Agama yang Memberdayakan

Oleh Nurul H. Maarif*)

Islam tidak mementingkan kesalehan individual, kecuali juga mementingkan kesalehan sosial. Tipe kesalehan yang pertama itu penting. Namun tipe kesalehan kedua tak kalah pentingnya. Sebagai agama rahmat semesta, Islam menekankan kepedulian pada sesama. Ajaran-ajaran yang bertebaran dalam Alquran dan Hadis, karenanya, tidak hanya berujud ibadah mahdhah (pribadi), melainkan juga ghairu mahdhah (sosial). Bahkan disebutkan dalam kaidah fikih, al-muta’addi afdhal min al-qashir (ibadah yang manfaatnya dinikmati orang lain lebih utama ketimbang ibadah yang manfaatnya dirasakan diri sendiri).

Tak elok rasanya, dan tentu bukan ajaran Islam, jika kita berkhusyu’-khusyu’ di masjid, sementara masyarakat sekitar perutnya keroncongan menahan lapar. Tak elok kiranya, dan tentu juga bukan ajaran Islam, kita sibuk memutar tasbih di masjid, sementara masyarakat sekitar kedinginan karena tidak memiliki sandang yang layak. Tak elok pula kelihatannya, dan tentu bukan ajaran Islam, mulut kita komat-kamit sibuk melafal dzikir, sementara masyarakat sekitar hidup dalam kemiskinan yang menyedihkan. Kemiskinan memang laksana ilalang yang patah tumbuh hilang berganti. Namun Islam mengajarkan umatnya untuk mematahkan ilalang melalui pemberdayaan. Soal tumbuh lagi, itu urusan lain.

Itulah yang Islam titahkan pada umatnya. Nyata sekali, ajaran kepedulian dalam berbagai bentuknya banyak ditemukan. Bahkan, kepedulian sosial berupa pembayaran zakat (fitrah dan harta kekayaan) menjadi rukun Islam yang ketiga. Zakat menjadi kunci utama keislaman seorang muslim dan menempati level ketiga setelah syahadat dan shalat. Kewajibannya pun jelas dinyatakan Alquran: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan  mereka  dan mendoalah untuk mereka.” (Qs. at-Taubah: 103).

Peruntukan dana zakat juga jelas. Alquran menyebutkan: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk  budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (Qs. at-Taubah: 60). Delapan kelompok ini mudah dijumpai dan sepatutnya diperhatikan sebagai obyek kepedulian dalam Islam.

Mereka inilah – minus pengurus zakat – golongan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pada awal 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) menengarai, penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan per-September 2014 sebesar 27,73 juta jiwa, dan pada September 2015 menjadi 28,51 juta jiwa. Lonjakannya dalam setahun cukup tinggi, 780 ribu jiwa. Jumlah ini tersebar di berbagai belahan negeri yang memiliki potensi kekayaan mengagumkan ini: potensi di darat, perut bumi, udara dan laut. Tak hanya muslim, juga nonmuslim.

Mungkinkah dana zakat membantu memberdayakan mereka? Atau setidaknya meminimalisir laju angka kemiskinan yang menakutkan itu? Hasil riset Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Institute Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa potensi zakat secara nasional mencapai Rp. 217 triliun setiap tahun. Angka yang menakjubkan ini dilihat berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB). PDB naik, potensi zakat pun naik. Angka ini didasarkan pada PDB 2010, padahal PDB bergerak naik tiap tahunnya. Untuk tahun ini, dengan melihat pertumbuhan PDB tahun-tahun sesudahnya, konon potensi zakat bisa naik menjadi Rp. 274 triliun. Dana yang sangat besar, yang potensial digunakan untuk memperdayakan 35 % umat muslim yang berada di bawah garis kemiskinan dari total penduduk muslim sekitar 210 juta.

Dengan dana di atas Rp. 200 triliun, semestinya banyak program pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan, terutama di bidang usaha kecil. Upaya mengangkat mustahiq (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat) akan bisa dilaksanakan. Tapi faktanya, pada April 2016 lalu, dana yang tergali baru Rp. 3,7 triliun, seperti disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat Kementerian Agama RI, Tarmizi Tohor, di Batam (Rabu, 27 April 2016).

Betapa timpang antara potensi dan realisasi. Dan umat ini masih selalu membanggakan potensi yang ada, yang sangat sulit terealisasi. Entahlah titik pusat persoalan itu ada di mana. Apakah karena umat muslim terkena dobel kewajiban: pajak (kewajiban negara) dan zakat (kewajiban agama), seperti disinyalir oleh beberapa pemikir muslim? Terlepas apa sebabnya, yang pasti semua pihak harus bekerja keras, cerdas dan ikhlas untuk mengupayakan peningkatan realisasi dana zakat ini.

Pengelola zakat harus lebih all out. Para muzakki dan para pengusaha muslim (yang entah berapa ribu jumlahnya) harus lebih rela melepas sebagian hartanya yang terdapat hak pihak lain. Harus ada keyakinan, zakat/sedekah/infak bukan mengurangi harta, melainkan menambahnya. Allah Swt berjanji akan menggantinya (Qs. Saba: 31). Jika ini bisa dilakukan, maka ajaran pemberdayaan Islam akan mewujud nyata. Kaum muslim akan benar-benar menjadi masyarakat yang berdaya, bukan masyarakat yang berpotensei berdaya.[]   

*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak

(HU Radar Banten, 27 Juni 2016)