Menegaskan Urgensi Musabaqah Makalah al-Qur’an

Oleh Nurul H. Maarif

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Ke XIV Propinsi Banten bertemakan “Aktualiasai Nilai-nilai Universal al-Qur’an untuk Masyarakat Banten yang Beriman dan Bertakwa” diselenggarakan pada Senin-Jum’at, 17-21 April 2017. Bertempat di Kabupaten Serang, MTQ yang diikuti ratusan peserta dari delapan Kabupaten/Kota ini mengompetisikan sepuluh cabang musabaqah: Tilawah al-Qur’an, Qiraah al-Sab’ah, Hifzh al-Qur’an, Hifzh al-Hadits, Tafsir al-Qur’an, Fahm al-Qur’an, Syarh al-Qur’an, Khath al-Qur’an, Qiraat al-Kutub dan Makalah al-Qur’an.

Dalam sajarah MTQ, Musabaqah Makalah al-Qur’an (MMQ) yang merupakan cabang termuda, pertama kali digelar di ajang MTQ Nasional Ke XXII di Banten pada 17-24 Juni 2008. Awalnya bernama Musabaqah Makalah Kandungan al-Qur’an (M2KQ), lalu menjadi Musabaqah Makalah Ilmiah al-Qur’an (M2IQ) dan terakhir menjelma menjadi MMQ. Sedang untuk Propinsi Banten, MMQ pertama kali dikompetisikan pada MTQ Ke VII tahun 2010, di Kota Serang.

Untuk MTQ Banten Ke XIV ini, MMQ diikuti oleh 16 peserta (8 putera, 8 puteri) berusia maksimal 24 tahun 11 bulan 29 hari. Tema besar yang diusung adalah Mengentaskan Kemiskinan di Banten dan Pendidikan Karakter di Banten. Mereka inilah peserta terbaik yang dikirim oleh Kabupaten/Kota, yang telah disaring dan diuji secara ketat melaui MTQ di daerahnya.

Alokasi waktu yang disediakan untuk menulis makalah ilmiah di ajang MMQ ini maksimal sembilan jam. Unsur-unsur yang dinilai juga cukup rumit dan serius. Pertama, Bidang Isi Makalah, yang meliputi relevansi judul dengan tema besar, bobot dan kebaruan gagasan, eksplorasi kandungan al-Qur’an, keluasan wawasan dan kekayaan referensi.

Kedua, Bidang Kaedah dan Gaya Bahasa, yang meliputi ketepatan tata bahasa, ketepatan tanda baca, ketepatan ragam bahasa dan pilihan kata (diksi). Ketiga, Bidang Logika dan Organisasi Pesan, yang meliputi keteraturan berfikir (coherence and consistence), mutu berfikir, sistematika gagasan dan alur tulisan.

Karya mereka ini lalu diuji oleh para akademisi kampus yang juga diseleksi, yang sebagian bergelar professor dan doktor. Mereka adalah Prof. Dr. Udi Mufrodi, Lc., M.Ag. (Ketua), Dr. H. Zakaria Syafi’i, M.Pd., Dr. H. Dimyathi Sajari, M.Ag., Dr. H. Nashiruddin Cholid, M.A., Dr. H.E. Zaenal Muttaqin, M.A., M.H., Drs. H.S. Suhaidi, Drs. H. Abdul Ghaffar, SQ, M.Si., H. Mulyadi, S.Ag., M.Pd. Dan penulis termasuk satu dari Sembilan Dewan Hakim MMQ kali ini.

Dengan ketentuan peneliaian yang ketat dan diuji secara serius, semestinya MMQ mampu menghasilkan kader-kader penulis muda yang handal. Apalagi jika LPTQ, baik Kabupaten/Kota maupun Propinsi benar-benar melakukan pembibitan dan pembinaan serius, maka potensi kepenulisan mereka akan benar-benar tergali secara optimal. Kekuatiran kemarau regenerasi Syeikh Nawawi Banten setidaknya sedikit demi sedikit bisa terkikis. Ini soal political will dari semua yang memegang kendali kebijakan.

Menegaskan Urgensi

Gagasan atau terobosan menjadikan Musabaqah Makalah al-Qur’an (MMQ) sebagai bagian dari cabang utama MTQ kiranya patut diapresiasi. Beberapa alasan yang menunjukkan urgensi cabang ini, misalnya: Pertama, kian pudarnya tradisi tulis-menulis di kalangan ulama Nusantara. Tak banyak kiai pesantren atau tokoh agama, termasuk di Banten tentu saja, yang menuliskan buah pikirannya dalam karya ilmiah yang serius. Yang berkembang umumnya budaya lisan, bukan budaya tulisan.

Di Banten, umat Islam sesungguhnya memiliki Syeikh Nawawi Banten yang memiliki budaya tulis sangat baik. Dalam catatan, beliau menulis tak kurang dari 115 buah karya, baik karyA pribadi maupun elaborasi (syarh/perluasan) atas karya (matan) orang lain, yang terus-menerus ditelaah oleh santri-santri di Nusantara ini.

Tafsir Marah Labid, satu diantara karyanya yang mendunia dan dikaji secara luas di banyak tempat. Sayangnya, tradisi tulis beliau yang hebat itu tiada yang mewarisi apalagi meneruskannya. Kiai-kiai dan para santri hanya membaca karyanya, bukan membuat karya lain untuk menirunya. Dan MMQ berupaya memutus mata rantai kekosongan itu dengan menciptakan kader-kader intelektual muslim yang lihai menulis karya.

Kedua, Syeikh Nawawi dengan ratusan karyanya, juga para ulama salaf (masa lalu) dengan karya unggulnya, sesungguhnya tengah mewariskan kelanggengan pemikiran. Pikiran-pikiran mereka yang diproduksi beberapa abad silam, hingga kini tetap lestari dan dibaca terus-menerus oleh berbagai generasi. Pandangan mereka didaur ulang tiada henti. Karena urgennya tradisi tulis ini, tak heran jika Almarhum Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub (Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal) bahkan menyatakan: wa la tamutunna illa wa antum katibun (jangan kalian mati kecuali kalian adalah penulis).

Penulis sepakat sepenuhnya, bahwa menulis adalah kerja melanggengkan gagasan atau pemikiran. Jika bukan anak raja atau penguasa yang hebat, maka menulislah! Tanpa menulis, siapapun akan ditelan sejarah dan tidak akan dikenang zaman. Itu sebabnya, ungkapan hikmah menyebutkan: yabqa al-khathth zamanan ba’da shahibih wa katib al-khathth taht al-ardhi madfun (teks akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnya hancur-lebur di kolong tanah). MMQ tentu saja digagas untuk menciptakan generasi muslim yang mampu melanggengkan pemikirannya untuk kepentingan membangun peradaban di masa datang.

Ketiga, MMQ juga akan menghadirkan generasi baru yang serius mengakrabi aneka referensi, baik yang klasik maupun modern, karena mereka diharuskan menyelami berbagai informasi yang terekam dalam karya-karya itu. Berdasarkan penelitian Unesco tahun 2012, masyarakat Indonesia termasuk yang menempati ranking bawah terkait ketekunan membaca karya. Dengan kegiatan ini, mau tak mau mereka dipaksa untuk serius menekuni dunia referensi yang makin ditinggalkan banyak orang ini, terutama generasi mudanya karena lebih menggandrungi kehidupan hedonis.

Keempat, eksplorasi kandungan al-Qur’an. Menurut Abdullah al-Darraz, al-Qur’an itu ibarat mutiara yang kilauan cahayanya bisa warna-warni sangat tergantung latar belakang kepentingan dan kecenderungan pemandangnya. Kilauan cahanya tidak bisa dibatasi dan direduksi oleh siapapun. Ini sesuai isyarat Allah Swt dalam Qs. al-Kahf: 109: “Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum (habis) ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” Itu sebabnya, MMQ sangat penting sebagai ajang ekplorasi ayat ini. Sebab, jika ayat-ayatnya tidak digali secara serius, maka kajian al-Qur’an akan sepi peminat dan ini akan berbahaya bagi kelangsungan pemikiran keislaman.

Kelima, mengembalikan kejayaan peradaban teks. Menurut pemikir muslim modern, Nash Hamid Abu Zayd, sejatinya peradaban Islam itu identik dengan peradaban teks (hadharah al-nash). al-Qur’an, Hadis dan aneka pemikiran para ulama tertuang dalam teks atau aksara. Tanpanya, generasi muslim belakangan tidak akan mengenal kandungan dua sumber ajaran Islam itu dan tidak memahami pandangan ulama terdahulu. MMQ jika dikelola dengan baik, diharapkan akan mengembalikan kejayaan peradaban teks yang kian memudar ini.

Jika generasi MMQ ini benar-benar dikelola secara profesional dan maksimal, maka akan lahir generasi muda emas yang mumpuni dengan keahlian menulis dan menggali kandungan al-Qur’an secara serius. Tanpa menafikan peserta yang terlibat serius di cabang-cabang MTQ lainnya, peserta MMQ yang usianya di bawah 25 tahun inilah harapan sesungguhnya bagi kemajuan bangsa . Sebagai orang yang menyintai dunia tulis-menulis, penulis melihat para peserta MMQ ini tak ubahnya oase di tengah kemarau panjang intelektual muslim yang lahir dari rahim pesantren.

Namun demikian, untuk lebih memantapkan capaian MMQ, ada baiknya pemegang kebijakan di Banten melakukan beberapa langkap strategis. Misalnya, perlunya dilakukan pembibitan secara bertahap, bisa mulai SMP/MTs atau SMA/MA, bukan hanya yang telah kuliah; fokus pada bibit-bibit lokal, pengayaan dan penguatan referensi klasik dan modern, pembukuan karya dan sebagainya.

Bahwa ada kekurangan atau catatan evaluasi terkait pelaksanaannya, MMQ Propinsi Banten yang ketujuh ini tetap patut diapresiasi karena impiannya adalah untuk menghadirkan sosok intelektual muslim yang lengkap: mumpuni secara akademik dan mampu menguasai tradisi pesantren juga dengan baik.

Mudah-mudahan, melalui MMQ ini apa yang dikhawatirkan Khaled Abou al-Fadhl (Professor Hukum di UCLA Amerika Serikat) tidak terjadi: “Aku heran sekaligus sedih, bagaimana mungkin sebuah peradaban yang dibesarkan oleh sebuah buku (al-Qur’an), harus meninggalkan dan tak peduli lagi pada dunia buku. Mereka tak membaca(nya), apalagi menulis(kannya).”[]

*Penulis adalah Dewan Hakim MMQ MTQ Ke XIV Propinsi Banten, Senin-Jum’at, 17-21 April 2017 di Anyer Serang, dan Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

(Radar Banten, 20 April 2017)