Pemenang Sesungguhnya

Oleh Nurul H. Maarif

Allah Swt mewajibkan puasa Ramadan sebagai sarana menekan keliaran nafsu negatif, yang akan merusak konsistensi peribadahan seorang hamba. Di manapun, naluri dasar nafsu negatif (amarah) ini selalu menjauhkan sang perindu dari Kekasihnya. Allah Swt berfirman: “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Qs. Yusuf: 53).

Nafsu yang “diberi rahmat oleh Tuhan” saja yang tidak mengajak pada kebinasaan. Nafsu yang mana? Tentu saja nafsu positif (muthmainnah). Oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas, nafsu ini dinilai senantiasa mengajak pada kebenaran. Ciri-cirinya, menurut penulis Tazkiyah al-Nufus, Ahmad Farid, bila nafsu terasa damai, tenteram dan tenang kala mengingat-Nya. Juga rindu dan selalu ingin berdekatan dengan-Nya. Inilah nafsu muthmainnah yang digambarkan Qs. al-Fajr: 27-30, yang menghantarkan pelakunya mencecap keindahan surga-Nya.

Namun lumrahnya, yang menguasai manusia justru nafsu negatif, bukan yang positif. Dua nafsu ini saling membelakangi. Dan tugas umat Islam melalui puasa Ramadan, sesungguhnya tak lain untuk mengubah (seminimal-minimalnya menekan) nafsu negatif menjadi nafsu positif. Untuk kepentingan ini, maka kebiasan-kebiasan yang melanggengkan cinta dunia ditekan dan dilarang di siang hari: makan, minum, seks, dst.

Benar belaka, inilah cara Allah Swt membantu manusia menguasai dirinya. Lihat saja misalnya, anak muda yang belum mampu menikah karena terkendala hal-hal teknis, maka dianjurkan memperbanyak puasa, karena aghadhdhu li al-bashar wa ahshan li al-faraj (lebih memejamkan mata dan menjaga kemaluan). Keterangan ini valid karena diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Ya, puasa memang mampu mengekang nafsu biologis yang meluap-luap. Yang sering terdengar melakukan tindak asusila, karenanya, tak lain para pemabuk, bukan pelaku puasa.

Karena itu, puasa Ramadan semestinya mampu mengekang nafsu negatif sedemikian rupa, sehingga tergantikan nafsu yang mendorong untuk mendekat sedekat-dekatnya pada Allah Swt. Ketika mulut tak lagi kotor, perut tak lagi rakus, dan hati tak lagi “najis”, maka Allah Swt akan hadir dan menampakkan cahaya-Nya. Predikat sebagai orang yang bertakwa (Qs. al-Baqarah: 183), niscaya akan benar-benar tercapai secara purna.

Tapi nyatanya, banyak diantara kita yang puasanya tidak mampu menekan nafsu negatifnya. Mulutnya masih terbiasa menyakiti atau mengumbar bualan. Perutnya juga masih tetap dengan ritme kerakusan. Hatinya tidak kian dekat dengan-Nya. Jika ini yang terjadi, maka predikat bertakwa hanya akan menjadi angan kosong. Tentu bukan puasanya yang salah, melainkan niat dan penghayatannya yang perlu dikoreksi. Dan ini tipe puasa yang banyak dilakukan, yang reward-nya hanya rasa lapar dan dahaga (HR Ibn Majah, al-Nasai, dll).

Uniknya, kendati hanya beraih lapar dan dahaga, nyatanya kita merasa telah menjadi pemenang sejati. Kita merasa bak bayi merah yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Takbir sebagai lambang kemenangan lantas terdengar bersaut-sautan sepanjang malam 1 Syawal, menandai kembalinya pada kesucian (idul fitri). Pawai keliling juga diselenggarakan dengan gempitanya sepanjang malam. Tak jarang dengan melalaikan kewajiban shalat shubuh dan kenyamanan khalayak. Entahlah, ini penanda kemenangan melawan hawa nafsu atau sesungguhnya (hanya) penanda selesainya puasa sebulan penuh?

Sebab, ada ungkapan yang penting direnungi: laisa al-‘id li man labisa al-jadid // wa lakinna al-‘id liman tha’atuhu tazid. Idul fitri atau kembali pada kesucian, bukanlah bagi orang yang baju atau sandangnya baru, melainkan bagi siapapun yang ketaatannya pada Allah Swt terus merangkak naik. Usai puasa Ramadan, ibadahnya kian rajin, khusyu’ dan berkualitas. Hubungan sosialnya kian elegan. Tidak lagi berani korupsi. Tidak lagi menyakiti sesama. Tidak lagi menzalimi rakyat. Tidak lagi mementingkan ego sektoralnya. Tidak lagi menghinakan orang lain. Tidak lagi hanya memikirkan dunia yang fana. Orang yang puasanya berdampak mengalahkan “setan-setan dunia” inilah yang sesungguhnya menjadi the winner atau sang pemenang.[]
 
*) Wakil Sekretaris FSPP Kab. Lebak dan Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak

(HU Radar Banten, Kamis, 30 Juni 2016)