The Important Business Period

Sosiolog dari Faculty of Oriental Studies University of Oxford, Inggris, Walter Armbrust tertarik pada fenomena yang mengiringi kehadiran Ramadhan, baik yang dilakukan oleh kaum muslim maupun non-muslim di berbagai belahan dunia. Rasa penasaran ini mengantarnya melakukan penelitian serius, yang hasilnya dipublikasikan pada 2004. Dua belas tahun silam.

Kesimpulannya, Ramadhan telah dipakai untuk tujuan yang beragam, termasuk dan terutama untuk menaikkan rating bisnis. Misalnya, untuk menggenjot konsumerisme, marketing produk segala jenis, bahkan untuk mendagangkan ide-ide politik. Tokoh-tokoh jadi-jadian lantas bermunculan melalui berbagai media dan sarana.

Menurut Walter, fenomena Ramadhan ini ditangkap dengan jeli oleh pebisnis-pebisnis kelas dunia. Oleh mereka, bulan ini bahkan disebut sebagai the important business period. Periode atau waktu bisnis terpenting selama setahun. Ini karena menyangkut milyaran kaum muslim di seluruh dunia.

Setuju atau tidak atas hasil temuan Walter, nyatanya inilah yang terjadi. Detak jantung bisnis lebih berdegup di banding hari-hari biasa. Semua lininya menggeliat menunjukkan kehidupan. Lihat saja, aneka rupa iklan bermunculan bak jamur di musim hujan; makanan-minuman, busana, kosmetik, obat-obatan, dan segala rupa lainnya.

Baik di televisi, radio, koran atau tempat-tempat kerumunan massa yang strategis, semua pebisnis berkepentingan menjajakan dagangannya. Hatta, ibu-ibu/bapak-bapak yang tak pernah berfikir berjualan pada hari-hari biasa, mendadak menjadi penjual profesional. Keberkahaan Ramadhan lalu menjadi argumen yang seakan sah dilantunkan.

Apa yang salah pada fenomena ini? Tentu saja ini bukan soal salah atau benar. Ini soal perilaku, yang belum tentu bagus untuk masa depan Ramadhan sebagai bulan penempaan diri. Benar belaka, bahwa al-‘adah muhakkamah (kebiasaan masyarakat itu menjadi hukum). Namun tentu saja al-‘urf al-shahih atau tradisi luhur yang sesuai semangat dan ruh agama.

Mengisi Ramadhan, al-Qur’an dan Hadis menganjurkan kaum muslim menunaikan ibadah dengan kualitas terbaik. Kadar makan perlu dikurangi, untuk melatih dan menempa diri dari kerakusan. Saat berbuka, Nabi Muhammad mencontohkan hanya minum seteguk dua teguk air putih, disertai kurma tiga biji. Akibat aneka iklan makanan dan menu tersaji secara luas, kita lalu menginginkan semuanya. Tanpa sadar, kita menjadi obyek keuntungan para pebisnis.

Rasa lapar dan dahaga sepanjang menjalankan puasa inilah yang ditangkap sebagai peluang bisnis oleh para penjaja makanan. Keyakinan lebaran identik dengan baju baru juga diambil momennya oleh penjaja pakaian. Perih, letih, dan lesu, saat berpuasa juga dimanfaatkan oleh penjaja obat-obatan. Dan, bulan maaf-maafan inilah yang lantas dijadikan momen rekonsiliasi oleh para politisi. Kita lalu permisif atas semua ini.  

Ujung-ujungnya, yang memahani bulan ini sebagai the important business period dapat meraup keuntungan duniawi dalam jumlah yang banyak. Yang politisi atau pejabat bernoda merasa telah dimaafkan oleh rakyat. Sementara kita sebagai kaum muslim, kehilangan spirit dan makna utama Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, maghfirah dan sarana penempaan diri.

Untuk itu, semestinya kita tidak membiarkan Ramadhan pergi begitu saja tanpa memberikan manfaat spiritual bagi kita. Predikat sebagai orang yang bertakwa sepanjang masa, semestinya menjadi agenda utama yang harus diraih.[]

 

* Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Ponpes Qothrotul Falah Lebak

 

HU Radar Banten, Kamis, 9 Juni 2016