Sungguhkah Kita Merindukan Ramadhan?

Memasuki Ramadhan 1437 H ini, batin saya merasa “ditampar” sekencang-kencangnya. Benarkah lubuk hati saya yang terdalam merindukan tamu agung ini? Pertanyaan ini menggelayuti pikiran sekaligus batin saya. Apa sebabnya?

Beberapa hari jelang 1 Ramadhan ini, saya menelaah dengan seksama buku terbaru karya Alm Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A., berjudul Teror di Tanah Suci. Buku ini terbit akhir Mei 2016, tanpa pernah dilihat dan disentuh oleh penulisnya yang wafat pada 28 April 2016.

Saya selami lembaran demi lembaran bunga rampai artikel di dalamnya. Tentang ‘aqidah, ‘ibadah, juga mu’amalah. Saya terhenyak, tatkala menelaah artikel bertema Marhaban Ya Ramadhan, di bagian ‘ibadah. Ungkapan kerinduan ini begitu mudah meluncur dari mulut kita. Juga terpampang di berbagai tempat. Seakan benar-benar mewakili kerinduan kita pada bulan mubarak ini.

Bagi Imam Besar Masjid Istiqlal dua periode ini, ungkapan Marhayan Ya Ramadhan sejatinya menyiratkan kesiapan mental-spiritual tingkat tinggi untuk menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh, dengan konsekuensi pelaksaan ritual yang sesungguhnya. Tentu saja ritual yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad Saw.

Nyatanya, tak sedikit dari kita yang (justru) mencederai bulan diturunkannya al-Qur’an ini (Qs. al-Baqarah: 185). Banyak pelanggaran etika agama dengan enjoy kita lakukan. Banyak juga diantara kita yang lebih mengutamakan mengejar kesunnahan walaupun dengan mengabaikan kewajiban.

Kritikan Kiai Ali tak selesai di situ. Lebih menghunjam lagi, beliau menuliskan; Ramadhan dirindu, tetapi Ramadhan diseteru, Ramadhan dinanti, tetapi Ramadhan dikhianati; Ramadhan dicinta, tetapi Ramadhan dinista; dan Ramadhan disukai, tetapi Ramadhan dicederai.

Mengena betul kritikan Pendiri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat Banten itu. Menghunjam di kedalaman kesadaran keberagamaan kita. Sejujurnya, kita memang lebih merindukan Ramadhan sebagai bulan euphoria, ketimbang sebagai bulan penempaan diri atau bulan pembakaran dosa-dosa.   

Kita merindu kehadirannya, lebih karena gaya hidup konsumerisme. Sebulan penuh, aneka makanan akan tersaji di meja makan setiap sorenya. Nafsu untuk menyantap, juga lebih beringas dibanding hari-hari biasanya. Perut seakan lebih siap dan lebih longgar menampung menu-menu dadakan itu.

Jelang bedug maghrib ditabuh, bahkan berjam-jam sebelumnya, tempat-tempat makan berbayar penuh sesak oleh antrian kita yang konon ingin berbuka puasa. Padahal, memandang hidangan dengan syahwat (wa al-nadhr bi syahwah) sejatinya bisa menggangu nilai-nilai puasa. Namun toh kita tidak peduli.

Di sisi lain, masjid yang menjadi poros utama ritual Ramadhan begitu sepi, kecuali terisi generasi senja. Shaf atau barisan jama’ah shalat maghribpun jauh lebih sedikit dibanding antrian pemesan makanan. Mengantri makanan seakan lebih afdhal ketimbang lelah-lelah mengisi barisan jama’ah yang nilainya 27 derajat itu.

Barisan shalat ‘isya jauh lebih baik. Lebih ramai, karena alasan mengejar fadhilah sunnah tarawih. Gempita itupun biasanya hanya terlihat beberapa hari di awal Ramadhan. Di penghujungnya, terutama 10 hari terakhir saat-saat turunnya Malam Qadar, barisan itu kian surut dan sepi. Malam yang khair min alf syahr (Qs. al-Qadar: 3) tak begitu diminati, kecuali hanya sebagai pengetahuan.

Dan, banyak lagi perilaku lain yang kurang mencerminkan diri kita sebagai perindu Ramadhan yang sejati. Seyogyanya, Ramadhan dirindu, sekaligus dicumbu; Ramadhan dinanti, sekaligus direnungi; Ramadhan dicinta, sekaligus dibaca; dan Ramadhan disukai, sekaligus dimaknai. Jika kita tidak benar-benar merindukan Ramadhan, maka Allah Swt juga tidak benar-benar merindukan kita.[]

 

* Pengajar di Ponpes Qothrotul Falah Lebak

(HU Radar Banten, Rabu, 8 Juni 2016)u