Bukan Bulan Bermalas-malasan

Oleh Nurul H. Maarif*)

Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Umat muslim menyebutnya syahrun mubarak. Pada bulan ini, semua aktivitas dinilai baik dan manfaat. Apalagi ritual ibadah, ngaji al-Qur’an, infak-sedekah, dan juga puasa, tidur saja acapkali dikejar-kejar karena dinilai ibadah.

Tak heran karenanya, banyak al-shaimin (orang-orang yang berpuasa) lebih memilih tidur panjang ketimbang beraktivitas. Lelah, letih, dan lesu, biasanya lumrah menjadi alasan utamanya. Bahkan kantor-kantor atau tempat-tempat aktivitas lainnya buka lebih siang dan tutup lebih pagi. Ramadhan, tepatnya penghormatan pada Ramadhan, menjadi argumen untuk membenarkan semua ini.

Ini menarik! Ramadhan sejatinya tidak mengajarkan kemalasan. Juga tidak menganjurkan mengurangi aktivitas keseharian, kecuali jika sangat diperlukan. Ramadhan tidak ubahnya bulan-bulan yang lain. Perbedaannya hanya terletak pada puasa. Rasulullah Saw bersama para shahabat menjalani Perang Badar pada Ramadhan. Proklamasi bangsa ini pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H.

Di bawah terik matahari, mereka mempertaruhkan jiwa dan raga, karena perang ini menentukan masa depan Allah Swt akan disembah atau tidak di atas muka bumi ini. Banyak lagi aktivitas serius yang dijalani Rasulullah Saw dan para shahabatnya, jutru dalam situasi lapar dan dahaga karena puasa Ramadhan.

Namun, nyatanya banyak diantara kita yang memanfaatkan Ramadhan untuk bermalas-malasan. Argumen agamanya adalah Hadis Rasulullah Saw; “Tidurnya orang berpuasa itu ibadah, diamnya itu tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.” Hadis populer ini, antara lain, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dan dinukil ulang oleh Jalal al-Din al-Suyuti dalam al-Jami’ al-Shaghir (II/678).

Muatan Hadis ini sungguh enak diamalkan, karena meringankan pelaksanaan puasa. Ia juga niscaya diminati banyak kalangan. Pertanyaannya: apakah cara beragama berbasis malas-malasan seperti ini bisa dibenarkan dan patut dilestarikan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, dua hal penting patut dilihat, yakni kualitas dan efek sosial Hadis ini. Soal kualitas, banyak ulama kompeten yang menilai Hadis ini tidak layak diamalkan. al-Suyuti menilainya dha’if (lemah). Pada rangkaian periwayatnya, terdapat nama Ma’ruf bin Hisan yang menurut al-Baihaqi kualitasnya lemah. Bahkan ada perawi bernama Sulaiman bin Amr al-Nakha’i yang bahkan lebih parah lagi.

Sulaiman, menurut al-‘Iraqi, adalah seorang pendusta. Ahmad bin Hanbal menyebutnya pemalsu Hadis. Yahya bin Ma’in juga menghukumi demikian. al-Bukhari menilainya matruk (Hadisnya harus ditinggalkan). Karenanya, ulama-ulama berkaliber dunia menghukumi Hadis ini palsu, yang lebih layak ditinggalkan ketimbang diamalkan.

Dampak pengamalan Hadis ini juga patut dipertimbangkan, karena memanjakan para pemalas. Orang yang berpuasa merasa memiliki argumen untuk mengurangi aktivitas kesehariannya. Padahal sesungguhnya, Ramadhan adalah kesempatan emas untuk menjalankan banyak kebaikan. Pahala dan keberkahan itu diraih karena ibadah dan tantangan, bukan karena malas-malasan dan banyak tidur.

Bila Hadis ini menjadi amaliah kaum muslim, maka dampaknya akan menghambat produktivitas. Allah Swt mencintai muslim yang produktif dan aktif (al-qawi) ketimbang yang lembek dan malas (al-dha’if).[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Penulis Buku Kerahmatan Islam (2016) dan Samudra Keteladanan Muhammad (2017).

(HU Radar Banten, 7 Juni 2017)