Darah al-Qur’an

Oleh Nurul H. Maarif*)
    

Ulasan pada sub-judul “al-Qur’an dan Darah Manusia” yang tercantum dalam buku Fenomenologi al-Qur’an: Dimensi Keilmuan di Balik Mushaf Usmani (1991: 89-92), karya Lukman Abdul Qohar Sumabrata dkk, kiranya menarik dicermati. Terlepas kontroversi beberapa isinya, karya ini patut menjadi suplemen tambahan bagi para pecinta studi al-Qur’an.

Baginya, al-Qur’an yang diturunkan pada Ramadhan (Qs. al-Baqarah: 185) ini laksana darah dalam tubuh manusia. Bagi manusia dan bagi makhluk hidup umumnya, darah menjadi komponen paling vital yang mesti ada. Tanpa tangan, kaki, mata, telinga, atau anggota fisik lainnya, makhluk hidup masih bisa mempertahankan hidupnya. Namun tanpa darah, mustahil kehidupan bisa berlangsung. Darah pulalah yang menghantarkan gizi atau nutrisi ke seluruh pelosok tubuh. Keurgenan darah bagi kehidupan, karenanya, tak terbantahkan.

Sesungguhnya yang unik bukan soal darahnya, melainkan proses penulisnya menemukan konsep darah melalui “metodologi utak-atik” jumlah ayat. Metode ini tidak ilmiah, namun juga tak mudah dinafikan begitu saja. Berdasar hitungannya, al-Qur’an memiliki 6236 ayat. Dalam al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj (I/45), Wahbah al-Zuhaili mengakui jumlah ayat ini sesuai thariqah al-Kufiyyin (aliran ulama Kufah). Menurut ulama lain, jumlahnya 6666. Sebenarnya perbedaan ini terjadi karena perbedaan cara penghitungan belaka.

Jumlah ayat 6236, lantas diutak-atik menjadi 6+2+3+6 = 17. Pada 17 Ramadhan inilah, menurut keterangan yang populer al-Qur’an diturunkan. Konon ini bilangan “sakral”. Jumlah rakaat shalat ada 17. Tanggal proklamasi bangsa ini, juga 17. Tepatnya 17 Agustus 1945/9 Ramadhan 1364 H. Dan 1+7 = 8. Angka 8 dalam konteks Indonesia, bisa dimaknai sebagai bulan kemerdekaan, Agustus. Dan dalam konteks kajian “darah al-Qur’an”, 8 menyimbolkan huruf kedelapan dalam rangkaian hijaiyah, yakni al-dal yang menjadi kependekan dari al-dam atau darah. Dengan demikian, ayat 6236 = 17 = 8, sebetulnya menyimbolkan al-Qur’an sebagai darah bagi manusia.

al-Qur’an bagi penulis buku ini adalah darah. Terlepas setuju atau tidak, minimal ijitihadnya patut diapresiasi dalam kontek gempita kajian al-Qur’an di negeri ini. Tentu saja dalam rangka membaca, memahami dan mengamalkan isinya. al-Qur’an bukan semata untuk dibaca, melainkan diamalkan dalam keseharian. Karena itu, kandungan ajaran-ajarannya adalah darah bagi kehidupan manusia. Tanpa aliran darah al-Qur’an, kehidupannya akan kering nilai.

Menurut Wahbah al-Zuhaili (I/45), yang menganut aliran jumlah ayat 6666, al-Qur’an berisi 1000 ayat perintah, 1000 ayat larangan, 1000 ayat janji, 1000 ayat ancaman, 1000 ayat kisah, 500 ayat halal-haram, 1000 ayat perumpamaan, 100 ayat doa, dan 66 ayat abrogasi (al-naskh wa al-mansukh). Ayat-ayat ini, selayaknya mengalir dalam diri manusia, terutama kaum muslim sebagai pecintanya. Misalnya, ayat akhlak semestinya menjadi darah yang mengalir dalam dirinya. Demikian juga ayat halal dan haram. Pun ayat janji dan ancaman.

Tatkala “darah al-Qur’an” ini mengalir dalam diri seseorang, maka ucapan dan tindakannya adalah al-Qur’an itu sendiri. Hidupnya senantiasa menempuh jalur keluhuran dan jauh kehinaan. Tingkah-lakunya cerminan keagungan al-Qur’an. Dan manusia berdarah al-Qur’an paling sempurna tentu saja Rasulullah Saw. Tak heran karenanya, ketika isterinya, ‘Aisyah ditanya: “Bagimanakah akhlak Rasulullah Saw?” “Kana khuluquhu al-Qur’an/Perangainya adalah al-Qur’an”, jawabnya, seperti diriwayatkan Imam al-Bukhari.

Beliau adalah al-Qur’an yang hidup. Dan tersebab darah al-Qur’an yang mengalir itu, maka tiada cela apapun dalam dirinya. Sepeninggalnya, al-Qur’an (dan Sunnah) secara resmi diwariskan pada umatnya. Maka, umat ini sepatutnya berupaya sekeras-kerasnya mengalirkan darah al-Qur’an ini pada dirinya. Tentu sulit meniru perilaku Rasul dalam bentuknya yang sempurna. Namun setidaknya, satu dua tetes darah al-Qur’an merembes dalam diri umatnya, supaya al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan yang kering tanpa pengamalan. al-Qur’an sebagai petunjuk (Qs. al-Baqarah: 2 dan 183) akan benar-benar nyata.

Andaikan, ya andaikan, darah al-Qur’an mengalir (tak harus deras) pada diri pempimpin negeri ini, kiranya tak ada lagi kebijakan yang merugikan rakyat. Tak ada lagi kerakusan pada dunia yang berakibat kesengsaraan ribuan rakyat. Juga, tak ada lagi yang acuh pada masa depan rakyat. Dan andaikan, ya andaikan, darah al-Qur’an ini mengalir pada diri kaum muslim di negeri ini, maka predikat negeri “serpihan surga” ini akan benar-benar nyata. Langkah pertama kiranya patut diayunkan mulai Ramadhan kali ini.[]
 
*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak

(HU Radar Banten, 22 Juni 2016)