Gerakan Santri Melawan Radikalisme

Oleh Cahyati*)

Di Indonesia, sebuah lembaga keislaman klasik yang kemudian disebut sebagai “pesantren” bukanlah tempat yang langka, karena pesantren kini bisa dijumpai di berbagai wilayah. Baik pesantren dengan latar belakang salafiyah (tradisional) atau pun khalafiyah (modern).

Tak dapat dipungkiri, pesantren telah banyak berperan dalam mencerdaskan bangsa. Para Kiai di pesantren mendidik santri-santri dengan bermacam ilmu keislaman, terutama ilmu fiqih untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan ilmu akhlak sebagai tolok ukur manusia dalam mencapai kemuliaan baik di mata Allah Swt maupun di mata manusia.

Di pesantren, santri dapat belajar kesederhanaan dan kemandirian, serta belajar cara berinteraksi dengan orang lain atau bersosialisasi dengan baik. Dari gubug-gubug berdindingkan bilik ini telah lahir banyak ulama, kiai, guru, buya dan tokoh-tokoh agama dan nasional yang secara langsung atau tidaknya telah memberikan pemikiran-pemikiran yang brilian untuk kemajuan bangsa.

Begitupun halnya dengan semua santri yang terdapat di seluruh wilayah di Indonesia saat ini. Sebagaimana banyak orang memberikan julukkan kepada mahasiswa bahwa mereka adalah agen of change, agen of social dan agen of control, sesungguhnya santri pun memiliki peran yang sama bahkan lebih jauh dari ketiga peran tersebut.

Santri memiliki peran sebagai garda terdepan dalam setiap upaya untuk menjadikan Tanah Air ini lebih baik. Salam setiap permasalahan-permasalahan yang muncul, santri juga memiliki peranan yang penting dalam mengatasinya. Termasuk permasalahan maraknya terorisme dan radikalisme di Indonesia, santri dapat menjadi agen penopang untuk menepis hal itu.

Lalu bagaimana caranya? Yaitu dengan keilmuan Islam yang kuat, gagasan-gagasan yang cemerlang, dan upaya-upaya kreatif dalam melakukan pembangunan sikap dan pola pikir masyarakat untuk lebih baik.

Pusat Studi Pesantren (PSP) Bogor misalnya, meyakini bahwa para santri dapat berkontribusi besar bagi negara ini. Oleh sebab itu, lembaga yang dipimpin oleh Kiai Achmad Ubaidillah (cucu Mama Falak Pagentongan) ini berikhtiar dalam membagun jaringan pesantren untuk jangka panjang.

Salah satu bentuk ikhtiar PSP adalah dengan mengadakan workshop dan pelatihan kepenulisan untuk santri di lima wilayah, yaitu Surabaya, Padang, Banjarmasin, Mataram dan Banten. Dua bulan lalu (23-27/03/2017), penulis terlibat mendampingi 20 santri dari 10 pesantren salaf dari dari wilayah Lebak, Pandeglag, dan Serang, di Hotel Zest Bogor untuk kegiatan workshop tersebut.

Workshop ini diadakan dalam rangka memfasilitasi santri untuk menyuarakan pemikiran-pemikiran keislamananya, terutama dalam menyuarakan pesan damai. Dalam kegiatan itu pula, para peserta berdiskusi, membangun argumen serta merumuskan peran santri bagi masyarakat kaitannya untuk menanggulangi radikalisme.

Mengapa Santri?
Santri dipilih sebagai agen antiradikalisme karena pesantren memiliki jejaring yang sangat luas di Nusantara. Selain itu para santri dapat dijadikan sebagai bibit-bibit penebar keislaman yang ramah karena mereka memiliki akar keilmuan yang kuat.

Dengan semboyan “santri adalah kunci”, maka diyakini santri menjadi kunci terwujudnya kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan di negeri ini. Mengenai kasus terorisme dan radikalisme yang sudah mulai menyebar ke berbagai wilayah, santri bisa menjadi benteng melawan radikalisme.

Alasan yang lainnya adalah karena santrilah yang akrab dengan kajian-kajian kitab kuning yang banyak mengajarkan pesan perdamaian. Oleh sebab itu, santri dinilai akan lebih memiliki rasa toleransi yang kuat, sikap yang bijaksana, dan lebih respek dalam menghadapi setiap gejolak konflik yang muncul tak terkecuali konflik yang berlandaskan intoleransi.

Namun untuk mewujudkan itu, mesti ada kekompakan di kalangan pesantren khususnya di Banten, karena beberapa daerah di Banten dinilai sebagai daerah merah radikalisme. Semua bergerak dengan menyebarkan pesan atau ajakan damai untuk mewujudkan Islam yang berkeadaban dan mendamaikan. Tak hanya cukup di mimbar saja, namun santri kini perlu bergerak di wilayah lembar dan layar.

Apa yang diinisiasi oleh PSP sangat bagus dan positif guna mewujudkan keislaman yang ramah. Workshop kepenulisan untuk santri memberikan gambaran dan wawasan bahwa sebuah tulisan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pola pikir dan tingkah laku seseorang. Dari sebuah tulisan seseorang dapat menjadi radikal, kriminal atau berpikiran ekstrim.

Sebaliknya, dengan sebuah tulisan pula seseorang dapat mencegah perbuatan yang radikal, mencegah berbuatan anarkis, atau hal yang lainnya. Itulah salah satu kekuatan dari tulisan, yang karenanya santri harus bisa menepis atau memberikan doktrin-doktrin yang bermuara pada perdamaian umat atau masyarakat serta keramahan Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dengan pengetahuan keagamaan yang telah dipelajari di pesantren melalui tulisan.

Keramahan Islam harus diwujudkan dengan pemikiran, tutur kata dan tingkah laku yang menyejukkan pula, sebagaimana firman Allah Swt: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Qs. al-Anbiya [21]: 107).

Keramahan Islam sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw sepanjang perjalanan dakwahnya. Salah satunya, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah diludahi oleh seorang kafir setiap kali berangkat ke masjid.

Saat suatu hari Rasulullah tidak mendapati orang yang biasa meludahinya, kemudian beliau mendapat kabar bahwa orang tersebut sakit, maka beliau lekas menjenguknya serta merawatnya dengan penuh kasih sayang. Karena kesabaran dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rasulullah, orang kafir tersebut akhirnya bersyahadat dan memeluk agama Islam.

Kisah di atas hanyalah sekelumit dari banyak kisah keteladanan Nabi Muhammad yang patut diambil sebagai contoh untuk kehidupan dalam bermasyarakat atau bernegara. Sikap yang ramah, tutur kata yang menyejukkan, dan pemikiran yang penuh dengan kearifan akan banyak mendatangkan kasih sayang dan kerukunan.

Landasan ini juga diungkapkan dalam sebuh hadis Nabi Rasulullah Saw: “Para penyayang akan disayangi Allah. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi penduduk langit.” (HR Ahmad).

Hadis ini mengandung makna bahwa orang yang menyayangi semua makhluk yang ada di bumi ini, yakni manusia baik muslim atau non muslim, hewan, tumbuh-tumbuhan juga makhluk yang tak bernyawa sekalipun maka Allah pun akan menyayanginya. Jika Allah menyayangi kita, maka seluruh malaikat pun akan turut menyayangi kita.

Karena santri diyakini memahami firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw itu, maka mereka sangat mungkin menjadi agen untuk menghadang radikalisme. Dengan kekompakan semua elemen pesantren, maka gerakan santri melawan radikalisme akan sangat penting bagi kelangsungan negeri ini.(*)

*Penulis adalah Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten, Anggota Peace Leader Qothrotul Falah & Mahasiswi UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten