Umat yang Dimanja

Oleh Nurul H. Maarif*)

Umat Muhammad Saw, adalah umat yang paling dimanja sekaligus disayang oleh Allah Swt. Tuhan sekalian alam ini menyapa mereka dengan sapaan kasih; “Wahai orang-orang yang beriman”. Ayat kewajiban puasa Ramadhan, karenanya juga diawali dengan sapaan akrab ini (Qs. al-Baqarah: 183). Sapaan yang semestinya menggetarkan jiwa dan membangkitkan ritual peribadahan terbaik.

Oleh Allah Swt, umat ini juga dijuluki khair ummah (umat terbaik), karena senantiasa menegakkan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (Qs. Ali ‘Imran: 110). Predikat yang semestinya juga menjadi pemicu dan pemacu untuk kian meningkatkan kualitas kebaikan. Berlomba-lomba sebagai yang terdepan dalam kebaikan, karenanya menjadi motto yang harus dipegang teguh (Qs. al-Baqarah: 148).

Apa bukti umat ini dimanja oleh Allah Swt? Banyak fakta menunjukkan hal ini. Misalnya, peristiwa Isra Mi’raj yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Di haribaan Allah Swt, Muhammad Saw dititah menunaikan shalat sejumlah 50 waktu. Kebijakan ini direaksi oleh Musa, karena dinilai berat untuk umat Muhammad. Sebagai rasul senior, Musa memberi masukan pada yuniornya untuk minta dispensasi. Melalui dialog yang elegan, Allah Swt mendispensasinya menjadi 5 waktu. Ini bentuk sayang Allah Swt sekaligus untuk memanjakan umat ini.

Perihal perilaku dosa, umat ini juga dimanja penuh kemurahan. Bandingkan dengan umat terdahulu, semisal umat Musa yang pertaubatan dan pengampunan dosanya melalui bunuh diri (Qs. al-Baqarah: 54). Dalam beberapa karya tafsir, tercatat sedikitnya 70 ribu umat Musa meninggal berjamaah untuk membersihkan noda hatinya. Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi, pengampunan dosa umat Islam cukup dengan bertaubat (taba) dan minta ampunan (istaghfara). Dengan cara simpel ini, hatinya akan kembali dibersihkan, laksana sepatu kotor yang disemir ulang.

Begitu halnya kewajiban puasa. Sejatinya, ritual menahan diri dari makan dan minum ini telah dititahkan pada umat-umat terdahulu. “Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian,” menjadi bukti nyata titah ilahiah ini. Bedanya, puasa pra-Islam dimulai setelah yang bersangkutan tertidur dan berakhir hingga terbenamnya matahari. Ukuran mulainya adalah terpejamnya mata. Karenanya, durasi puasa mereka beragam. Ada yang sebentar, karena tidurnya menjelang fajar. Dan banyak yang lama, karena tertidur usai matahari terbenam, seperti yang dialami Qais bin Shirmah al-Anshari.

Peristiwa pingsannya Qais di ladang kurma karena kelaparan sekaligus kelelahan, menjadikan ritme puasa berubah; dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Tidak terkait lagi dengan waktu tidurnya. Ketentuan ini berlaku untuk seluruh umat zaman ini. Jauh lebih ringan dan lebih simpel dibanding umat terdaulu.

Kemurahan-kemurahan ini (memang) hanya diberikan pada umat Muhammad. Ibaratnya, primadona umat-umat yang ada di dunia ini adalah umat Islam. Ibarat pohon, Muhammad Saw dan umatnya laksana buah. Dinanti-nanti kehadirannya namun terakhir munculnya. Ini yang dijelaskan oleh konsep syajarah al-kaun (pohon kejadian).

Tak selesai di situ. Amaliah-amaliah umat ini banyak yang nilainya dilipatgandakan. Kebaikan sekali dilipatkan menjadi 10 kali (Qs.  al-An’am: 160) dan bahkan bisa 700 kali (HR. al-Bukhari dan Muslim). Lailatul Qadar dinilai lebih baik dari 1000 bulan (Qs. al-Qadar: 3). Amaliah-amaliah yang dikerjakan pada Ramadhan, kelipatannya lebih banyak lagi. Ini berbeda dengan keburukan yang hanya dinilai sepadan.

Dengan pemanjaan dan pelipatan  kebaikan ini, selayaknya kita menjadi umat terdepan. Karena itu, fokus pada amaliah-amaliah yang positif semestinya terus diupayakan. Dan rasanya sulit bagi kaum muslim menjadi orang yang buruk, kecuali mereka lebih gemar menjalankan pelanggaran-pelanggaran.

Betapa ruginya jika predikat sebagai khair ummah, umat yang disayang dan dimanja, umat yang dilipatgandakan kebaikannya, sia-sia belaka karena kita tidak benar-benar memanfaatkan momen Ramadhan secara maksimum. Di bulan ini, mari kita lakukan daras al-Qur’an terbaik, shalat terbaik, sedekah terbaik, dan amaliah lain yang juga terbaik![]  

*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Ponpes Qothrotul Falah Lebak.

(HU Radar Banten, Selasa, 14 Juni 2016)