Altruisme

Oleh Nurul H. Maarif*)

Menukil riwayat Abu Qilabah, Abdul Mun’im al-Hasyimi (Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim: h. 169) menuliskan, suatu ketika sekelompok orang badiyah (pedalaman) sowan ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW.

Di hadapan beliau, mereka bercerita tentang orang saleh di daerahnya. Shalatnya yang tekun dan khusyu’ dibanggakan. I’tikafnya yang tiada mengenal waktu disanjung-sanjung. Dzikirnya yang tiada kenal lelah dipuja-puja. Aktivitasnya sehari-hari di masjid dikagumi.

“Apakah dia punya isteri?” tanya Rasul.

“Benar,” timpal mereka.

“Apakah dia punya anak?”

“Benar.”

“Apakah dia punya keluarga?”

“Benar.”

“Siapa yang menanggung segala kebutuan kerabatnya?”

“Kami semua, wahai Rasulullah SAW.”

“Kalau begitu, kalian lebih baik darinya.”

Mendengar klaim ini, mereka kaget. Bagaimana mungkin, mereka yang tidak tekun secara spiritual dianggap lebih baik ketimbang orang yang tekun spiritual?

Rasulullah SAW rupanya punya alasan tersendiri. Bisa dibayangkan, jika ahli ritual itu terbebani oleh urusan duniawi anak, isteri dan keluarganya, apakah dia bisa beribadah dengan tenang, khusyu’ dan nyaman?

Jika anaknya butuh pangan, isterinya minta nafkah duniawi, keluarganya berharap tanggungjawabnya, apakah dia masih bisa khusyu’ beribadah? Nyatanya, ia bisa beribadah dengan nyaman dan tanpa terbebani urusan dunia keluarganya, itu karena segala urusan keluarganya ditanggung oleh masyarakatnya.

Inilah yang membuat mereka, yang beramal sosial, itu dinilai lebih baik ketimbang yang hanya beramal ritual. Inilah maksud al-muta’addi afdhal min al-qashir (ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain itu lebih baik dibanding ibadah yang manfaatnya dirasakan diri sendiri).

Dalam riwayat al-Bukhari (Shahih al-Bukhari: II/112) dan Imam Muslim (Shahih Muslim: II/717), Rasulullah Saw menyatakan: “Tangan di atas lebih utama ketimbang tangan di bawah.” Dzun Nun al-Mishri mengingatkan, burung yang memberi makan burung lain yang patah sayapnya, itu lebih baik dan lebih mulia.

Dan tak perlu khawatir, harta yang disosialkan akan habis begitu saja. Allah Swt menjanjikan: “Dan apa saja yang engkau infaqkan, maka Allah akan mengganti.” (Qs. Saba’: 39). Ajaran zakat/sedekah menjadi cerminan kesalehan sosial, yang kelak akan diganti oleh Allah Swt dengan yang lebih baik. Harta seperti ini sajalah yang akan mengiringi pemiliknya hingga ke surga.

Semua ini menunjukkan, ajaran Islam sarat nilai-nilai sosial. Saleh individual saja tak cukup, tanpa saleh sosial. Inilah altruisme: ajaran yang mementingkan pihak lain! Idealnya, dua karakter kesalehan itu berkelindan dalam jiwa yang satu. Dan pada Ramadhan, amaliah ritual dan sosial selaiknya ditingkatkan hingga berkali lipat.[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Penulis Buku Kerahmatan Islam (2016) dan Samudra Keteladanan Muhammad (2017).

(HU Radar Banten, 15 Juni 2017)