Harum Mulut Orang yang Berpuasa

Oleh Nurul H. Maarif*)

Ramadhan bulan istimewa; bulan keberkahan, bulan ampunan, bulan rahmat, bulan ketaatan, bulan surga, juga bulan kedekatan dengan-Nya. Ganjaran kebaikan dilipatgandakan. Sanksi keburukan diampunkan. Itu pasalnya, orang yang sungguh-sungguh beriman terus merindui dan sangat berbahagia atas kehadirannya.

Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari: 1422 H, IX/142) meriwayatkan, Allah Swt berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumnya, semata karena Aku. Puasa itu perisai diri. Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan: kegembiraan kala berbuka dan kegembiraan kala berjumpa Tuhannya. Sungguh, aroma mulut orang yang berpuasa itu di hadapan Allah lebih harum ketimbang minyak misik.”

Menarik merenungi Hadis Qudsi perihal aroma mulut orang yang berpuasa ini. Bahkan, dalam riwayat Imam al-Bukhari (III/24) dan Imam Muslim (Shahih Muslim: T.Th., II/807), Rasulullah Saw menegaskan: “Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Sungguh aroma mulut orang yang berpuasa itu di hadapan Allah lebih harum ketimbang minyak misik.” Sabda ini kian menguatkan pengakuan Allah Swt melalui Hadis Qudsi-Nya.

Memahami hal ini, rupanya kaum muslim terbelah menjadi dua kelompok; yang literalis-tekstualis dan yang substansialis-kontekstualis. Bagi kelompok pertama, harum aroma mulut orang yang berpuasa itu terjadi dalam pengertiannya yang harafiah, sebagaimana bunyi teksnya. Akibatnya, banyak diantara mereka yang mengihindari bersiwak atau gosok gigi untuk menjaga aroma mulutnya. Khawatir kekhasannya hilang menjadi alasannya.

Tak peduli, orang di sekelilingnya terganggu oleh aroma mulutnya yang menyengat itu. Keyakinan atas pemahamannya yang literalis-tekstualis mengalahkan orientasi kemaslahan sosialnya. Dan tentu saja pemahaman ini sah saja, karena secara literal-tekstual Hadisnya bertutur demikian. Hanya saja, pemahaman ini tidak berdampak apapun pada peningkatan kualitas ibadah puasanya.

Bagi kelompok kedua, pernyataan Allah Swt dan Rasul-Nya itu bersifat metaforis yang harus dimaknai berdasarkan “apa yang tersirat” bukan “apa yang tersurat”. Dan pemahaman ini terkait perilaku orang berpuasa dalam menggunakan mulutnya di saat Ramadhan.

Lihat saja! Orang yang berpuasa secara mendadak mengalami peningkatan spiritualitas yang tajam. Ini dampak nyata dari upayanya menahan nafsu, makan, dan minumnya. Mereka tiba-tiba rajin menunaikan ibadah, termasuk yang sunnah. Mereka tiba-tiba kalem dan tenang penuh kewibawaan. Mereka tiba-tiba tekun mendaras Alquran, tidak asal bicara, menghindari kalam dusta dan malas ngobrol yang tiada manfaat.

Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari: VIII/11) meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda; “Siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata yang baik atau lebih baik diam.” Orang beriman senantiasa menjaga mulutnya, karena “keutamaan seseorang diketahui dari kualitas ucapannya.” Dan kebaikan yang muncul dari mulut ini betul-betul mewujud nyata saat seseorang berpuasa.

Ketika itulah, mulut yang senantiasa basah oleh dzikir dan terhindar dari dosa, di hadapan Allah Swt bararoma harum melebihi minyak kasturi.[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Penulis Buku Kerahmatan Islam (2016) dan Samudra Keteladanan Muhammad (2017).

(HU Radar Banten, 8 Juni 2017)