlah negeri China, Eropa, Amerika, bintang-bintang, bulan, matahari, atau yang lainnya. Paling jauh dengan kita adalah masa lalu. Dengan cara apapun kita tidak akan bisa kembali kepada masa-masa itu. Karena itu, kita harus memanfaatkan hari ini sampai hari-hari esok nanti dengan perbuatan yang baik dan juga sesuai dengan ajaran agama. Aku akan mencoba memaknai apa yang sudah dituliskan oleh masa lalu.

Saat aku memulai masa remaja, sebelum aku masuk ke pondok pesantren, aku pernah jatuh pada pergaulan yang salah. Aku bergaul dengan orang-orang yang suka terhadap barang-barang yang dilarang oleh agama. Hampir setiap malam aku dan teman-teman dikejar-kejar oleh polisi, karna melakukan balap liar. Masa-masa itu sangat menyeramkan kalau aku mengingatnya sekarang. Namun, sungguh aku bersyukur atas nikmat dan rahmat-Nya yang telah diberikan kepadaku.

Tapi, setelah aku masuk ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah, aku baru menemukan kehidupan yang membuatku tenang juga nyaman. Bergaul dengan orang-orang yang serius dalam menimba ilmu agama, juga memahami orang awam sepertiku. Di sini bukan hanya keagamaan yang pondok ajarkan kepadaku, tapi ilmu untuk bersosialisasi dengan sesamapun aku dapatkan di sini. Contoh kecil ketika aku mulai bergabung di beberapa ekskul.

Setelah aku pikir-pikir, apa salahnya aku mencoba untuk mengikuti beberapa kegiatan kkskul di pondok, walaupun dulu aku sempat tidak tertarik dengan kegiatan ektra di sekolah. Aku mengikuti Pramuka, Multimedia, PMR, dan Perpustakaan. Kegiatan-kegiatan itu menurutku tidak terlalu membosankan untuk aku ikuti. Dan salah satu ekskul itu yang paling aku geluti adalah Pramuka. Jujur aku, adalah tipe orang yang suka tantangan. Maka dari itu aku sangat menyukai Pramuka. Ditambah Pramuka itu kan terkenal dengan kedisiplinannya dan yang membuat aku tertarik dengan Pramuka ketika proses meraih gelar Bantara (Bantuan Taruna Rakyat). Ya, gelar itulah yang dulu aku impi-impikan.

Aku ingin sekali menjadi Bantara yang bisa membimbing andika-andiki dalam Pramuka, baik itu dari keberanian, kedisiplinan, maupun pengetahuan kepramukaannya. Tapi, sebelum aku menjadi Bantara, aku harus melalui tahap-tahap untuk mencapai itu. Tahap yang pertama, aku harus menjadi seorang calon Caba (Caba). Itu adalah tahap awal kita untuk menjadi Bantara. Gemblengan-gemblenganpun aku rasakan bersama teman-temanku. Saat satu teman kami salah, maka dianggap salah semuanya. Ini mengajarkan kami untuk selalu kompak dan satu rasa. Itu baru tahap awal lho.

Selanjutnya kami harus menjadi Calon Bantara (CABA). Di situlah kami mulai berjuang dengan sungguh-sungguh. Karena calon Bantara harus menguasai lebih banyak materi untuk di-share kembali kepada andika-andiki. Dari mulai aandi-sandi, semaphore, sejarah kepramukaan, dll.

Setelah melewati beberapa tahap untuk menjadi seorang Bantara, al-hamdulillah aku bersama teman-teman bisa menjadi Bantara dengan melewati berbagai tantangan dan perjuangan. Dan nggak disangka juga, ternyata guru-guru dan teman-temanku mempercayaiku untuk menjadi Pradana (Ketua Bantara) periode 2014-2015. Awalnya, aku kurang percaya diri, karena aku merasa belum punya kemampuan untuk itu. Namun dengan dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepadaku dan dengan semangat dari teman-teman, akhirnya aku bersedia dan siap menjalankan amanah itu. Kalau dalam bukunya Mas Yulee yang berjudul Aku Bisa! Dikatakan; “If you think you can, you can”.[]

Moral of the Story:
Sahabat, kita semua niscaya memiliki masa lalu. Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik.