Berharap Maulid Bukan Sebatas Seremonial

Oleh Nurul H. Maarif*)

“Untuk menghormati dirimu, kamu tidak butuh dalil. Untuk merayakan hari kelahiranmu, kamu tidak tanya dalil. Giliran untuk menghormati dan merayakan hari kelahiran pemimpin agungmu Rasulullah Saw, kamu dengan gaya orang alim menanyakan Hadis shahihnya.” (KH. Ahmad “Gus Mus” Mustofa Bisri).

Sindiran berkelas putera penulis karya tafsir al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz, ini mengisyaratkan perdebatan status hukum perayaan Maulid Nabi yang tak kunjung tuntas hingga hari ini. Sebagian kecil menolaknya dengan keras dan mayoritas menerimanya dengan lapang dada. Penolaknya selalu berargumen klasik, perayaan ini secara empiris dan faktual tidak pernah dilakukan atau minimal diajarkan oleh Rasulullah Saw alias bid’ah.

Tapi kaum muslim mana yang menilai kegiatan ini buruk 100 persen? Pelakunya pasti sesat dan masuk neraka? Biarkan Allah Swt yang menilainya melalui keadilan-Nya. Dan biarkan Rasulullah Saw yang merasakan bentuk kecintaan umatnya itu. Toh, semua ini tak lebih sebagai sebentuk syukuran kolektif atas diutusnya manusia termulia Muhammad Saw sebagai rahmat bagi semesta. Manusia mutiara yang karenanya alam raya ini diciptakan (lawlaka lawlaka ma khalaqtu al-aflak), seperti ucapan yang dinilai sebagai Hadis Qudsi.

Begitu banyak kebaikan dan nilai positif bisa didapati dari kegiatan ini, kendati kegiatan ini di-bid’ah-kan oleh sebagian kecil umat Islam. Sedekah, kebersamaan, kekompakan, kecintaan, peneladanan, kenangan dan sebagainya, atas kehadiran Sang Juru Selamat itu, semua ada di sana. Tak heran karenanya, jika perayaan maulid sudah berjalan sejak lama. Bahkan kemenangan pasukan Islam pada perang Salib yang dipimpin Shalahuddin al-Ayyubi, itu karena kehidupan Rasulullah Saw diungkap sebagai pembangkit ghirah keislaman mereka.

Untuk itu, terkait sejarah dan urgensi perayaan maulid ini, telaah secara baik misalnya, buku Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw (1994) karya Nico Kaptein, al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-‘Alam fi Maulid Sayyid Walad Adam (1995) karya Ibn Hajar al-Haitami, al-Ajwibah al-Ghaliyah fi ‘Aqidah al-Firqah al-Najiyah (1999) karya Zain al-Abidin al-Alawi al-Husaini, dan sebagainya. Melihat fakta-fakta yang ada, perayaan maulid nyatanya sudah terbiasa dilakukan oleh kaum muslim sepeninggal Rasulullah Saw dan dilakukan di berbagai belahan dunia.

Karena itu, jika hari ini masih saja ada sedikit kaum muslim yang menyoal legalitas atau halal-haram perayaan maulid, apa kata dunia? Hingga kapan umat Islam terseok-seok mengejar ketertinggalan hanya karena meributkan hal-hal yang furu’iyah (cabang) dan bukan prinsip utama dalam keberagamaan? Mari umat Islam bangkit-maju dengan menjadikan kehidupan Rasulullah Saw sejak lahir pada 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah hingga wafat pada 12 Rabi’ul Awal 11 H sebagai spirit bersama.

Mencintai untuk Meneladani
Di negeri Serpihan Surga Indonesia ini, perayaan maulid bukan barang asing. Mayoritas umat Islam menjalaninya dengan riang gembira tanpa menyoal legalitasnya. Bahkan tak jarang hingga dirayakan di luar bulan maulid. Yang menyoalnya hanya segelintir orang yang barangkali belum “banyak piknik.” Karena itu, mayoritas umat Islam yang telah menjalankannya secara rutin tiap tahun, pada Rabi’ul Awal, tidak perlu risau. “’Alaikum bi al-sawad al-a’dham”, pesan Rasulullah Saw. Jika muncul perbedaan pandangan, ikutilah kelompok mayoritas, karena katanya; la tajtami’u ummati ‘ala khata’ (umatku tidak akan bersepakat dalam kekeliruan).

Namun demikian, bukan berarti penyelenggaraan Maulid Nabi yang demikian heboh di berbagai belahan negeri ini tidak perlu diberi catatan. Betul belaka, banyak kebaikan di sana, namun juga ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Kebaikannya didaur ulang terus-menerus dan kekurangannya dievalusi juga terus-menerus. Beberapa catatan itu, misalnya;

Pertama: glamoritas penyelenggaraan. Diakui, perayaan maulid oleh masyarakat kita sangat glamor atau jor-joran. Seringkali mewah. Apapun dilakukan oleh masyarakat kita atas dasar mencintai junjungannya. Darah “man ‘adhama malid al-nabi faqad ahya al-Islam/siapa mengagungkan maulid Nabi, sungguh dia telah menghidupkan Islam” benar-benar mengalir dalam dirinya. Pikiran, tenaga, bahkan uang dicurahkan. Entah, berapa milyar habis untuk penyelenggaraan maulid di seluruh penjuru negeri ini, baik pra, hari H, maupun setelahnya.

Penceramah terbaik dihadirkan dengan tarif puluhan juta. Qari’ dan qari’ah terbaik juga didatangkan dengan tarif jutaan. Tak jarang hingga lebih dari satu penceramah. Juga tak jarang lebih dari lima pelantun al-Qur’an sekaligus. Panggung yang mewah berdiri megah. Makan-makanan terbaik diproduksi. Dana yang dibutuhkan perperhelatan di kampung saja, bisa puluhan juta. Semua seakan berlomba menampilkan yang terbaik, apapun resikonya. Dan tentu sah-sah saja sebagai bentuk kecintaan.

Namun jika menelaah kehidupan Rasulullah Saw secara seksama, beliau bukanlah tipe orang yang menggemari nilai-nilai artifisial. Sehari makan dan sehari puasa, itulah yang dijalani. Jika ada makanan, beliau bersyukur. Jika berpuasa, beliau selalu berdoa di hadapan-Nya. Perabot rumahnya tidak ada yang mewah. Tempat tidurnya hanya terisi serabut pelepah kurma atau tikar kasar, yang seringkali membekas di pipi atau punggungnya. Tawaran Gunung Uhud dan Pasir Makkah menjadi emas, tak digubrisnya karena memikirkan masa depan umatnya. Kepeduliannya pada anak yatim begitu hebat tiada tanding. Beliau banyak menangisi nasib umatnya.

Karena kitu, penulis husnudhdhan, beliau lebih memilih perayaan yang substansial bukan yang artifial. Ala kadarnya namun dengan kekhidmatan terbaik. Dana-dana puluhan juta yang digunakan untuk pawai atau hal-hal lain yang tidak terkait substansi, lebih bermanfaat disumbangkan pada anak-anak yatim, fakir, janda-janda, dll, sebagai kegembiraan. Inilah yang diteladankan oleh Rasulullah Saw. Jangan sampai, perayaan maulid yang sejatinya diniatkan untuk membuat beliau “tersenyum”, justru membuatnya “menangis.”
 
Kedua, mencintai untuk meneladani. Banyak Hadis Rasulullah Saw yang mengisyaratkan, siapa mencintai dirinya, maka ia akan bersamanya di akhirat kelak. Juga siapa memuliakan dirinya, maka ia memuliakan Allah Swt. Siapa memuliakan Allah Swt, maka surga menjadi tempatnya kelak. Keterangan-keterangan ini bisa ditemukan dalam Lubab al-Hadits al-Hatsits karya Jalaluddin al-Suyuti. Dan memang sama sekali tidak salah umat Islam begitu mencintai Rasulnya. Bahkan ini kewajiban dasar.  

Namun tentu saja, mencintai tidak cukup selesai sebatas seremonial. Tidak cukup umat Islam hanya menggelar aneka perayaan sebagai luapan rasa cinta, namun meninggalkan esensinya, yakni peneladanan. Kehadiran Rasullalah Saw bukan (semata) untuk dirayakan, melainkan untuk diteladani ucapan, tindakan dan ketetapannya, karena beliaulah uswah hasanah (Qs. al-Ahzab: 21). Esensi ini sering dialpakan. Soal kehidupan rumah tangga, sosial, ibadah, kepemimpinan, karakter, dll, semestinya menjadi acuan perayaan maulid. Akhlaknya yang berupa al-Qur’an, seperti dituturkan ‘Aisyah, semestinya menjadi pegangan.  

Untuk itu, umat Islam harus melangkah naik satu tangga lagi: mencintai untuk meneladani. Kecintaan tanpa keteladanan itu belum purna, kendati baik dan tidak salah. Dalam karyanya, al-‘Aqd al-Tsamin fi Syarh Ahadits Ushul al-Din, Husein bin Ghannam al-Najdi, menuliskan untaian syair yang menarik: law kana hubbuka shadiqan laatha’tahu // inna al-muhibb liman yuhibb muthi’u (andai cintamu pada-Nya benar, niscaya engkau akan menaati-Nya // sesungguhnya pecinta itu menaati kekasihnya). Syair ini memang ditujukan untuk kecintaan pada Allah Swt, namun substansinya bisa digunakan untuk kecintaan pada Rasul-Nya.

Siapa mencintai Rasulullah Saw, semestinya menaati perintah dan larangannya. Para pecintanya, tak cukup hanya menjadikan beliau sebagai kekasih, tanpa menaati lalu meneladaninya. Perilaku mencintai, menaati lalu meneladani inilah yang akan menjadikan umat Islam berkarakter unggul dan menjadi khair ummah (umat terbaik). Tidak akan ada lagi (atau miminal tereduksi) persoalan korupsi, pencurian, kemalasan, keengganan beribadah, keacuhan pada realitas sosial, ketiadaan penghormatan pada nilai kemanusiaan, dan seterusnya. Yang ideal memang sulit dilakukan, namun upaya mendekatinya harus tetap dilakukan tanpa lelah.
 
Semoga saja, Rasulullah Saw bukan lagi menjadi “sang teladan yang tak lagi diteladani” oleh umatnya hari ini. Mudah-mudahan juga beliau “hidup kembali” dalam diri umatnya, melalui aktualisasi keteladanan padanya; dan karenanya perayaan maulid tidak berhenti pada tataran seremonial lalu selesai tiada atsar (bekas). Allahumma shalli ‘ala Muhammad.[]

*) Penulis Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten

(Radar Banten, 28 Desember 2016)