Lapar dan Dahaga Tanpa Makna

Oleh Nurul H. Maarif*)

Ramadhan adalah bulan penempaan diri. Baik melalui pembelajaran lapar, pengurangan syahwat duniawi ataupun penyelenggaraan ritual-ibadah. Semua ini untuk meraih predikat “bertakwa terus-menerus” (Qs. al-Baqarah: 183) sepanjang waktu. Ini idealitas target pewajiban puasa bagi kaum muslim, kendati tradisi puasa sebagai penempaan diri telah dikenal luas oleh agama-agama dunia.

Apakah dengan puasa, otomatis upaya menciptakan manusia-manusia yang “bertakwa terus-menerus” itu berhasil? Jabannya bisa “iya” dan bisa pula “tidak”. Semua tergantung pelakunya. Islam, baik melalui al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, telah memberikan arahan-arahan terbaik supaya target itu berhasil diraih dengan paripurna.

Hanya saja, pelakunya selalu terbelah menjadi dua kelompok; yang menunaikan arahan-arahan itu dengan baik dan yang mengabaikannya. Kelompok pertama niscaya meraih predikat itu dan kelompok kedua merugi karena tidak meraih apa-apa selain kepayahan fisik.

Kelompok kedua inilah yang oleh Rasulullah Saw disebut: “Banyak orang berpuasa tidak meraih apapun dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ibn Majah, al-Nasa’i, dll). Dan bahkan kelompok inilah yang jumlahnya terbanyak. Puasa menjadi tiada bermakna secara hakiki dan substansial.

Puasa bisa tanpa makna karena faktor pelanggaran-pelanggaran yang dikerjakan. Alih-alih menjalankan arahan-arahan al-Qur’an dan Hadis dengan sebenar-benarnya, yang dilakukan justru perilaku sebaliknya. Inilah yang menyebabkan al-shaimin (orang-orang yang berpuasa) justru mendapat kartu merah.

Diantara bentuk pelanggaran itu, misalnya; Pertama, perkataan dusta. al-Bukhari meriwayatkan Hadis dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (qaul al-zur) dan justru melakukannya, maka Allah tidak butuh rasa lapar dan haus yang dia tahan.”

Sabda Nabi ini mengisyaratkan, selapar dan sehaus apapun kita menahan puasa dengan niat lillah, jika perkataan dusta tetap dijalani, Allah Swt tidak akan meliriknya. Lirikan Allah Swt padahal mengandung nilai berkah, derajat tinggi, kemuliaan, pahala, surga dan sebagainya. Jika Allah Swt tidak sudi meliriknya, maka saat itulah puasa menjadi tanpa makna.

Kedua, perkataan yang sia-sia dan tak pantas. Ibn Majah dan al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Puasa bukanlah semata menahan makan dan minum, melainkan menahan diri dari perkataan sia-sia (laghw) dan tak pantas (rafats). Bila seorang mencela atau usil padamu, katakanlah: Aku sedang puasa. Aku sedang puasa”.

Ini tatakrama menjalankan “puasa yang bermakna”. Tidak hanya perut yang dijaga dari rasa lapar dan tenggorokan dari rasa haus, mulutpun dijaga dari pernyataan-pernyataan yang tidak diridhai-Nya. Pernyatan yang sia-sia, tidak memiliki nilai kebaikan, juga perkataan yang tak pantas, porno, dan sejenisnya, semestinya ditahan. Seluruh potensi munculnya keburukan, selekasnya disumbat untuk sementara waktu. Minimal untuk menyelamatkan puasa Ramadhan.

Selain itu, nilai puasa juga rusak karena kemaksiatan, nafsu pada makanan dan minuman. Namun begitu, bukan berarti puasa seperti ini tidak sah. Ibn Rajab al-Hambali menyatakan; “Peringkat puasa yang paling rendah itu meninggalkan minum dan makan.” Ibnu Hajar menambahkan; “Mayoritas ulama memaksudkan larangan-larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya puasa hanya karena makan, minum dan jima’.”

Kita semua harus berupaya membenahi kualitas puasa, sehingga gelar “bertakwa terus-menerus” bisa nyata diraih. Kurangi (syukur-syukur hilangkan) perkataan yang merusak dan perbanyak mengingat-Nya. Kurangi nongkrong di mal, perbanyak berdiam di masjid. Baca koran, tak lebih banyak dari baca al-Qur’an. Kurangi konsumsi makanan, perbanyak renungi laparnya perut.  

Karena itu, pernyataan Jabir bin Abdullah penting direnungi: “Andai kamu berpuasa, hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram, serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah pada hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”[]  
 
*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Ponpes Qothrotul Falah Lebak.

(HU Radar Banten, 21 Juni 2016)