Santri Kawe Mendemo Kiai

Oleh Nurul H. Maarif*)

Lelaki pemberani dari Bani Salamah, al-Hubbab bin al-Mundzir bin al-Jamuh, suatu ketika mengevaluasi kebijakan Rasulullah Saw terkait penempatan pasukan perang.

“Apakah ini tempat yang dipilihkan oleh Allah Swt kepadamu, yang kami tiada bisa memajukan atau memundurkannya? Ataukah ini semata pendapatmu dan strategi perang?” tanyanya menyelidik.

“Ini semata pendapatku dan strategi perang,” jawabnya.

“Wahai Rasulullah, ini bukanlah tempat yang pas untuk pasukan. Bangkitlah dan ajaklah pasukan untuk berpindah ke tempat yang dekat dengan sumber air. Di sana kita bisa membangun danau, sehingga terpenuhi dan terlimpahi oleh air. Barulah kita berperang melawan musuh dan kita bisa meminum air sepuasnya sementara musuh-musuh tidak bisa meminumnya,” saran shahabatnya itu.

“Engkau telah memberikan pendapat yang baik,” timpalnya setuju.

Atas masukan yang baik itu, Rasulullah Saw beserta pasukannya bergeser ke tempat yang ditunjuk oleh al-Hubbab, dan melakukan apa-apa yang diusulkannya. Pasukan muslimpun mendapatkan kemenangannya.

Kisah evaluasi seorang shahabat pada guru, pimpinan umat, sekaligus Rasulullah ini diceritakan oleh Muhammad bin Jarir al-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk (II/29).

Kisah ini menjadi bukti sahih, bahwa Muhammad Saw tetaplah manusia biasa di tengah umatnya. Tiada sekat antara dirinya dengan siapapun. Masukan-masukan positif diterimanya dengan riang gembira. Kendati beliau lapang dada menerima evaluasi, masukan yang disampaikan padanya harus tetap dilandasi tabayun, kesopanan dan ketawadhuan.

Sebagai orang biasa yang ingin memberikan masukan pada panglimanya, al-Hubbab bertanya terlebih dahulu dengan penuh sopan santun: apakah ini pilihan Allah Swt? Ataukah pendapatmu? Ataukah semata strategi perang?

Jika jawaban Rasulullah Saw adalah “Ini dari Allah Swt”, al-Hubbab tidak akan melanjutkan kalimatnya karena niscaya itulah yang terbaik. Tidak mungkin seorang shahabat yang taat mempertanyakan ketetapan Allah Swt.

Namun karena jawaban beliau adalah “Ini pendapatku dan semata strategi perang”, maka barulah al-Hubbab memberikan masukan disertai argumen-argumen yang bisa diterima. Inilah mekanisme pemberian masukan yang luhur, tidak perlu menggunakan paksaan atau intimidasi.  

Dan memang, Rasulullah Saw sendiri begitu lapangnya menerima masukan ataupun kritikan. Diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (I/156) dan Imam Ibn Hibban al-Busti dalam Shahih Ibn Hibban (VI/386), beliau bersabda: “Sesungguhnya aku manusia biasa sebagaimana kalian. Aku lupa sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa (atau keliru), ingatkanlah aku”.

Mendemo Kiai

Apa relevansi kisah evaluasi al-Hubbab bin al-Mundzir pada kebijakan Rasulullah Saw di atas dengan Pilkada DKI?

Pilkada DKI adalah yang paling heboh, unik, panas dan bahkan menyedot banyak pikiran, tenaga dan perhatian. Isu apapun muncul di sana, termasuk yang paling hot dan menghabiskan energi adalah soal agama dan etnisitas.

Aneka hoax dan klaim-klaim tak bertanggungjawab begitu mudah dilakukan oleh siapapun. Hanya satu tujuannya: menjatuhkan lawan dan memenangkan pasangan yang didukung. Soal etika, tidaklah prioritas. Tidak penting. Karena nalurinya, politik itu menghalalkan segala cara.

Di mimbar-mimbar pengajian, ulama banyak yang berkampanye terang-terangan mendukung pasangan tertentu. Tanpa malu-malu menyandang status sebagai tokoh agama yang semestinya netral dari pertarungan politik. Jika kalah, tidak mustahil dampaknya akan kembali pada agama yang disandangnya. Dampak pada agamanya memang tidaklah penting baginya.

Ada juga tokoh agama yang mendukung pasangannya dengan membawa-bawa logo ormas keagaamaan tertentu. Bahkan dilakukan istighatsah untuk mendukung pasangan tertentu mengatasnamakan organisasi keagamaan yang lalu diklarifikasi oleh lembaga keagamaan yang sesungguhnya.

Hingga beberapa hari menjelang hari H pencoblosan, Pilkada DKI semakin banyak yang janggal, tidak masuk akal dan bahkan melabrak batas-batas tradisi. Misalnya, diberitakan berbagai media, Rabu (7/2/2017) kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Santri Indonesia bahkan mendemo kiai-kiai yang bermarkas di PBNU Jakarta.

Orang awampun bisa menerka, ini semata terkait kepentingan politik yang sangat pragmatis itu. Dari sisi kesantrian, mereka sama sekali tidak mencerminkan unsur santri. Cara berpakaian, tingkah laku, ada beberapa yang bertato, gaya rambut, dsb, tidak ada marwah kesantriannya. Apalagi demo yang dilakukan, itu bukanlah tradisi santri.

Apa yang mereka pertontonkan dengan tak elok itu justru melabrak batas-batas kesopanan santri pada kiainya. Ini sama sekali bukan ajaran dan tradisi pesantren. Dan orang awampun akan mudah menilai siapa sesungguhnya mereka dan untuk kepentingan apa dan siapa.

Tentu saja bukan berarti kiai itu anti kritik dan selalu benar. Kiai tetaplah manusia biasa yang juga berpotensi keliru. Kiai yang mendukung terang-terangan calon tertentu apalagi menggunakan simbol-simbol ormas keagamaannya, tentu saja patut diingatkan dan dievaluasi. Bukan itulah panggung mereka.

Namun masukan itu tetap harus ditempuh dengan cara-cara yang elegan. Bukan dengan mendemonya beramai-ramai, menakut-nakuti, mengintimidasi dan bahkan membentangkan spanduk bertuliskan kecaman, seperti yang dilakukan “santri-santri kawe” alias palsu pada kiai-kiai NU yang terhormat.

Santri sejati punya batas-batas kesopanan dalam menilai atau mengevaluasi kiainya. Lihatlah dan renungkanlah bagaimana al-Hubbab bin al-Mundzir mengevaluasi kebijakan Rasulullah Saw di atas, yang menjunjung tinggi etika dan moralitas, pun penuh kerendahhatian. Janganlah memanfaatkan santri kawe untuk kepentingan pragmatis.[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten
 
(Radar Banten, 17 Februari 2017)