Membentengi Kitab-kitab Kuning

Oleh Nurul H. Maarif

Tiga tahun silam, www.republika.co.id (Kamis, 23/1/ 2014) menurunkan berita dengan judul yang menggelitik sekaligus mengagetkan kalangan pesantren: “Awas, Kitab Kuning Semakin Rawan Diubah.”

Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia kala itu mengingatkan pesantren di Indonesia, bahwa fenomena ghazw al-fikr (perang pemikiran/wacana) yang ramai terjadi di kalangan internal umat Islam bahkan mengancam muatan kitab kuning yang menjadi buku daras khas pesantren.

Ada upaya serius dan gencar dari “pihak tertentu” untuk mengubah muatan kitab kuning berhaluan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah itu melalui berbagai tindak kecurangan: penghapusan konten (bab/redaksi), penafsiran baru atau penyusupan konten (bab/redaksi), sehingga akan muncul kesalahpahaman atas pemikiran asli penulisnya.

Inilah yang dalam tradisi klasik disebut dass (selipan-selipan palsu atau penyembunyian redaksi asli), yang sesungguhnya tidak dilakukan pengarangnya. Oleh yang berkepentingan, ada teks yang dibuang atau ditambahkan. Bukan kali ini saja peristiwa serupa terjadi. al-Qur’an pernah disusupi kisah Gharaniq (tilka al-gharaniq al-‘ula wa inna syafa’atuhum laturtaja), oleh orang yang memusuhinya. Kitab suci ini ingin dicederai, supaya hilang sakralitasnya dan muncul khurafatnya.

Ucapan Rasulullah Saw juga banyak yang dipalsukan untuk kepentingan pragmatis: politik, jabatan, harta dunia, popularitas atau bahkan ibadah. Tak heran jika beliau mengingatkan jauh-jauh hari, siapapun yang berdusta atas namanya, maka bersiaplah menempati kapling di neraka. Ancaman yang tidak main-main, mengingat dampak sosial-keagamannya sungguh serius.

Jika terhadap al-Qur’an dan Hadis saja banyak yang berani memanipulasi, apalagi terhadap kitab-kitab kuning yang hanya karya manusia? Fenomena ini terjadi terus-menerus sepanjang sejarah perkitaban. al-Syafii, al-Ghazali, al-Asyari, diantara yang menjadi korban pemalsuan-pemalsuan ini.

Bahkan kini, seiring kian panasnya kehidupan keberagamaan di negeri ini, fenomena ghazw al-fikr dengan menyasar konten kitab-kitab kuning tak pernah berhenti. Di berbagai media, baik media sosial, cetak maupun elektronik, info ini tengah ramai bertebaran. Dan pesantren menjadi mayoritas yang paling khawatir tentunya.

Kenapa pesantren disasar? Kekuatan Islam di Nusantara ini berada di pundak pesantren yang jumlahnya ratusan ribu di seluruh penjuru negeri. Dan kekuatan intelektualisme pesantren berada dan tergantung pada kitab kuning peninggalan ulama masa lalu. Jika kitab kuning berhasil diruntuhkan atau minimal diutak-atik isinya, maka bangunan keilmuan dan tradisi khas pesantren dimungkinkan akan roboh. Keislaman khas Nusantara akan ambruk seketika.

Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Beberapa waktu lalu, tim redaksi www.aswajanucenterjatim.com menurunkan liputan yang mengagetkan. Untuk melawan dakwah Aswaja, kelompok yang mereka sebut sebagai Wahabi Salafi bahkan berbuat apapun untuk memuluskan pesan-pesan politik demi kepentingan tertentu.

Lalu, tim itu menuliskan beberapa ciri kitab khas pesantren yang diubah. Misalnya, bila dalam al-Ibanah karya Abu al-Hasan al-Asy’ari redaksi eksplisit maupun implisitnya mendukung tajsim (penjisiman Allah) dan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), maka dipastikan telah terjadi manipulasi di dalamnya.

Bila dalam Sahih al-Bukhari karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari, pasal al-Ma’rifah dan Bab al-Madhalim dihilangkan, maka kitab ini juga ditengarai telah dimanipulasi, karena Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bab itu. Bila Pasal Ziarah Kubur Nabi dalam Riyadush al-Shalihin karya Yahya bin Syaraf al-Nawawi berubah menjadi Pasal Ziarah Masjid Nabi, itu juga telah terjadi manipulasi.

Jika dalam Diwan al-Syafi’i (h. 47) bait “faqihan wa shufiyyan fakun laisa wahidan” (jadilah ahli fiqih dan sufi sekaligus, jangan hanya salah satunya!,” itu hilang, maka kitab ini juga dimanipulasi. Juga ketika keutamaan-keutamaan Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fatimah hilang dalam Shahih Muslim karya Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, maka ini diyakini telah terjadi manipulasi, karena dalam Mustadrak al-Hakim, al-Hakim al-Naisaburi mencatat keutamaan-keutamaan ini.

Itu hanya beberapa kasus yang disebutkan. Tidak mustahil, fenomena ini juga mengancam ribuan kitab lain yang setiap saat ditelaah di pesantren, yang kecil-kecil itu. Penelaahan lebih lanjut penting dilakukan. Yang mengetahui kebenaran hakikinya hanya penulis aslinya, selain Allah dan Rasul-Nya tentunya. Namun dengan upaya perbandingan pada kitab asli lainnya, syarahnya, maupun catatan kritisnya, maka keaslian kitab itu akan diketahui.

Jika semua itu benar adanya: apa yang mesti diperbuat oleh kalangan pengguna kitab-kitab kuning itu? Pertama, melestarikan tradisi kepesantrenan secara lebih massif lagi, baik tradisi keilmuan maupun aktivisme. Dengan keilmuan yang mendalam, diharapkan kalangan santri memiliki perbandingan yang mumpuni terkait bacaan yang diserapnya. Ini tugas tidak mudah, namun perlu diupayakan semaksimalnya. Pesantren salafi (tradisional) memiliki peran penting dalam hal ini, karena pesantren khalafi (modern) seringkali abai pada keilmuan kitab kuning ini. Aktivisme juga penting dilestarikan untuk menjaga kesinambungan dengan intelektualisme pesantren.

Kedua, lembaga-lembaga keagamaan yang menaungi pesantren, semisal Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Maahid Islamiyah (RMI)-nya, kiranya perlu membuat tim khusus untuk menelaah lebih jauh kemungkinan terjadinya pemalsuan-pemalsuan kitab-kitab kuning itu. Hasilnya lalu disebarluaskan di kalangan pesantren. Syukur-syukur, ormas sekaliber NU mampu membuat percetakan tersendiri dan mandiri yang diniatkan untuk membentengi kitab-kitab kuning dari pemalsuan. Sebab selama ini tidak ada kontrol pencetakan dari kalangan pesantren sendiri. Kerja besar yang membutuhkan tenaga, pikiran dan modal tidak sedikit.[]

*Penulis Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten