Berburu Lailatul Qadar

Oleh Nurul H. Maarif

Berdasar cerita ‘Aisyah r.a., Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan perilaku beribadah Rasulullah Saw pada 10 hari terakhir Ramadan. Pada hari-hari terakhir inilah suaminya menguatkan ikatan tali sarungnya (syadda mi’zarah), sebagai simbol keseriusan dan kesungguhannya beribadah.

Dalam tuturan ‘Aisyah, beliau ahya lailahu (menghidupkan malamnya) dan aiqadha ahlah (membangunkan sanak familinya). Malam dihidupkan dengan qiyam al-lail (shalat malam) dan mendaras Alquran. Di 10 hari terakhir ini, beliau lebih giat beribadah dibanding hari-hari biasa (HR. Imam Muslim). Bahkan beliau rutin i’tikaf hingga wafatnya (HR. al-Bukhari dan Muslim).
 
Itulah perilaku ibadah Ramadan Rasulullah. Sejak dimulainya Ramadan, beliau telah menata niat semata iman dan mencari ridha-Nya (imanan wa ihtisaban) dan melaksanakan ibadah malamnya dengan sungguh-sungguh. Di luar Ramadan, beliau sosok yang paling banyak beribadah, hingga kakinya bengkak-bengkak, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya dan dijamin surga. “Afalam akun ‘abdan syakuran/Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” jawabnya ketika ditanya. (HR. al-Bukhari).

Melihat tradisi ibadah ini, Rasulullah Saw ibarat pelari. Dari start awal, beliau telah berlari kencang dan lebih kencang lagi jelang garis finis. Ibarat kekasih yang dirindukan, beliau sedih ketika hendak ditinggalkannya. Detik, menit, jam, begitu berarti, terutama 10 hari terakhir. Inilah momen terpenting sebelum perpisahan.

Lebih dari itu, berdasarkan Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al- Khudri, Rasulullah Saw menyatakan, Malam Seribu Bulan atau Lailatul Qadar juga hadir di 10 hari terakhir ini. Tak heran, semua berburu malam yang lebih baik dari seribu bulan ini (Qs. al-Qadr: 3), karena pada malam inilah Alquran diturunkan (ayat 1) dan malaikat ramai-ramai eksodus ke bumi (ayat 4). Bahkan al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Siapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam karena iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Untuk mengisi 10 hari terakhir Ramadan, kitapun meniru perilaku ibadah Rasulullah. Di banyak tempat, kita berduyun-duyun ke masjid tengah malam. Qiyam al-lail, i’tikaf atau sekedar daras Alquran tiba-tiba dilakukan penuh antusias, dengan harapan ibadahnya dilipatgandakan sedemikian rupa. Semua ingin mendapat dorprize ibadah yang dampaknya bisa menutupi keburukan sebelum dan setelahnya.

Apa perbedaan perilaku ibadah Rasulullah dengan kita di hari jelang perpisahan ini? Pertama, Rasulullah Saw meniatkannya murni karena Allah Swt, bukan karena mengejar dorprize. Dan, ibadah yang dilakukannya tak lain sebagai luapan syukur atas segala karunia-Nya. Pada umumnya, kita mengejar malam itu sebagai upaya meraih kebaikan sebanyak-banyaknya secara instan. Ada nilai kemanjaan pada diri kita, karena ingin melakukan perbuatan simpel dengan nilai besar.

Kedua, ibarat pelari, Rasulullah Saw telah berlari kencang dari awal untuk mencapai finis. Dan lebih kencang lagi ketika garis finis itu telah nampak di depan mata. Ini berbeda dengan kita, yang justru menyalip di tikungan, dengan langsung mendekati garis finis, tanpa berlari dari start awal. Tak heran, di luar Ramadan, ibadah Rasulullah begitu hebatnya. Sedangkan ibadah kita di luar Ramadan hanya seperlunya. Semata sebagai ketuntasan ibadah formal pada Allah Swt.

Ketiga, Rasulullah juga ingin mendapatkan ampunan pada malam seribu bulan itu. Bonus ampunan memang Allah Swt tebarkan. Namun lihatlah! Setiap hari, setidaknya beliau meminta ampunan pada Allah Swt sebanyak 70 kali, padahal beliau terjaga dari dosa dan telah digaransi surga. Kita lagi-lagi berbeda. Di luar Ramadan, kita lebih sering melupakan permohonan ampun, padahal betapa banyak dan mengaratnya dosa-dosa yang sudah kita lakukan. Untuk itu, semestinya kita perbaiki sikap kita pada Ramadan ini, dengan menjalani keistiqamahan beribadah baik di luar maupun di dalam Ramadan.   

Jika diibaratkan pemburu, Rasulullah Saw telah jauh-jauh hari menyiapkan senapan berikut pelurunya. Pada 10 hari terakhir Ramadan itulah beliau siap menekan pelatuk untuk menembak sasaran. Sebaliknya, kita hanya menyiapkan senapan tanpa menyediakan peluru. Ibarat berburu tanpa peluru. Kendati malam kadar itu nyata ada, kita tak bisa menembaknya. Tugas kita hari ini, karenanya memperbaiki diri dan visi beribadah, sehingga kita mendapatkan yang terbaik di Ramadan ini.[]
 
*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak

(HU Radar Banten, Rabu, 29 Juni 2016)