Selamat Jalan Kekasih

Oleh Nurul H. Maarif

Ya’qub punya 12 putra. Yusuf di antaranya.
Satu tahun 12 bulan. Ramadan salah satunya.

Yusuf anak emas Ayahnya.
Ramadan bulan tercinta Penciptanya.

Yusuf penyabar. Memaafkan kejahatan saudara-saudaranya
Ramadan bulan ampunan. Diampunilah dosa bulan-bulan lainnya

Kala paceklik tiba, Yusuf memenuhi kebutuhan sebelas saudaranya
Kala amal tak seberapa, Ramadan menambal celah-celah sebelas bulan lainnya

Ya’qub yang buta mencium aroma Yusuf dan terusap oleh bajunya,
maka terang kembali penglihatannya.
Bila hati ini buta, hiruplah harum Ramadan dan giatlah di dalamnya,
maka benderang kembali hati kita.

Untaian kata indah nan puitis di atas diungkapkan oleh Imam Abu al-Faraj Jamal al-Din bin al-Jauzi (508 H-597 H) dalam karyanya, Bustan al-Wa’idhin wa Riyadh al-Sami’in. Ungkapan ini menggambarkan betapa Ramadan merupakan bulan terpenting bagi kaum muslim, diantara 12 bulan hijriah yang ada. Semua berkepentingan dengannya. Semua merindukannya, bak merindu kehadiran kekasih hati. Siang malam, Ramadan menjadi pujaan.  

Kerinduan ini karena Ramadan menghadirkan aneka keutamaan dan pesona menawan. Para pendosa mengharapkan ampunan-Nya. Para shalihin meningkatkan ibadahnya. Para awam gembira bereuforia atas kehadirannya. Pebisnis juga memanfaatkannya untuk keuntungan duniawi. Sebulan penuh, Ramadan dielu-elukan dan dipuja-puja. Kita semua seakan tak rela ditinggalkannya.  

Tak heran karenanya, dalam Hadis riwayat al-Thabrani, Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi dari Abu Mas’ud al-Ghifari yang oleh banyak ahli Hadis statusnya dinilai tidak valid karena keberadaan perawi bernama Jarir bin Ayyub, Rasulullah Saw menyebutkan; “Andaikan manusia mengetahui keutamaan yang terkandung pada Ramadan, niscaya mereka berharap agar sepanjang tahun adalah Ramadan”.

Benar belaka, ungkapan ini ditengarai bukan Hadis Nabi Muhammad. Namun setidaknya ungkapan ini memberi gambaran, betapa Ramadan adalah bulan yang sepatutnya dirindu, dicumbu, dinanti, didamba, dipuja pun dicinta. Nestapa rasanya jika ia jauh dari kehidupan kita. Bak pecinta yang ditinggal kekasihnya. Sayangnya, tak banyak yang benar-benar memperlakukan Ramadan laiknya kekasih hati.

Semestinya, puasa yang kita jalani sebulan penuh ini mencerminkan “Puasa Seorang Perindu”, seperti diistilahkan Ahmad Bahjat (2006). Puasa yang tidak melulu mengejar formalitas dengan mengabaikan makna utamanya. Tidak mengutamakan yang artifisial dengan mengenyampingkan yang substansial. Sehingga, proses bercengkrama dengannya betul-betul menghadirkan keberkahan sejati; kemuliaan, keluhuran, ampunnan dan perubahan kepribadian. Ikutilah apa-apa yang dimaui Ramadan sebagai kekasih hati.

Ada ungkapan yang populer: inna al-muhibba liman yuhibbu muthi’ (sesungguhnya pecinta menaati kekasih hatinya). Jika kita mengaku mencintai Ramadan, maka apa-apa yang dimaui Allah Swt melalui Ramadan, semestinya kita jalani sebaik-baiknya. Jalani Ramadan semata karena beriman dan mencari ridha-Nya. Tunaikan ibadah-ibadahnya seakan kita tak akan lagi bersua dengannya.  

Dalam hitungan hari, kekasih itu akan meninggalkan kita. Manfaatkan waktu yang tersisa untuk bermanja-manjaan. Dan relakan kekasih itu pergi membawa kesan terindah. Lalu kita jalani hidup sehari-hari seakan-akan tetap bersamanya. Kemudian kita tatap tahun depan penuh harap atas kehadirannya. Siapkan fisik dan psikis kita untuk menyambutnya dengan semangat yang berlipatganda. Selamat jalan kekasih![]
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten
 
(HU Radar Banten, Sabtu, 2 Juli 2016)