Kebersamaan dalam Keragaman

Oleh Nurul H. Maarif


Ulama kenamaan, Mahmud Syaltut, menyebut Indonesia sebagai qith’ah min al-jannah atau serpihan surga. Alamnya begitu indah nan subur. Segalanya tersedia untuk keperluan penduduknya. Tetumbuhan, gas, minyak, emas, tembaga, batu bara, ragam kekayaan laut, semua terhampar luas untuk kemanfaatan penduduknya.

Penduduk negeri Zamrud Katulistiwa ini juga terdiri dari aneka keragaman yang mengagumkan; agama, suku, budaya, bahasa, ras dan lain sebagainya. Yang menjadi berkah, keragaman ini tidak menjadikan kita semua terkotak-kotak. Kita senantiasa bersama dalam perbedaan, karena leluhur kita telah menitipkan ajaran luhur Bhinneka Tunggal Ika. Boleh saja kita berbeda, namun kebersamaan mesti dijaga.

Keragaman memang sengaja diciptakan oleh Allah Swt. Sungguh, betapa mudahnya Allah Swt menjadikan segalanya seragam tanpa perbedaan. Kun fayakun Allah akan menjadikan semua itu terwujud dengan sangat gampang. Nyatanya ini tidak dilakukan-Nya. Ibarat taman bunga, ia akan menjadi indah dan menawan manakala dihiasi oleh aneka bunga dengan keragaman warna dan bebauannya. Dan Allah ingin menjadikan dunia, terutama Indonesia, laksana taman bunga yang indah menawan itu; yang tidak semestinya kita rusak.

Allah Swt berfirman: Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. al-Hujurat: 13).

Allah sengaja menjadikan perbedaan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karenanya, bukan latar belakang perbedaan itulah yang menjadi ukuran kemuliaan manusia di hadapan-Nya, melainkan kadar ketakwaannya. Untuk itu, perbedaan adalah sarana untuk berkompetisi, bukan untuk saling menghabisi. Perbedaan adalah sarana untuk saling berbuat baik, bukan untuk saling mencabik. Perbedaan adalah sarana untuk saling mengenal, bukan untuk saling memenggal atau mengganjal. Dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini akan lestari melalui kebersamaan dalam perbedaan yang terjalin indah.

Kita boleh berbeda, namun kita adalah keluarga, karena kita hadir dari Tuhan yang sama dan akan kembali juga pada Tuhan yang sama. Antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain harus saling menghormati, melindungi dan tolong-menolong untuk saling memberikan kemanfaatan. Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam Kitab Risalah al-Mu’awanah mengutip sabda Rasulullah Saw: al-Khalqu kulluhum ‘iyalullah wa ahabbuhum ila Allah anfa’uhum li’iyalihi. Seluruh makhluk adalah keluarga Allah SWT; dan yang paling dicintai-Nya adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya.

Marilah kita saling bergandengan tangan, walaupun kita berbeda. Janganlah kita terkotak-kotak oleh perbedaan lahiriah yang bahkan sengaja Allah Swt ciptakan. Di negeri penuh keragaman ini, keadilan dan kesejahteraan semestinya menjadi tujuan bersama dan utama. “Damai itu bukan karena tidak ada perang, melainkan karena ada keadilan,” demikian kata Harrison Ford. Dan selama orang bisa melakukan kebaikan, maka kita tak perlu lagi bertanya apa latar belakang agama, suku atau warna kulitnya. Kebaikan itu untuk semua.

Inilah substansi menjadi seorang muslim yang salih sekaligus menjadi penduduk yang berbudi di negeri ini. Negeri yang penuh kebersamaan dalam perbedaan. Sungguh indah dan begitu menawan. Inilah negeri dan karakter masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.[]