Menteladani Kepemimpinan Umar

Oleh Cahyati*

Aslam, sahaya Umar bin al-Khattab, berkata; “Suatu hari aku bersama Umar pergi ke suatu tempat. Lalu terlihat nyala api dari kejauhan.”

“Mari kita lihat,” kata Umar.

Setiba di sana, tampak seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menangis. Wanita tua itu tengah merebus air di atas tungku yang menyala.

“Mengapa anak-anakmu menangis?” tanya Umar.

“Mereka menangis karena menahan lapar,” jawab wanita paruh baya itu.

“Apa yang sedang kau masak dalam panci itu?”

“Panci ini hanya berisi air. Aku lakukan ini hanya untuk menghibur anak-anakku agar mereka tenang dan tertidur. Aku akan mengadukan Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab kepada Allah nanti di hari kiamat, karena ia tidak memperhatikan kesusahanku sebagai rakyatnya,” terangnya. Ia tidak mengetahui, sosok di hadapannya adalah Amirul Muknin, Umar bin al-Khattab.

Seketika itu Umar menangis tersedu-sedu, sembari bertanya: “Semoga Allah merahmatimu. Tapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu ini?”

“Dia pemimpin kami. Dia harus tahu keadaan kami.”

“Lalu Umar mengajakku kembali ke Madinah. Beliau mengambil sebuah karung, kemudian mengisinya dengan gandum, kurma, mentega, beberapa potong pakaian dan beberapa dirham yang diambil dari Baitul Mal (kas negara),” lanjut Aslam.

“Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku!,” pinta Umar.

“Biarkan aku yang membawanya, wahai Amirul Mukminin,” Aslam menawarkan diri.

“Tidak! Letakkan saja di pundakku!”

Beberapa kali Aslam menawarkan diri membawa karung itu. “Apakah engkau akan memikul dosa-dosaku pada hari akhir nanti? Tidak mungkin! Aku sendirilah yang akan memikulnya dan aku sendiri pula yang akan ditanya pada hari itu!”

Aslam dengan sangat terpaksa meletakkan karung itu di pundaknya. Lalu dengan tergesa-gesa Umar membawanya ke tempat wanita tadi. Setibanya di sana, ia langsung memasukkan tepung, kurma dan sedikit mentega ke dalam panci, lalu mengaduk dan menyalakan tungku dengan tangannya sendiri.

“Aku melihat asap mengenai janggutnya yang tebal. Umar memasak hingga bubur siap dihidangkan dan ia sendiri pula yang menghidangkan makanan kepada keluarga itu. Wanita itupun sangat senang dan berkata. Ia berkata semoga Allah memberimu balasan yang baik. Engkau lebih berhak menjadi khalifah dari pada Umar!,” kisah Aslam.

Cerita di atas hanya satu dari banyaknya kisah teladan para khalifah zaman dahulu yang dapat kita renungkan bersama. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil. Pertama, Umar hampir setiap hari bahkan setiap malam berkeliling wilayahnya untuk melihat kondisi rakyatnya. Memastikan apakah seluruh rakyatnya mendapat kenyamanan dan hak-hak yang semestinya diperoleh. Apa yang dilakukan oleh Umar ini terkenal dengan istilah “blusukan”. Semoga para pemimpin saat ini dapat meneladaninya. Blusukan pemimpin sangat baik untuk kesejahteraan rakyat di hari esoknya. Bukan hanya blusukan saat menjelang pemilihan, namun blusukan sepanjang masa kepemimpinannya.

Kedua, kerendahhatian seorang pemimpin. Dalam kisah itu disebutkan bahwa Umar bin al-Khattab membawa karung yang berisi penuh barang-barang di pundaknya sendiri. Ia tidak gengsi dan tidak minta bantuan pemimpinnya. Ini mencerminkan betapa sederhana dan besar hatinya seorang pemimpin. Hal ini sangat berbeda denga trend kepemimpinan di masa sekarang. Setiap melakukan tugas atau pergi ke suatu tempat harus dalam penjagaan yang ketat, di sampingnya selalu ada asisten yang akan memenuhi kebutuhan dan perintah yang diberikan.

Ketiga, pemimpin sebagai pelayan rakyat. Pemimpin selalu bersedia melayani kebutuhan rakyat. Rasululah Saw bersabda: “Sayyidu al-qaum khadimuhum/pemimpin adalah pelayan rakyat”. Dengan kasih sayang yang dicurahkan kepada rakyatnya, maka tumbuh rasa cinta dan hormat dari rakyat bagi dirinya. Kesadaran melayani inilah yang sedang diteladankan dengan sangat luhur oleh Umar, sebagai sosok yang menjiwai setiap sabda-sabda dan perilaku Rasulullah. Perilaku Umar ini sesungguhnya kritik bagi kebanyakan pemimpin hari ini.

Keempat, kesederhanaan pemimpin. Umar tipe pemimpin yang tidak menonjolkan dirinya di hadapan rakyat. Bahkan dari kisah di atas, kita bisa melihat betapa rakyatnya sendiri tidak mengenalinya. Bagi Umar, keterkenalan di hadapan manusia sama sekali tidak penting. Urusan dia semata di hadapan Allah.   

Kelima, kesadaran akan pertanggungjawaban kepemimpinan di hadapan Allah. Tangisan Umar saat mendengar keluhan hati wanita itu dan penolakannya pada uluran tangan Aslam, tak lain karena ia memiliki kesadaran akan amanah jabatan yang Allah berikan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Ia ingin memanggul tanggung jawab itu sendirian, sebagaimana ia memanggul karung itu sendirian.

Semoga calon-calon pemimpin yang kini tengah berkompetisi untuk menjadi kepala daerah di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Banten mampu meneladani kepimimpinan Umar. Sungguh kita merindukan sosok pemimpin yang minimal mendekati karakter kepemimpinan Umar. Amin!

*Penulis adalah Mahasiswi IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten dan Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak.

(Radar Banten, Kamis, 15 Desember 2016)