Al-Qur’an Menantang Berpikir

Oleh Nurul H. Maarif*)

Penerbit Mizan Bandung, April 2017 lalu menerbitkan karya fenomenal di bidang tafsir al-Qur’an; The Message of The Quran: Tafsir al-Quran Bagi Orang-orang yang Berpikir.

Karya tiga jilid dengan total 1484 halaman ini, ditulis oleh Muhammad Asad (1902-1992) melalui riset serius nan panjang selama puluhan tahun atas berbagai tafsir tradisional, modern, Hadis, sejarah Rasul, dan bahasa suku Badui Arabia yang bahasanya dinilai sama dengan yang dipakai di zaman Rasulullah Saw. Karya ini pertama kali diterbitkan pada 1980.

Muhammad Asad, bernama asli Leopald Weiss, seorang wartawan dan pengarang ternama dari Austria. Keturunan rabi Yahudi ini awalnya menganut keyakinan Yahudi, lalu menjadi muallaf. Ia dinilai sebagai cendekiawan Muslim-Eropa paling berpengaruh pada abad ke-20.

Kontribusinya bagi peradaban Islam sangat penting; baik di bidang tafsir, sunnah, yurisprudensi, teori sosial, dan sejarah. Bahkan karyanya yang diterjemahkan oleh Penerbit Mizan ini, oleh Murad Wilfried Hofmann (Diplomat Republik Federal Jerman) dinilai sebagai “terjemahan al-Quran yang paling berhasil di zaman kita ini.”

Menilai karya ini, cendikiawan muslim Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menuliskan: “Muhammad Asad adalah diantara mufassir kontemporer yang mampu menghubungkan alam pikiran klasik yang berkembang dalam peradaban Islam dengan suasana kekinian yang sarat dengan tantangan.”

Sedang cendikiawan Nahdhatul Ulama (NU), Masdar F. Mas’udi menilai; “Saya membaca tafsir al-Quran oleh Muhammad Asad ini mengandung relevansi yang kuat terhadap realitas problematik dalam ranah kehidupan umat Islam, khususnya, dan kemanusiaan, pada umumnya. Tafsir ini mencerahkan!”

Kendati the Message of the Quran sejatinya bukan karya baru, telah terbit 37 tahun silam, namun penerbitannya oleh Penerbit Mizan beberapa bulan lalu jelas menambah gembita dan mengencangkan denyut nadi kajian al-Quran di Nusantara. Apalagi ini ditulis oleh sosok yang memiliki kadar keilmuan dan pengalaman mumpuni.

Apa yang disampaikan Asad memang tepat. Tak sekali dua kali, ayat-ayat al-Quran menantang pembacanya untuk terus berfikir (Qs. al-An’am [6]: 50, dll), melihat/membaca (Qs. al-Qashash [28]: 60, dll), menggunakan akal (Qs. al-Baqarah [2]: 44, Qs. Ali Imran [3]: 65, dll), ingat (Qs. Yunus [10]: 3, dll) dan seterusnya. Kandungan mutiaranya hanya bisa dipetik oleh siapapun yang menggunakan akalnya.

Al-Quran yang diturunkan pada Ramadhan (Qs. al-Baqarah [2]: 185) merupakan hadiah terbaik untuk orang-orang yang mempergunakan akalnya. Lihat saja, aneka tantangan tertera di sana: perenungan pada kuasa Allah, keunikan manusia, alam raya, kehidupan, kematian dan segala macamnya.

Dengan akalnya, orang yang jujur akan menemukan eksistensi Allah Swt dan akan mempercayai-Nya. Inilah mukjizat maknawi, yang mata airnya tiada pernah kering ditimba oleh akal-akal yang dahaga kebenaran. Semakin ditimba, semakin melimpah pancaran air kebenarannya. Begitu seterusnya.

Dan Muhammad Asad, melalui karyanya, the Message of the Quran, membuktikan kebenaran al-Quran yang menantang penggunaan akal itu. Kiranya tepat, jika karya tafsir modern ini menjadi referensi kajian al-Quran terpenting abad ini, yang highly recommended bagi pecinta kajian al-Quran.[]

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Penulis Buku Kerahmatan Islam (2016) dan Samudra Keteladanan Muhammad (2017).

(HU Radar Banten, 17 Juni 2017).