Keluhuran Menyikapi Perbedaan

Oleh Nurul H. Maarif*

Pilkada DKI Jakarta kali ini benar-benar menguras tenaga kaum muslim. Tidak hanya yang berdomisili di Jakarta, melainkan juga yang di luar Jakarta. Bahkan mungkin yang di luar Indonesia sekalipun. Harus punya stamina yang prima untuk terus mengikuti detail-detail perkembangannya.

Aneka isu, terutama isu agama, terus bermunculan tiada henti, digoreng dan lalu dijajakan sedemikian rupa. Dari Qs. al-Maidah: 51, penolakan shalat jenazah, hingga PKI, dan berbagai isu lain yang sungguh mengerikan jika tidak bisa dibendung. Ini bisa berdampak memecah-belah kesatuan dan kekeluargaan bangsa ini, jika terus menggelinding secara liar. Antar pendukung seakan diselimuti sekat tebal yang tidak mudah ditembus.

Dan diantara yang penting dicermati, seringkali sikap fanatisme berlebihan dari para pendukung pasangan calon itu bahkan dalam taraf tertentu hingga menghilangkan keluhuran, tatakrama atau sopan santun. Kadang hati dan akal sehatnya menjadi tumpul. Memang tidak mudah mengarifi perbedaan pilihan dan pandangan orang lain di seberang sana.

Dalam beberapa grup medsos yang saya ikuti, misalnya, perdebatan yang berlangsung antara dua kubu pendukung yang fanatik itu hingga mengarah pada sarkasme. Bahkan ada beberapa santri yang hilang-lenyap kesantunannya pada beberapa kiai senior, hanya karena perbedaan pandangan dan pilihan politik, yang dibumbui oleh fanatisme berlebihan.

Ungkapan sarkastik, umpatan tanpa kesantunan, tohokan pada sisi yang sangat pribadi yang tak semestinya dilakukan, kadang tuduhan dan juga penghinaan, begitu mudahnya dihamburkan tanpa melihat dampak sosialnya. Masing-masing mereka sesungguhnya orang yang memiliki kedalaman ilmu dan memiliki kehormatan. Untuk itu, kiranya perlu kita renungkan kata mutiara Kiai Idris Kamali dalam Nadhm Adab al-Thullab; wa al-‘ilm la yahsunu illa bi al-adab (ilmu tak akan indah kecuali dengan kesantunan).

Setinggi apapun ilmu kita, jika kesantunan tidak lagi ada, maka kita tak lagi memiliki nilai kehormatan yang patut dibanggakan. Keluhuran dan kesantunan moralitas inilah yang menjadi alasan bi’tsah (pengutusan) Rasulullah Saw ke muka bumi ini dan itulah yang senantiasa ditunjukkan sekaligus diteladankan para salaf al-shalih kala menghadapi perbedaan.

Fitrah Keragaman
Allah Swt sengaja menciptakan perbedaan di muka bumi ini, untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Perbedaan dalam segala hal: agama, mazhab, organisasi, warna kulit, suku, ras, pilihan politik, selera makan, selera wisata, pasangan hidup dan segala macamnya.

Itulah fitrah sekaligus sunnatullah yang tidak mungkin dinafikan dengan cara apapun. Dan bukan inilah ukuran kemuliaan seseorang, melainkan semata ketakwaannya pada Allah Swt. Demikianlah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan, sebagaimana tertuang dalam Qs. al-Hujurat [49]: 13.

Sungguh, begitu mudahnya Allah Swt menyatukan seluruh umat yang ada di alam raya ini menjadi satu tipe dan satu golongan. Jika Ia berkehendak, dengan kun fayakun-Nya, kesatuan dan kesamaan itu bisa saja tercipta dalam sekejap. Tapi, apakah ini yang dilakukan-Nya? Nyatanya tidak sama sekali. Ia menghendaki keragaman dan perbedaan. Firman-Nya: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (Qs. Hud: 118).

Jika demikian halnya, maka upaya menyeragamkan dan menyatukan semua pandangan menjadi tidak relevan dan bahkan dalam tahap tertentu bisa dinilai melawan ketentuan Allah Swt itu sendiri. Tidak semestinya seorang hamba yang begitu lemahnya melakukan tindakan-tindakan yang tidak sejalan dengan sunnatullah ini.

Karenanya, dalam menghadapi perbedaan itu, tugas kita semua hanya satu: menghadapi dan menyikapinya dengan keluhuran atau kesantunan. Andaipun harus terjadi “perseteruan sengit” atau “duel argumen”, keluhuran dan kesantunan tetap tidak boleh dinafikan. Sampaikan argumen yang baik dengan ujaran yang baik. Dan lebih baik diam jika tidak mampu menyampaikannya dengan ujaran yang mulia.

Allah Swt berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-Nahl: 125). Firman-Nya juga: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Qs. al-Anfal: 46).

Kenapa harus ada keluhuran dan kesantunan menghadapi perbedaan? Selain karena fitrah dan sunnatullah, tentu juga karena sifat relativitas pandangan manusia. Imam Muhammad bin Indris al-Syafi’i (w. 204 H) mengingatkan: “Ra’yuna shawab yahtamil al-khata’ wa ra’y ghairina khata’ yahtamil al-shawab/Pendapat kami benar, tapi mengandung kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah, tapi mengandung kemungkinan benar.” Keluhuran dan penghormatan pada pandangan yang berbeda menjadi penting karenanya.

Selain keluhuran menyikapi perbedaan, yang semestinya juga diperhatikan adalah menjadikan perbedaan sebagai sarana memperkaya pemikiran, berprasangka baik, tidak menuruti selera individunya, meniatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan orang banyak, mengedepankan orientasi kesatuan, tidak mudah menyalahkan, juga berlapang dada menerima kritikan.

Lihat saja bagaimana keteladanan Muhammad bin Idris al-Syafii (w. 204 H) yang kerapkali berbeda pandangan dengan gurunya, Malik bin Anas (w. 179 H) dalam banyak kesempatan. Juga antara Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dengan gurunya, yakni al-Syafi’i sendiri. Mereka tetap saling hormat dan saling santun. Tidak pernah saling menjatuhkan apalagi menghinakan dengan ujaran, umpatan atau hardikan kasar yang menyasar kehormatan pribadinya.

Jika para tokoh Islam mampu menghadirkan keluhuran dan kesantuan dalam perbedaan, maka umat Islam di akar rumput akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Mereka akan bisa memilih dengan pikiran dan hati yang jernih, mana pandangan yang lebih sesuai untuk diikutinya. Jika bisa diwujudkan, inilah yang disebut sebagai “perbedaan adalah rahmat”, bukan “laknat”.[]

* Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten.

(Radar Banten, Jum’at, 31 Maret 2017)