Ajaran Insan Kamil Si Bijak

Oleh Nurul H. Maarif*)

Bermilyar manusia hidup di bumi. Hanya segelintir yang namanya diabadikan Alquran, baik sebagai ‘ibrah kebaikan maupun keburukan. Luqman, berjuluk al-hakim (Si Bijak), diantara yang nama dan ajarannya diabadikan sebagai ‘ibrah keluhuran. Namanya disejajarkan dengan para rasul dan nabi. Siapa sesungguhnya Luqman?  

Menurut Ibn Katsir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: 2001, III/448) para ulama berbeda pandangan perihal jati diri Luqman. Sebagian mengakuinya sebagai nabi, bukan rasul. Sebagian lain menganggapnya hamba Allah Swt yang saleh, bukan nabi apalagi rasul. Pendapat kedua tampaknya lebih populer dan banyak diikuti para ulama.

‘Abdullah bin Abbas mengasumsikan Luqman sebagai ‘abdan habasyiyyan (budak hitam dari Etiopia). Suatu ketika, seorang berkulit hitam sowan pada Sa’id bin al-Musayyab. “Jangan khawatir karena engkau hitam. Sesungguhnya ada tiga orang terbaik dari Sudan; Bilal, Muhji’ budak Umar bin al-Khaththab dan Luqman Si Bijak.” Mujahid menilai, Luqman itu budak hitam dari Etiopia yang tebal bibirnya dan lebar kedua telapak kakinya. Namun ia seorang qadhi di kalangan Bani Israil, pada zaman Nabi Dawud.

Banyak pandangan lain perihal asal-usul dan kreteria fisik Si Bijak ini. Menukil al-Suhaili, Ibn Katsir (III/449) menengarai, nama lengkapnya Luqman bin ‘Anqa’ bin Sadun. Sedang putera yang menjadi ladang tarbiyyah-nya, bernama Tsaran. Terlepas benar tidaknya informasi ini, secara aklamasi para ulama mengakuinya sebagai ahli hikmah atau al-hakim, berdasarkan Qs. Luqman [31]: 12: “Dan sesungguhnya Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya; dan siapa kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. (Qs. Luqman: 12).

Hikmah yang diberikan oleh Allah Swt padanya berupa pengetahuan yang mendalam, agama yang baik, lurus dalam ucapan, dan untaian-untain kata bijaknya yang memukai. Hikmah-hikmah ini diabadikan oleh Alquran dan menjadi pelajaran penting terkait tarbiyah al-awlad (pendidikan anak). Apa saja kearifan tarbiyyah Luqman?

Pertama, larangan menyekutukan Allah Swt. Kepada anaknya, pertama-tama ia menasihati: “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya menyekutukan itu benar-benar kezaliman yang besar.” (Qs. Luqman [31]: 13).

Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari:1422 H, VI/18) meriwayatkan dari ‘Abdullah. “Dosa apakah yang paling besar di hadapan Allah?” tanyanya pada Rasulullah Saw. “Engkau menjadikan sekutu bagi-Nya, padahal Dialah yang menciptakanmu,” jawabnya. Penyekutuan itu dosa terbesar yang tidak diampuni-Nya (Qs. al-Nisa [4]: 48).
    
Kedua, keharusan berbakti pada orang tua dan menyukuri kehadirannya. Firman-Nya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tua. Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu. Kepada-Ku lah kembalimu. (Qs. Luqman [31]: 14).

Orang tualah wasilah anak terlahir ke dunia. Hanya anak durhaka yang berani menyakiti hatinya. Atas jasa-jasanya mendidik, merawat dan membesarkan, sudah semestinya anak berbuat baik padanya. Lebih-lebih ketika mulai renta, perhatian padanya harus lebih ditingkatkan dan tutur katanya tidak menghardik (Qs. al-Isra [17]: 23) kala pendengarannya mulai berkurang.

Karena beratnya beban mereka, maka keridhaan atau kemurkaan Allah Swt tergantung pada keridhaan atau kemurkaannya (Sunan al-Tirmidzi: 1998, III/347) dan bahkan (konon) surga di telapak kaki ibu. Untuk itu, siapa tidak bersyukur pada manusia, terutama pada mereka, maka ia tidak bersyukur pada Allah Swt (Sunan al-Tirmidzi: 1998, III/403).  

Ketiga, larangan menaati ajakan kemaksiatan. Firman-Nya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman [31]: 15).

Penyekutuan pada Allah Swt itu terlarang. Bakti pada orang tua itu kewajiban. Ketika anak dihadapkan pada pilihan pahit “penyekutuan pada Allah swt” atau “ketaatan pada orang tua”, maka Alquran memberikan guidance untuk tidak menaati ajakan kemaksiatan mereka. Rasulullah Saw juga berwejang, tidak ada ketaatan pada al-makhluq untuk bermaksiat pada al-Khaliq (Musnad Ahmad bin Hanbal: 2001, II/333). Kendati begitu, mereka tetap harus dipergauli secara baik di dunia. Kalaupun mereka mengintimidasi atau mengancam anaknya, pergaulan dan pelayanan terbaik padanya tetap harus disuguhkan.

Keempat, balasan atas perbuatan. Luqman mewejang: “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui. (Qs. Luqman [31]: 16).

Ini ajaran penting tentang pemantauan Allah Swt atas segala tindak-tanduk amba-Nya. Kalaupun manusia tidak melihat-Nya, yakinlah Dia tiada alpa memantau mereka dan segala pergerakannya. Kebaikan atau keburukan sekecil apapun, niscaya Dia melihat (Qs. al-Zalzalah [99]: 7-8) dan akan memperhitungkannya kelak. Abu Dawud al-Thayalisi (Musnad Abi Dawud: 1999, III/313) meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, suatu ketika Jibril menasihati Rasulullah Saw: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau menemui (diberi balasan) nya.” Kesadaran datangnya kematian (Qs. Alu Imran [3]: 185 ) dan balasan ini akan menjadi kontrol bagi manusia dalam mengaruhi kehidupannya.
 
Kelima, ketekunan menunaikan shalat, menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran dan bersabar. Luqman menasihati: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan kebaikan dan cegahlah melakukan keburukan dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. (Qs. Luqman [31]: 17).

Ajaran Luqman dalam ayat ini bersifat four in one (empat dalam satu paket). Ritual shalat harus disambung al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar. Tidak ideal orang yang sibuk di “menara gading” dengan kesalehan ritualnya namun mengabaikan kesalehan sosialnya, sehingga masyarakatnya tidak diajak pada kebaikan dan tidak pula dicegah dari keburukan. Padahal inilah karakter umat terbaik (Qs. Alu Imran [3]: 110).

Rasulullah Saw mengingatkan, siapa melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangan, lisan atau seminimal-minalnya dengan hatinya melalui doa (Shahih Muslim: I/69). Setelah itu, bersabarlah atas ujian-ujian yang menyesakkan jiwanya, lantaran jerih-payahnya menebar kebaikan dan mencegah keburukan.

Keenam, menghindari keangkuhan. Firman-Nya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. Luqman [31]: 18). Allah Swt lah yang berhak sombong atau angkuh, karenga Dia memiliki segalanya. Dengan aneka kelemahannya, tak secuilpun manusia punya kelayakan untuk angkuh. Fir’aun, Qarun, dan banyak lagi, terlaknat sebab keangkuhannya; perasan agung maupun kelebihan harta. Allah Swt tidak berminat menghadiahkan surga pada hamba-Nya yang memiliki keangkuhan – tidak menerima kebenaran – di hatinya walau sebiji atom (Shahih Muslim: I/97).
 
Ketujuh, anjuran melembutkan intonasi bicara. Firman-Nya: “Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Qs. Luqman [31]: 19). Hendaklah siapapun berbicara penuh kesantunan dan kelembutan, apalagi di hadapan para ahli ilmu, termasuk di hadapan orang tua. Abu Bakar dan Umar ditegur Allah Swt, karena berbicara keras-keras di hadapan Rasulullah Saw saat beradu argumen (Qs. al-Hujurat [49]: 2). Pepatah Arab menyebutkan: fadhl al-mar’ yu’raf bi qawlih (keutamaan seorang diketahui dari tuturannya); baik keutamaan akhlak maupun kadar keilmuannya.

Itulah point-point utama tarbiyyah al-awlad Luqman Si Bijak. Secara prioritas, dimulai dari larangan menyekutukan Allah Swt, bakti pada orang tua, larangan menaati ajakan kemaksiatannya, balasan atas perbuatan, menunaikan shalat, menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran dan bersabar, menghindari keangkuhan dan anjuran melembutkan intonasi bicara. Jika ajaran kearifan ini dijalankan dengan purna, insya Allah akan hadir generasi insan kamil yang saleh individual sekaligus saleh sosial.[]   

*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Penulis buku Penafsiran Politik (Pustaka Qi Falah: 2014), Kerahmatan Islam (Quanta: 2017), Samudra Keteladanan Muhammad (Alvabet: 2017) dan Islam Mengasihi, Bukan Membenci (Mizan: 2017).