Memaknai Nuzulul Quran

Oleh Nurul H. Maarif*)

Bahwa Alquran diturunkan pada Ramadan, para ulama seiya-sekata. Ini sesuai isyarah Qs. al-Baqarah: 185: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” Qs. al-Qadr: 1 meyakinkan; “Seungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr”.

Bahwa Alquran turun melalui tiga tahapan, para ulama juga tidak banyak berdebat. Al-Zarkasyi (w. 794 H), Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), juga Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911 H), diantara penganut pandangan ini. Tahap turun ke Lauh al-Mahfudh, ke Bait al-Izzah (langit dunia) dan ke bumi pada Muhammad Saw.

Istilah nuzul (turun) untuk Alquran, tampaknya diperselisihkan. ‘Abd al-‘Adhim al-Zurqani termasuk yang kurang “sreg” pada penggunaan istilah “turun” untuk pengertian “dari atas ke bawah”, karena kalam Allah bukanlah makhluk material. Pemaknaan majazi (metaforis) lebih dipilih oleh penulis Manahil al-‘Irfan ini. Dalam ranah masyarakat muslim, nuzul dalam pengertian “turun dari atas ke bawah” inilah nyatanya yang populer. Namun tak apa kiranya, toh masing-masing pihak berniat membela kitab sucinya.

Khilaf (perbedaan pandangan) yang serius justru terjadi terkait waktu turunnya. Sejarawan gaek Ibn Ishaq (w. 150 H) diantara yang meyakini Alquran yang berisi 6236 ayat ini turun pada 17 Ramadan. Argumen nash-nya adalah Qs. al-Anfal: 41: “Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.”

Dalam kajiannya, waktu pertemuan dua pasukan – muslimin dan musyrikin – adalah Jum’at, 17 Ramadan 2 H. Sedang Hari Furqan, adalah hari diturunkannya Alquran untuk pertama kali di Gua Hira. Keduanya sama-sama 17 Ramadan. Kendati hanya penafsiran historis, pendapat ini kian populer setelah dinukil oleh Muhammad al-Khudhari dalam Tarikh al-Tasyri’ al-Islami. Pandangan ini kian menyebar, termasuk di kalangan muslim Indonesia. Dan entah sejak kapan, perayaan turunnya Alquran pada 17 Ramadan itu mulai diperingati dengan berbagai ritualnya.

Pendapat lain menarik juga dicermati, yang menyatakan Alquran turun pada 24 Ramadan. Ini didukung oleh tiga Hadis. Misalnya, Hadis dari Wasilah bin al-Asqa yang diriwayatkan Ibn Hanbal (w. 241 H). Muhammad Saw menyatakan, lembaran (shuhuf) Ibrahim diturunkan pada hari ke-1 Ramadan, Taurat hari ke-6 Ramadan, Injil hari ke-13 Ramadan dan Alquran hari ke-24 Ramadan. Hadis ini juga diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah oleh Ibn Mardawaih dan dari Wasilah oleh Imam al-Baihaqi. Menurut pakar Hadis Indonesia Ali Mustafa Yaqub (Islam Masa Kini: 7), kualitas Hadis pertama dhaif (lemah) karena perawi Imran Abu al-‘Awwam. Kualitas Hadis kedua dan ketiga masih didiskusikan.

Terlepas perbedaan-perbedaan yang kian menghangatkan gempita kajian Alquran itu, yang terpenting bagi umat Islam adalah pemaknaan substansial terhadap peristiwa turunnya Alquran, supaya tidak berhenti semata pada tataran seremonial. Misalnya, Pertama, upaya pelestarian Alquran sebagai pusaka sakti warisan Nabi. Dalam sabdanya, “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Malik, al-Hakim dan al-Baihaqi). Alquran adalah warisan tak ternilai bagi umat ini, yang semestinya dijaga redaksi dan maknanya. Menjaga redaksi dengan membaca dan menghafalnya. Dan menjaga makna dengan mengamalkannya. Tak elok kiranya, jika umat ini lebih mati-matian membela warisan harta keluarganya ketimbang warisan ideologis Nabinya.

Kedua, Alquran sebagai kitab petunjuk (Qs. al-Baqarah: 2 dan 183) harus diposisikan di atas segalanya. Wahbah al-Zuhaili (al-Tafsir al-Munir: I/65) menyebut Alquran sebagai dustur al-hayah al-basyariyyah (buku induk kehidupan manusia). Sebagai buku petunjuk, yang juga disebut manhaj al-hayah (cara pandang kehidupan), selayaknya isinya menjadi “darah” kehidupan manusia, sehingga akan tercipta generasi qurani; generasi yang ucapan dan perilakunya mencerminkan nilai-nilai keluhuran, sehingga predikat baldah thayyibah wa rabb ghafur bisa terwujud.

Ketiga, urgensi – pinjam istilah M. Quraish Shihab – membumikan visi utama Alquran sebagai rahmat bagi sekalian alam (Qs. al-Anbiya’: 107), semestinya digencarkan di seantero bumi supaya nilai-nilainya menjadi pengayom seluruh golongan. Penghargaan pada perbedaan, pemuliaan sisi kemanusiaan dan makhluk lain sebagai “keluarga besar” Allah semestinya dikedepankan. Tugas yang tidak mudah diemban, namun harus terus diupayakan.

Andai tiga hal ini bisa diimplementasikan dalam kehidupan muslim, kiranya ritual nuzulul Quran tidak akan kering nilai dan nir-makna. Perayaan “hari turun Alquran” ini selayaknya menjadi upaya pengimplementasian sekaligus pembumian nilai-nilai Alquran, yang perlu didengungkan sekeras-kerasnya pada setiap kesempatan.[]
    
*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak