Menahan Laju Radikalisme Remaja

Oleh Uyun Rika Uyuni*)

Belakangan ini, tren radikalisme di kalangan remaja tampaknya kian menaik. Beberapa survey menunjukkan hal ini. Misalnya, survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), pimpinan Bambang Pranowo, pada Oktober 2010 s.d. Januari 2011. Survey pada siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jabodetabek, ini menyimpulkan 50 % siswa setuju tindakan radikal; 25 % siswa dan 21 % guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi; 84,8 % siswa dan 76,2 % guru setuju penerapan Syariat Islam di Indonesia; 52,3 % siswa setuju kekerasan untuk solidaritas agama dan 14,2 % membenarkan serangan bom.

Survei The Pew Research Center pada 2015 menunjukkan, di Indonesia, 4 % atau sekitar 10 juta warga Indonesia mendukung ISIS. Sebagian besar pendukung ini justru anak-anak muda. Penelitian the WAHID Foundation bertema Potensi Intoleransi dan Radikalisme Sosial-Keagamaan di Kalangan Muslim Indonesia, yang diluncurkan pada 1-3 Agustus 2016 di Bogor Jawa Barat, juga menunjukkan anak-anak muda lebih berpotensi melakukan tindakan-tindakan antiperdamaian dan radikalisme dibanding yang berusia tua.

Kenapa Remaja?
Masa remaja adalah masa transisi sekaligus masa kegemilangan. Dikatakan transisi, karena masa ini adalah masa perpindahan dari usia anak-anak menuju usia remaja yang menuntut kedewasaan. Di samping itu, pada masa remaja manusia bisa melakukan banyak hal yang produktif dalam hidupnya. Kekuatan fisik yang mendukung, juga semangat muda yang menggelora, menjadikan remaja sebagai tonggak peradaban manusia.

Beradab atau tidaknya suatu bangsa, dapat dilihat dari perilaku remajanya. Jika moralitas, toleransi, penghargaan pada yang lain dan tanggungjawab serta loyalitasnya tinggi pada bangsanya, maka dapat dipastikan bangsa itu ke depannya akan menjadi bangsa yang bermartabat. Jika generasi bangsa itu memiliki perangai sebaliknya, tidak menutup kemungkinan sebuah bangsa akan ambruk dan hilang martabatnya.

Karena itu, peran remaja sangat diperhitungkan. Tak heran, jika Soekarno Sang Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia mengatakan: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kata-kata ini menggambarkan pemuda bukan hanya penerus masa depan bangsa, tapi penentu bangsa. Di pundaknyalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Jika pemudanya hancur, maka hancurlah bangsanya. Begitupun sebaliknya.

Di zaman globalisasi yang serba modern ini, remaja semakin lupa dengan perannya sebagai generasi penerus: kewajiban belajar, patuh kepada orang tua, dan juga agama. Para remaja sekarang lebih terlena dengan kesenangan dirinya semata, bahkan pada hal-hal kecil yang dapat menyebabkan bangsa ini hancur. Canggihnya teknologi, semakin mempermudah budaya asing masuk dan diserap oleh para remaja dengan begitu cepatnya, sehingga menjadikan budaya asli bangsa sendiri teragantikan dan terabaikan.

Remaja kadang memang acuh pada kehidupannya. Ali Mustafa Yaqub menuliskan (Makan Tak Pernah Kenyang: 2010: 199), bahwa mereka tak peduli di Indonesia masih ada lima puluh juta rakyat miskin. Belum lagi mereka yang melakukan kebiasan jelek, tampaknya bagi mereka yang penting happy dan enjoy your life. Orang lain terganggu itu bukan lagi urusan mereka. Bahkan, jika kita melihat survei yang dilakukan LaKIP, The Pew Research Center, the WAHID Foundation, maupun yang lainnya, kita patut khawatir, karena generasi muda saat ini mulai mengalami pergeseran nilai ke arah destruktif bagi diri, bangsa dan kelangsungan peradaban dunia ini. Radikalisme juga mulai digandrungi mereka.

Menahan Laju Radikalisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), arti radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Masalah ini memang sudah semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Pengaruh radikalisme semakin rumit karena berbaur dengan tindak terorisme yang cenderung melibatkan kekerasan. Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok atau seseorang yang dampaknya merugikan orang lain, terutama secara fisik dan itu jelas dilarang oleh agama maupun negara.

Faktor yang mempengaruhi karakter remaja sangatlah kompleks. Mulai dari faktor keluarga, lingkungan rumah, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, internet, globalisasi bahkan diri sendiri. Faktor risiko dalam diri individu remaja meliputi sifat hiperaktif, impulsif, agresif, kontrol perilaku yang buruk, kurang perhatian, keterlibatan awal atau kecanduan alkohol, obat-obatan dan rokok, keyakinan aneh, dan sikap antisosial. Selain itu juga kecerdasan dan prestasi pendidikan yang rendah, rendahnya minat dan kegagalan di sekolah, berasal dari orang tua tunggal atau rumah tangga kurang harmonis, perceraian orang tua, dan paparan kekerasan dalam keluarga.

Jika radikalisme telah mengalir dalam darah remaja, maka harus dilakukan langkah-langkah kongkrit untuk mencegah laju radikalisme itu agar tidak semakin menguat, di antaranya dengan: Pertama, peran aktif orang tua. Anak harus diberikan keteladanan oleh orang tua dan juga orang-orang yang ada di sekelilingnya, terkait penghargaan atau penghormatan pada perbedaa.

Kedua, pelaksanaan ukhuwah Islamiyah. Islam menganjurkan persaudaraan bukan kekerasan, kepada kaum muslim secara internal maupun bahkan kepada pihak-pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Ketiga, penerapan sikap toleransi. Toleransi adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghargai, menghormati dan bekerjasama diantara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda. Caranya dengan menerapkan kurikulum perdamaian di sekolah-sekolah atau kegiatan-kegiatan perdamaian yang melibatkan mereka.

Keempat, memfilter informasi yang didapat. Tidak sembarang menerima informasi juga perlu diterapkan baik oleh orang tua, sekolah, atau lingkungan, agar mereka tidak salah memahami informasi yang didapat. Orang-orang terdekat semestinya memberikan informasi mana yang semestinya diterima dan mana yang semestinya dibuang jauh-jauh. Melakukan kontrol informasi karenanya menjadi penting dilakukan.

Demikian beberapa cara mencegah radikalisme yang mendoktrin kalangan remaja. Cara pencegahan ini mesti diketahui dan dipraktikkan oleh semua golongan terlebih golongan remaja yang menjadi ujung tombak generasi bangsa. Semoga saja, laju radikalisme yang terjadi di kalangan remaja bisa dihentikan dan syukur-syukur dihilangkan, sehingga akan hadir peradaban luhur yang mengedepankan kebersamaan dan perdamaian.[]

*) Penulis adalah Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Anggota Peace Leader Qothrotul Falah dan Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten