Reward Dua Kegembiraan

Oleh Nurul H. Maarif*)

Di hadapan Allah Swt, kedudukan Ramadhan begitu istimewa. Dibanding 11 bulan lainnya, Ramadhan laksana Yusuf dibanding 11 saudaranya. Orang beriman setia menanti kehadirannya penuh rindu. Menghiba aneka keistimewaannya, bahkan banyak yang berharap Ramadhan berlangsung setahun penuh tanpa jeda.

Melalui puasa sebulan penuh, orang-orang beriman dididik, ditempa dan digembleng ketat untuk menjadi orang-orang yang bertakwa secara maknawi (Qs. al-Baqarah [2]: 183). Mereka laksana prajurit gagah berani yang tengah bertempur melawan musuh-musuhnya.

Pada bulan ini pula, Allah Swt “menghambur-hamburkan” ampunan, rahmat, dan keberkahan. Memasuki Ramadhan, bahkan pintu syurga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan pengganggu dibelenggu (Shahih al-Bukhari: 1422 H, VI/123). Allah Swt juga menghadiahkan Lailah al-Qadr, malam yang lebih baik dari 1000 bulan (Qs. al-Qadr: 2).

Imam al-Bukhari (al-Sunan al-Kubra: IX/142) meriwayatkan Hadis Qudsi. Allah Swt menyatakan, puasa itu untuk diri-Nya. Ia langsung yang membalasnya, karena orang-orang yang berpuasa (rela) meninggalkan syahwat diri dan makan-minumnya, semata memenuhi perintah-Nya. Puasapun menjadi perisai dirinya. Allah Swt lalu menjanjikan dua reward kegembiraan bagi mereka: farhah hin yufthir (kegembiraan kala berbuka) dan farhah hin yalqa rabbah (kegembiraan kala berjumpa Tuhannya).

Reward dua kegembiraan ini patut direnungkan. Yang pertama kegembiraan kala berbuka. Umumnya kaum muslim memahami kegembiraan ini secara fisik. Seharian menahan lapar-dahaga, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, mereka diperkenankan menyantap aneka minuman, buah-buahan, makanan dan sejenisnya. Ibarat sumbatan, pada saat itulah semua tutupnya dilepas lebar-lebar.

Menyambut kegembiraan fisik ini, banyak yang sengaja menyiapkan berbagai hidangan terbaik, yang di bulan-bulan lainnya tidak pernah dilakukan. Aneka kuliner secara mendadak bermunculan bak jamur di musim hujan. Ngabuburit untuk “mempercepat” hadirnya kegembiraan berbuka juga dilakukan.

Karena mengejar eforia ini, lalu apa saja disantapnya hingga kekenyangan. Dampaknya lemas dan malas-malasan. Jamaah maghribpun ditinggalkan. Rasulullah Saw sendiri cukup menyambut memakan tiga bulir kurma dan meneguk air putih secukupnya untuk menyambut kegembiraan fisik ini. Beliau tidak ingin kegembiraan fisik ini menghilangkan kesiapannya menyongsong kegembiraan hakiki kelak.

Kegembiraan kedua berupa perjumpaan dengan Allah Swt kelak. Inilah kesejatian kegembiraan orang beriman, yang harus menjadi orientasi utamanya. Kegembiraan ini diraih (hanya) dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Pada Ramadhan ini, perbanyaklah shalat sunnah (termasuk tarawih), dzikir, kajian agama, daras Alquran, tuturan yang baik, permohonan ampunan dan sebagainya. Amalan terbaik dilakukan guna menyambut momen perjumpaan dengan-Nya.

Untuk itu, prioritaskanlah kegembiraan hakiki, perjumpaan dengan-Nya; dan janganlah semata mengejar kegembiraan fisik, perjumpaan dengan hidangan; kendati keduanya senantiasa dirindukan dan dinanti.[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Penulis Buku Kerahmatan Islam (2016) dan Samudra Keteladanan Muhammad (2017).

(HU Radar Banten, 6 Juni 2017)