Agenda Kebangsaan Youth Populi

Oleh Nurul H. Maarif

Hari-hari ini adalah hari-hari gelisah. Banyak kalangan menggelisahkan maraknya kelompok-kelompok radikal yang kian berkembang di lingkungan kampus, baik kampus Islam terlebih kampun umum, terutama yang menjajakan dagangan Khilafah Islamiyyah. Gerakan ini bahkan juga muncul di tempat-tempat umum, masjid dan sebagainya.

Tak heran, nyaris semua kalangan yang menganut “Mazhab NKRI Harga Mati” turun tangan untuk menghadangnya. Banyak kalangan akademisi yang menyuarakan pentingnya menahan potensi laju radikalisme di kalangan kampus, termasuk dengan meminta bantuan Presiden Republik Indonesia untuk segera bertindak. Kapolripun beencana membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang dinilai tepat oleh berbagai kalangan.

Sebelumnya, Gerakan Pemuda Ansor juga melakukan berbagai penghadangan even-even yang diselenggarakan para pengusung khilafah itu, di berbagai daerah di negeri ini. Beberapa kali nyaris terjadi benturan fisik. Semua dilakukan gerakan kalangan muda Nahdlatul Ulama (NU) ini karena kecintaan pada negaranya.

Masih Banyak Asa
Penulis tinggal di kampung, di wilayah Lebak Banten, yang sesungguhnya jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Namun kekhawatiran massifnya gerakan radikal di kalangan anak muda itu juga menyusup ke dalam diri penulis dan barangkali juga menyelinap ke relung hati rekan-rekan lain yang peduli pada nasib bangsa ini ke depan.

Namun demikian, sesungguhnya masih banyak asa ke depan, jika kita mampu mengarahkan anak-anak muda, terutama di lingkungan kampus, untuk melakukan kegiatan-kegiatan kebangsaan dan pembelaan pada kebhinnekaan. Dan nyatanya, di beberapa tempat, penulis masih melihat kegiatan demikian nyata dilakukan.
Misalnya, Jum’at, 28 April 2017 lalu, penulis didaulat menjadi pemateri Seminar Nasional bertema “Bhinneka yang Merdeka untuk Satu Indonesia”, bertempat di Koperasi Pedoman Pandeglang Banten. Penulis diminta menyampaikan pandangan tentang penolakan pada konsep Khilafah. Hadir sebagai pemateri lainnya, Dr. Suwaib Amiruddin, MSi (Sosiolog Untirta Serang) dan Fierly Murdiyat Mabruri, S.IP (IKA GMNI Banten), juga Milla Fadhlia (KAHMI Pandeglang). Hadir sebagai peserta ratusan mahasiswa dari berbagai kampus dan berbagai organisasi kepemudaan di Pandeglang.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh aktivis muda yang tergabung dalam Youth Populi Institute (Yopie), yang beralamat di Menes-Pandeglang Banten. Didirikan pada 20 Mei 2016 oleh Asep Saparudin dan Rizalul Kahfi yang kini menjadi ketuanya, Yopie diisi oleh lima mahasiswa Universitas Mathla’ul Anwar (UNWA) Pandeglang dan Untirta Serang; Kahfi, Ani, Kiki, Huda dan Carlos.

Untuk apa mereka menyelenggarakan kegiatan kebhinnekaan yang tidak populer di kalangan remaja ini? Bagi aktivis Yopie, kebhinnekaan butuh ruang kemerdekaan yang bebas dari perlakuan diskriminatif ataupun intimidatif. Bagi mereka, bangsa Indonesia harus terus dididik supaya bisa melihat perbedaan sebagai rahmat dan bukan bencana. Perbedaan harus diakui sebagai berkah Tuhan, agar bangsa Indonesia tetap satu.
Visi besar Yopie sendiri adalah menjadi wadah bagi generasi muda dalam menuangkan gagasan-gagasannya untuk membangun bangsa. Karena itu, fokus kegiatan mereka adalah mengusung isu demokrasi, hukum dan kebangsaan. Untuk menyebarkan gagasannya, mereka juga masuk ke kampus-kampus kecil di wilayah Pandeglang dan sekitarnya.

Melihat semangat generasi muda di internal Yopie, sepatutnya kita semua memberikan apresiasi yang tinggi. Tidak hanya karena militansi mereka yang patut diacungi jempol, melainkan juga karena keberadaan mereka yang di pinggiran kota. Jika kesadaran para generasi muda seperti mereka, maka tidak ada kekhawatiran apapun atas masa depan kelangsungan bangsa ini.

Itu sebabnya, Bung Karno senantiasa menyatakan; “Berikan aku sepuluh pemuda, akan aku goncang duna.” Pemudalah yang menentukan arah dunia ini. Tak heran pula, jika Ahmad Syatha’ Dimyati mengingatkan: “Inna fi yad al-syubban amr al-ummah wa fi aqdamihim hayataha//sesungguhnya di tangan pemudalah persoalan masyakarat dan di kaki merekalah kehidupannya.” Menjadi pemuda berkarakter inilah yang tengah ditapaki oleh para aktivis Yopie.

Untuk menyempurnakan kehadiran Yopie, ada beberapa catatan yang penting disampaikan. Pertama, mempertajam usungan isu. Isu-isu yang diusung haruslah lebih dikerucutkan lagi, termasuk menyoroti secara spesifik isu-isu kebangsaan atau bahkan gerakan-gerakan radikal yang berupaya mengganggu eksistensi NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika. Pemahaman dan pengetahuan mereka perihal isu-isu kebangsaan harus terus dipertajam dan diasah melalui teknik-teknis analisa sosial, mengingat usia mereka yang masih remaja.

Kedua, mematangkan pengalaman. Mereka adalah anak-anak muda yang masih berkutat di lingkungan masyarakat dan kampusnya alias masih jarang bergaul dengan komunitas di luar dirinya. Untuk membangun kematangan, alangkah baiknya jika mereka mulai bergabung dengan komunitas lain dari berbagai kampus dan organisasi kepemudaan yang juga mengusung isu yang sama, baik di Banten maupun di wilayah lain.

Ketiga, memperbanyak jejaring. Sebagai organisasi yang baru setahun berdiri dan terus ingin berkembang membesar, maka tak ada jalan lain kecuali mereka harus memperlebar jejaring baik di lingkun Pandeglang, Banten atau bahkan Indonesia. Perluasan jejaring akan memperluas penyebaran ide-ide kebangsaan dan gerak langkah mereka.

Keempat, penularan ke banyak kampus. Mereka selama ini hanya menjalankan kegiatan di lingkungan kampusnya dan kampus-kampus lain di Pandeglang. Akan menjadi point tersendiri, jika sayap kegiatannya terus diperluas hingga menjamah kampus-kampus lain di luar Pandeglang. Sebarannya yang luas akan memungkinkan menyedot ketertarikan generasi muda dari kampus-kampus lainnya.

Kelima, memperluas kebhinnekaan peserta. Selama ini, dua kali penulis menjadi pemateri dalam kegiatan Yopie, tahun 2016 dan 2017, ratusan peserta yang hadir masih homogen. Masih terbatas pada kelompok muslim; NU, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, dll. Akan lebih bagus lagi jika kepesertaannya menembus batas agama dan budaya. Pemuda-pemuda dari agama yang berbeda bisa dilibatkan di dalamnya, karena hak kebhinnekaan dan hak ke-Indonesiaan juga dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, tanpa pandang latar belakangnya. Kebhinnekaan juga akan kian kokoh dengannya.

Keenam, berjejaring dengan media. Diantara yang penting dilakukan oleh lembaga yang baru dirintis, adalah membangun jaringan dengan media massa. Alasannya simpel, yakni untuk kepentingan penyebaran gagasan-gagasan kebangsaannya. Dan Yopie sesungguhnya sudah melakukannya dalam skala yang kecil. Kegiatannya senantiasa diwartakan oleh media, namun tetap perlu diperluas (termasuk) media onlie dan media cetak dalam skala yang besar.

Ketujuh, penataan program kerja pemikiran. Mereka perlu dibina dan diarahkan oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya untuk melakukan program-progam kerja penelitian yang serius, sehingga kelak bisa menjadi proyek pemikiran kebangsaan. Perlu juga mereka didorong membuat bulletin, website, penerbitan hasil penelitian dan sejenisnya, sehingga karakter “aktivis yang pemikir” benar-benar menampak pada diri mereka.

Dengan pengambilan posisi yang jelas, membela NKRI dan menolak kelompok radikalis yang menentangnya, Yopie sesungguhnya telah menunjukkan cikal-bakal sebagai generasi muda yang patut diperhitungkan bagi masa depan bangsa ini. Sudah sepatutnya generasi muda lainnya meniru langkah-langkah yang mereka lakukan, sebagai bentuk kecintaan pada Tanah Airnya. Harapan itu masih terbuka lebar.[]

(Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten)