Belajar dari Negeri Singa

Oleh Cahyati*)

Kini saya meyakini, kalimat yang sering dilontarkan para motivator di hadapan audience-nya.Ya, “If you can dream it, you can do it”. Jika kamu dapat bermimpi, maka kamu dapat pula mencapainya. Bermula dari sebuah gantungan kunci bergambarkan Singa menyemprotkan air dari mulutnya yang saya dapatkan dari kawan dan saudara yang baru pulang dari Singapura. Dari situlah saya mulai berkhayal dapat menginjakkan kaki dan menyaksikan langsung patung Merlion dengan nyata.

Dan akhirnya, melalui kegiatan Bimbingan Teknis Vocasi Menulis Kemendikbud, khayalan itu terwujud. Tepatnya Selasa, 31 Mei-02 Juni 2016. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Rumah Dunia dan dibiayai oleh Kemenetrian Pendidikan & Kebudayaan (Kemendikbud). Sebuah kesempatan yang sangat berharga bisa menjadi bagian dari kegiatan yang pesertanya mencapai 100 orang dari Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten ini. Banyak pengalaman baru dan menarik yang saya dapatkan. Dari mulai pembuatan paspor hingga berakhirnya kegiatan tersebut.
 
Saat kali pertama membuat paspor, meskipun saat itu belum ada kejelasan kegiatannya jadi atau tidak, saya memutuskan untuk tetap membuatnya. Karena bagi saya, ini adalah langkah pertama untuk bisa lebih maju. Semoga paspor yang kumiliki itu segera terpakai dalam artian saya bisa pergi ke luar negeri. Pikir saya saat itu. al-Hamdulillah, kegiatan Vocasi Menulis dilaksanakan juga.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari di Rumah Dunia-Serang yang dipimpin oleh seorang novelis ternama, Gol A Gong. Dalam jangka waktu tersebut kami diberikan pengetahuan mengenai dunia literasi. Di hari pertama kami mendapat arahan mengenai cara penulisan buku yang akan menjadi tanggung jawab para peserta setelah usai kegiatan ini, karena gongnya kegiatan ini adalah meluncurkan 100 buku pada Oktober mendatang di Palu. 100 buku inilah yang sekarang menjadi tanggung jawab kami selaku peserta.

Di hari kedua, Minggu, 29 Mei 2016 kami berkunjung ke Gedung-FX Senayan dalam rangka menghadiri acara Talkshow Indonesia Membaca di ajang Pesta Pendidikan. Talkshow yang dimoderatori oleh Firman Venayaksa selaku Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) se-Indonesia ini berlangsung dengan sangat khidmat dan dipenuhi penonton. Bagaimana tidak, kali ini pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yakni Bapak Anies Baswedan hadir langsung mengisi talkshow tersebut dengan didampingi oleh Najwa Shihab selaku Duta Baca Indonesia dan Gol A Gong selaku Pegiat Literasi.  Dalam kesempatan itu Pak Anies mengatakan; “Kalau kita ingin diri kita lebih baik, diri kita lebih maju, maka membacalah!”.

Najwa Shihab atau akrab dengan sapaan Mba Nana ini juga memberikan satu solusi untuk bisa terus membaca. Ia menyarankan agar membaca dijadikan sebuah kebutuhan hidup, yang ketika ditinggalkan maka kita merasa bersalah. Bahkan pengisi acara Mata Najwa MetroTv ini juga bercerita bahwa ia berkomitmen untuk membaca 30 halaman buku setiap harinya. Dan sebelum Pak Anies meninggalkan gedung-FX, beliau sempat menyampaikan beberapa hal serta memberikan semangat kepada kami yang akan berangkat ke Singapura. Bisa dikatakan sebagai pelepasan peserta. Beliau berkata, “Tulislah buku yang inspiratif. Buku Anda semua akan disimpan di rak buku TBM-TBM, dan ketika dibaca, akan menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang anda lakukan”. Pak Menteri benar-benar telah membakar api semangat kami saat itu.

Di hari ketiga dari kegiatan ini kami mendapatkan materi dari Toto ST Radik mengenai Puisi Perjalanan. Kemudian dilanjut dengan materi Esay Perjalan oleh Firman Venayaksa dan Trevel Writing oleh Tias Titanka. Luar biasa padat namun dikemas dengan cukup santai sehingga tak pernah kami merasa jenuh dan pusing dengan materi.

Selasa, 31 Mei 2016 sebagai praktik dari kegiatan vocasi menulis ini adalah awal perjalanan saya bersama 100 peserta yang dibagi dalam 10 kelompok  menjelajahi negara yang dijuluki Negeri Seribu Satu Peraturan. Ini adalah pengalaman pertama pergi ke luar negeri, meski jarak Singapura tidak begitu jauh dengan Indonesia. Pesawat AirAsia dengan nomor QZ264 mengantarkan kami ke sana. Hanya butuh dua jam perjalanan, kami sampai di Changi Airport. Tepat pukul 02.03 waktu Singapura kami sampai di Terminal Arrival Immigration. Perbedaan waktu Singapura & Indonesia hanya satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia.

Sepanjang berkeliling di Bandara Changi, saya tertegun memerhatikan empat garis memanjang yang mengikuti setiap arah jalan di bandara hingga ke stasiun Mass Rapid Transit (MRT). Garis ini tidak pernah dipakai atau terhalang oleh jejak kaki orang-orang yang berlalu-lalang. Kemudian tak lama saya melihat seorang kakek dengan memakai kendaraan motor listrik pribadinya berjalan megikuti arah garis tersebut. Ternyata garis itu memang dibuat untuk mempermudah jalan para penyandang cacat dengan kendaraan mereka.

Kemudian perjalanan kami mulai dengan naik MRT menuju Marlion dan Marina Bay. Selama di sana kami selalu menggunakan MRT sebagai alat transportasi. Untuk dapat menggunakan MRT kami membeli MRT Card seharga S30, kalau dirupiahkan seharga Rp. 300 ribu untuk tiga hari dan jika mau di-refund uang bisa dikembalikan sebesar S10. Ada hal yang menarik perhatian selama berada di dalam MRT. Kereta yang berada di bawah tanah ini sangat bersih dan rapih. Tak ada satupun sampah. Bahkan coretan-coretan liar di dinding kereta tak satupun saya lihat.  Tak pernah ada suara keramaian dari para penumpang selain suara bisingnya kereta, karena para penumpang MRT lebih banyak diam selama perjalanan sampai tiba di tujuannya masing-masing. Hal ini agar tidak menganggu kenyamanan penumpang yang lain.

Selain itu, ada hal menarik lain yang dijumpai setiap saya menaiki MRT. Di setiap gerbong terdapat sekitar 24 Kursi yang terpisah dalam 3 sudut. Di bagian tengah ada 7 kursi yang saling berhadapan dan sudut kanan & kiri ada 2 kursi yang saling berhadapan pula. Di setiap sudut tersebut ada dua kursi yang di atasnya terdapat kalimat; “Reserved Seating” disertai gambar ibu hamil, ibu yang membawa anak kecil, kakek-kakek dan nenek-nenek, dan orang yang mengalami cacat. Hal ini memang ada di Indonesia, tapi apakah sudah dipatuhi dengan baik? Saya rasa tidak semua mematuhinya. Tapi selama di sana sayapun belajar dari warga Singapur untuk lebih peduli dan menghargai sesama.

Kursi itu tak pernah ditempati oleh para remaja meskipun kosong. Mereka lebih memilih untuk berdiri. Setiap pintu gerbong terbuka di setiap stasiun, setiap orang yang berada di MRT pasti memperhatikan penumpang yang baru masuk. Jika ada orang yang masuk dalam empat kategori tadi, maka akan dipersilahkan untuk mendudukinya. Kenyamanan penumpang sangat diutamakan di kereta ini. Di samping pintu gerbong ada sebuah tombol yang bisa ditekan sebagai pertanda bahwa ada sesuatu atau orang yang membuat kita tidak nyaman, dan petugas keamanan kereta akan langsung menghampiri kita. Sederhana memang, tapi sudahkah kesederhanaan itu kita lakukan dengan tanpa diminta? Dalam kenyataannya, sering kali kita cuek dengan orang-orang di sekeliling kita. Terutama dalam kendaraan umum, baik kereta api atau bus.

Kebersihan Singapur bisa diajungi jempol. Tak pernah saya melihat sampah yang berceceran atau melihat orang membuang sampah sembarangan, karena yang saya tahu di sana banyak sekali peraturan yang jika dilanggar langsung dikenakan denda yang tak tanggung-tanggung. Termasuk untuk masalah kebersihan, bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan maka akan langsung dilaporkan kepada petugas setempat. Setiap malam saya menyempatkan diri untuk berkeliling di Arab Street. Saya melihat para petugas kebersihan membersihkan tong sampah yang terdapat di setiap halaman rumah dan sudut-sudut jalan. “Luar biasa,” gumam saya. Mereka bekerja di malam hari agar pada saat pagi buta lingkungan sudah bersih dan tempat sampah sudah kosong kembali. Kembali saya ingat dengan daerah asal saya, apakah di sana sudah seperti ini?

Selama tiga hari di Negeri Singa ini, saya  dan kawan-kawan yang tergabung dalam kelompok 10 yang kami namakan kelompok Sanusi Pane mengunjungi beberapa destinasi yang telah disepakati oleh panitia. Bang Rizal selaku fasilitator selalu mendampingi dan memberikan arahan kepada kami. Beberapa destinasi yang berhasil kami kunjungi adalah Merlion Park, Marina Bay, Bugis, Little India, Sentosa, Clementi Town Center, Perpustakaan Singapura, juga tak ketinggalan China Town sebagai pusat perbelanjaan.

Tiga hari menjadi seorang traveller sangat mengasyikan dan membahagiakan. Rasanya dari munculnya fajar hingga gemerlapnya bintangpun terasa berlalu begitu saja. Hostel ABC dan Hostel Superb menjadi saksi persinggahan kami selama di sana. Banyak hikmah dan sejarah di dalamnya. Dan semoga perjalanan ini bisa kami abadikan dalam sebuah goresan tinta. []

*) Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Peserta Vocasi Literasi Kemendikbud Repubulik Indonesia ke Singapura, 31 Mei s.d. 2 Juni 2016.