Saatnya Kiai Merebut Medsos

Oleh Nurul H. Maarif*

Selama empat hari, Senin-Kamis, 28-31 Agustus 2017, penulis mengikuti Halqah Kiai Nusantara, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pesantren (PSP). Bertempat di Hotel Arch Bogor Bogor, halqah ini mengambil tema Jihad Kiai Menangkal Radikalisme Beragama. Pesertanya dari berbagai pemangku pesantren di berbagai wilayah Indonesia.

Diantara yang menarik dicermati, dalam salah satu sesinya, pihak PSP menampilkan tema Jihad Pesantren Berbasis Literasi. Secara sederhana, literasi terkait tradisi baca dan tulis. Dan kesimpulan yang mengemuka saat itu, baik santri maupun kiai, dan secara umum masyarakat Indonesia, kini mengalami penurunan budaya literasi itu. Inilah yang dikhawatirkan dan menjadi kegelisahan banyak kalangan.

Itu sebabnya, salah satu RTL (Rencana Tindak Lanjut) halqah kiai ini, adalah penugasan pada para peserta, yakni para kiai, untuk membuat tulisan ringan, terkait isu-isu perlawanan dan penangkalan terhadap radikalisme beragama.

Rencananya tulisan ini akan dibukukan sebagai karya bersama, yang nantinya akan disebarluaskan ke berbagai pesantren di Indonesia. Langkah PSP ini penting dan patut diapresiasi sebagai langkah awal memulai budaya menulis di kalangan kiai yang kian hari kian melemah.

PSP sebelumnya juga memberikan pelatihan penulisan dan pembuatan video pada para santri, di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Banten. Dan apa yang telah diinisiasi oleh PSP, kiranya penting juga dilakukan oleh lembaga-lembaga lainnya, terutama lembaga yang langsung bersentuhan dengan para kiai/ulama, seperti Kementerian Agama, MUI, FSPP, ormas-ormas keagamaan lainnya, dll.

Tiga “R”

Kiai – para ulama – adalah sosok pewaris Rasulullah Saw atau waratsah al-anbiya’. Mereka tidak mewarisi hal-hal duniawi, baik dinar maupun dirham, melainkan mewariskan ilmu (Sunan Abi Dawud: III/317). Warisan ilmu inilah yang mereka terima untuk disebarkan secara luas kepada seluruh lapisan masyarakat, apapun latar belakangnya.

Sayangnya, diakui atau tidak, model-model penyebaran ilmu atau media dakwah yang mereka gunakan, secara umum masih monoton dan “itu-itu” saja. Umumnya, para mereka hanya berdakwah dari mimbar ke mimbar atau majelis ke majelis. Soal dakwah di mimbar alias ceramah ini, mereka memang jagonya. Untuk yang satu ini, bahkan mereka bisa berdiri berjam-jam dan bicara tiada jeda.

Tidak ada yang salah dengan dakwah melalui media mimbar ini. Hanya saja jika direnungkan, maka dakwah melalui mimbar ini jangkauannya sangat terbatas, baik jangkauan pendengar maupun usia ceramahnya. Selesai penyampaian di mimbar, maka materi-materi yang disampaikan hilang begitu saja karena seringkali tidak terdokumentasikan, kecuali hanya sedikit. Akhirnya, tidak ada yang bisa diwariskan untuk generasi setelahnya.

Selain itu, saat ini pergaulan dan forum perkumpulan masyarakat kian beragam. Mereka tidak hanya berkumpul di majelis-majelis taklim. Bahkan jauh lebih banyak yang berkumpiul di dunia maya atau media sosial/medsos. Untuk konteks Indonesia saja, jumlah pengguna media sosial menembus ratusan juta. Ada yang berkumpul di twitter, WA, FB, instagram, dll. Bahkan keragaman latar belakangnya sangat kompleks, selain ruangnya yang juga tidak terbatas. Jika di majelis-majelis konvensional jamaah hanya terdiri dari unsur yang homogen, maka di dunia maya sebaliknya, jemaahnya heterogin.

Lihat saja misalnya! Penghuni media sosial, yang biasa disebut jemaah netizen, itu muncul dari anega ragam agama, budaya, afiliasi politik, kepentingan, ekonomi, status sosial dan seterusnya. Tak heran, jika status atau apapun yang mereka suarakan di media sosial, mencerminkan siapa sesunngguhnya mereka. Banyak yang positif dan banyak lagi yang negatif, bahkan kadang berupa provokasi atau ujaran kebencian. Mereka inilah sasaran dakwah terbaik bagi para kiai, untuk diarahkan pada nilai-nilai luhur (tanpa harus meninggalkan mimbar dan pergumulan mereka dengan kitab kuning tentunya).

Tak heran karenanya, jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat hingga mengeluarkan fatwa khusus tentang etika bermedia sosial, yakni Fatwa No. 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Ini sebentuk kesadaran dari para ulama yang tergabung dalam MUI betapa riuhnya dunia media sosial dan betapa pentingnya media ini sebagai ladang dakwah. Sayangnya, belum banyak kiai yang masuk secara serius dan konsen berdakwah di ladang ini.

Karena itu, sudah semestinya kiai-kiai mulai bergerak dari zona yang biasa ke zona yang lain. Mereka perlu out of the box (keluar dari kotak kelumrahan). Tidak cukup hanya berdakwah menyentuh telinga, melainkan juga perlu menyentuh mata sekaligus mata dan telinga. Semua harus disasar sebagai lahan dakwah.

Untuk itu, kiranya penting berdakwah atau menyampaikan nilai kebaikan melalui media “Tiga R”: mimbar, lembar dan layar. Mimbar adalah media dakwah konvensional yang biasa digunakan. Ini sudah lumrah digunakan dan menjadi media mayoritas para kiai. Media lembar, ini tidak banyak digunakan, karena hanya sedikit yang memiliki kemampuan mumpuni menggunakan media ini. Kesulitan merangkai kata dan soal ketidakbiasaan menjadi alasannya.

Sesungguhnya, media ini – bisa berupa bulletin, buku, jurnal, dll – akan lebih tahan lama dan bisa menjangkau lebih banyak obyek dakwah. Hatta ketika penulisnya telah wafat sekalipun, dakwahnya melalui lembar akan terus menembus ruang dan waktu. Banyak ulama masa lalu, yang telah wafat jauh-jauh hari, dakwah lembarnya terus menembus ruang dan batas geografis. Jarak yang berabad-abad dan letak geografis yang jauh, tidak menghalanginya menyapa obyek dakwah (komunikan) di manapun dan kapanpun.

Berikutnya, media dakwah yang tak kalah penting, adalah layar. Layar televisi, layar komputer atau layar gadget menjadi media dakwah yang penting dalam konteks ini. Kiai-kiai juga belum banyak yang akrab menggunakan media ini, terutama media gadget dengan kekayaan program/fitur yang bisa dimanfaatkan. Padahal zaman ini, jemaah netizen ingin dimanjakan dengan gaya dakwah yang modern dan simpel.

Melihat situasi ini, kiranya ada perlunya para kiai – semoga tidak lagi terjebak dan semata berkutat pada persoalan hukum boleh-tidaknya – mulai merambah wilayah dakwah melalui media sosial; baik FB, twitter, WA, instagram, telegram, dll. Buatlah pesan-pesan atau meme-meme singkat yang positif dan juga rekaman-rekaman audio-visual yang simpel ditonton. Sebarkan seluar-luasnya melalui media-media itu.

Untuk itu, sudah saatnya para kiai merebut media sosial sebagai ladang dakwah, berebut komunikan, supaya ladang ini tidak dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan justru merusak moral anak bangsa. Jangan sampai media-media ini terisi oleh konten-konten yang kontraproduktif terhadap nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, juga bertentangan dengan karakter kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks NKRI.[]

*) Penulis adalah Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten dan Ketua Komisi Dakwah, Pembinaan Masyarakat Islam, Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak.

(Radar Banten, 7 September 2017)