Merenungi (Kembali) Budaya Menulis Kiai

Oleh Nurul H. Maarif*)

Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak Periode 2017-2022 resmi dilantik, pada 10 Agustus 2017 pagi, di Aula Multatuli Pemda Lebak. Banyak sambutan disampaikan. Diantara yang menarik direnungi, adalah sambutan Prof. Dr. KH. Soleh Hidayat, M.Pd., selaku unsur MUI Propinsi Banten.

Prof. Soleh, cendekiawan muslim asli Lebak Banten, yang juga Rektor Untirta Banten dan Ketua PWNU Banten, ini “menohok” dengan tajam budaya literasi di kalangan para ulama/kiai yang tidak menampakkan geliat menggembirakan.

“Keluarlah dari budaya kita yang lebih banyak berbicara tapi lemah dalam menulis,” katanya menyindir keras.

Sosok sekelas Prof. Soleh, tatkala menyampaikan pandangannya, tentu berdasarkan pengamatan dan penelaahan yang matang sekaligus mendalam. Apa yang disampaikan barang tentu bukan berdasarkan sumsi yang serampangan, apalagi kesimpulan yang asal-asalan. Beliau menyampaikan fakta yang nyata dan bahkan kasat mata.

Harus diakui secara jujur, tradisi literasi, khususnya menulis di kalangan para ulama/kiai, kian hari kian menurun dan terus melemah. Belum mati, namun sudah mulai mati suri. Budaya literasi ulama salaf (terdahulu) berupa peninggalan karya tulis sebagai legacy, yang bahkan berjilid-jilid tebal, rupanya tidak (benar-benar) terwarisi oleh ulama hari ini.  

Misalnya, secara khusus di Banten, Syeikh Nawawi Tanara bahkan konon menulis hingga 115 karya, termasuk Tafsir Marah Labid sejumlah dua jilid tebal. Karya-karyanya terus didaur ulang, ditelaah tiada henti dan diamalkan sepanjang hari, di kalangan pesantren. Melalui warisan intelektualnya, seakan-akan beliau masih hidup hingga kini menyapa santri-santrinya di seluruh penjuru negeri.      

Itu sebabnya, apa yang disampaikan Prof. Soleh kiranya penting menjadi bahan perenungan yang mendalam bagi kita semua. Nyatanya, tradisi literasi di kalangan ulama/kiai memang memudar. Tak banyak terdengar warisan intelektual mereka. Jika sebagian kalangan khawatir atas memudarnya tradisi menulis ulama ini, kiranya patut dipahami.

Sebab, faktanya, budaya yang berkembang di kalangan ulama/kiai Banten khususnya, adalah budaya lisan; berdakwah melalui ceramah, pidato atau khitobah dari mimbar ke mimbar. Itu terus dilakukan dari waktu ke waktu.

Tentu saja tidak berarti budaya da’wah bi al-lisan itu tidak penting. Jelas penting! Namun penting dimaklum, budaya lisan itu tidak bisa bertahan lama, sebagaimana budaya tulis yang mampu menembuh ruang dan waktu. Dakwah dengan lisan akan selesai sepeninggal pelakunya. Namun dakwah dengan tulisan, akan terus menembus dinding-dinding ruang dan waktu, hingga akhir zaman. Itu sebabnya, tepat kala Prof. Soleh mengharap para ulama/kiai keluar dari budaya lisan ke budaya tulisan.

Tak Cukup Berceramah
Para ulama/kiai di zaman ini memang harus mulai berfikir pentingnya menulis. Harus mulai keluar dari budaya lisan menuju budaya tulisan dalam berdakwah. Tulisan itu menjadikan informasi keilmuan tidak mudah hilang. ‘Ali bin Abi Thalib mengingatkan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan/qayyidu al-‘ilm bi al-kitab” (Prophetic Learning: 2010, h. 190).

Menulis juga sama halnya melestarikan dan mewariskan kekayaan intelektual bagi generasi berikutnya. Ulama-ulama terdahulu, di bidang apapun, semisal Abu Hanifah (w. 150 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Imam al-Syafi’i (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Imam al-Ghazali (w. 505 H), al-Farabi, al-Kindi, Ibn Rusyd dan seterusnya, adalah orang-orang hebat yang meninggalkan warisan intelektual berupa tulisan yang juga hebat.

Tanpa warisan berupa karya-karyanya, ulama-ulama yang hidup puluhan abad silam itu mustahil kita kenali saat ini, baik sosok maupun pikiran-pikirannya. al-Qur’an dan Hadis pun demikian, berupa tulisan. Ajaran-ajaran Islam mustahil kita terima, jika ayat-ayat dan Hadis-hadis tidak dituliskan.

Itu sebabnya, kata-kata hikmah menyatakan: al-khathth yabqa zamanan ba’da shahibih wa katib al-kathth taht al-ard madfunun/teks atau tulisan akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnya hancur lebur di kolong tanah (Kritik Hadis: 2000, h. v). Tulisan itu langgeng, kendati telah ribuan tahun ditorehkan. Karena tulisan lah, warisan intelektual Islam terus bisa dibaca kapan dan di manapun.

Tak heran, karenanya, jika Imam Besar Masjid Istiqlal dua periode, Almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A. acapkali mengingatkan santri-santrinya, di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta; wa la tamutunna illa wa antum katibun/janganlah kalian meninggal sebelum menjadi penulis. Dengan tulisan itu, orang yang meninggal masih bisa hadir menyapa pembaca-pembacanya.

Bahkan TS Elliot (1888-1965) mengingatkan; “Sulit membangun peradaban tanpa (budaya) tulis dan buku”? (Prophetic Learning: 2000, h. 170). Atas dasar ini, tak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan bagi para ulama/kiai untuk tidak menulis. Saya yakin, semua bisa menulis asalkan ada keinginan dan keseriusan. Dan karenanya, kesadaran akan pentingnya menulis ini harus terus-menerus digelorakan di kalangan para ulama/kiai. Bahkan jika perlu, penting diadakan pelatihan tulis-menulis untuk mereka.[]   

*) Penulis adalah Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten dan Penulis buku Penafsiran Politik (2014), Kerahmatan Islam (2016), Samudra Keteladanan Muhammad (2017) dan Islam Mengasihi, Bukan Membenci (2017).   

(Radar Banten, 31 Agustus 2017)