Plagiarisme dan Urgensi Sanad Keilmuan

Oleh Nurul H. Maarif*

Dunia akademik negeri ini kembali guncang. Pasalnya, beberapa minggu terakhir ini, berbagai media, baik cetak maupun elektronik, dihiasi oleh informasi memprihatinkan berupa plagiarisme disertasi yang dilakukan oleh beberapa doktor, di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kampus yang identik dengan usungan pendidikan.

Tragedi akademik memilukan ini menjadi tamparan keras bagi dunia kampus, baik kampus negeri maupun swasta. Kendati sejujurnya, fenomena plagiarisme ini ibarat gunung es, yang hanya terlihat puncaknya. Hanya orang-orang sial saja yang ketahuan, karena banyak lainnya yang tidak terdeteksi.

Dalam konteks dunia akademik di negeri ini, sebenarnya telah banyak kasus plagiarisme yang terkuak, yang sayangnya tidak dijadikan pelajaran penting oleh “akademisi-karbitan” setelahnya. Misalnya, pada 2014, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Mudjia Raharja, dilaporkan ke Kepolisian Daerah Jawa Timur, terkait tindakan plagiat pada makalah mahasiswa. Peristiwa ini ramai setelah terbitnya buku Sosiolinguistik Qurani, terbitan UIN Press, pada 2008.

Baru-baru ini, Rektor Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, Muhammad Zamrun Firihu, yang dilantik pada 18 Juli 2017, dinyatakan telah melakukan plagiarisme. Kepastian ini diperoleh setelah Ombudsman Republik Indonesia (ORI) melalui Bidang Penyelesaian, Dr. Laode Ida, mengungkapkan bahwa yang bersangkutan melakukan plagiat karya ilmiah bersama dua rekannya, pada 2016, dengan judul Microwave Enhanced Sintering Mechanism in Alumnia Ceramic Sintering Experiments, yang dimuat dalam Jurnal Contemporary Engineering Sciences, Vol 9, 2016.

Jika dideret, kasus-kasus plagiarisme atau pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, sesuai definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), itu daftarnya bisa sangat panjang. Cerita tentangnya juga tak habis-habisnya di negeri ini.

Padahal sesungguhnya, dunia akademik di negeri ini telah diproteksi dari tindak plagiarisme melalui berbagai aturan yang ditetapkan. Misalnya, melalui Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan Peraturan Menteri No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Untuk itu, plagiarisme dinilai sebagai tindak pidana atau kejahatan yang pelakunya bisa dikenai sanksi serius. Plagiator – pelaku plagiarisme – tak beda dengan pencuri, yang mencuri hasil karya orisinil korbannya, baik berupa ide, simbol, logo dan sebagainya. Namun nyatanya, di tengah aturan yang ada, kebiasan buruk plagiarisme tidak begitu saja hilang dan lenyap.

Orientasi yang Salah

Plagiarisme, baik pelakunya menulis karyanya sendiri atau dituliskan pihak lain, terjadi karena orientasi yang salah. Kegiatan “terkutuk” ini hanya dilakukan oleh orang-orang lemah iman, yang ingin meraih keinginan pragmatis secara instan tanpa perlu berlelah-lelah dan berdarah-darah. Mereka tak mengenal adagium “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian.”   

Syahwat pragmatisnya yang membuncah, ingin dipenuhi sesegera mungkin tanpa peduli perbuatannya melanggar atau tidak. Alih-alih peduli pada nasib korbannya, keyakinan pada Allah Swt yang tiada alpa memantau tindak-tanduknya sebagai khalifah di bumi justru diabaikannya.  

Dalam tradisi pesantren diajarkan, orang yang belajar atau thalab al-‘ilm itu haruslah terlebih dahulu meluruskan niat semata untuk Allah Swt, bukan untuk kepentingan pragmatis apapun, semisal jabatan, prestis sosial, atau uang. Dengan ilmu yang dikuasainya, semestinya ia meniatkan diri untuk kian mengenal dan mendekatkan diri pada Allah Swt, sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat akal yang diterimanya.

Jika dengan ilmu atau pengetahuan, yang bersangkutan justru kian jauh dari-Nya, dibuktikan dengan keberaniannya melabrak berbagai aturan, maka nyatalah pengetahuan itu tidak memberi kebaikan apapun bagi dirinya, berupa keselamatan di dunia dan akhirat. Karena itu, niat karena Allah Swt haruslah menjadi pondasi kokoh bagi siapapun yang hendak menggapai pengetahuan.  
 
Dalam Hadis riwayat Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah Saw mengingatkan: “Siapa mencari ilmu untuk selain Allah atau karena menginginkan hal-hal lain selain Allah, maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.” (Sunan Ibn Majah: I/95). Hadis ini mengingatkan supaya tidak terjadi disorientasi dalam menuntut ilmu.

Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah Saw jauh-jauh hari itu, memberikan beberapa pelajaran utama. Pertama, beliau mengisyaratkan, kelak banyak yang mencari ilmu bukan untuk Allah Swt, mengenal-Nya atau meraih ridha-Nya, melainkan untuk mengharapkan hal-hal lain selain-Nya: bisa kekuasaan, jabatan, uang dan sejenisnya. Seiring berjalannya waktu, isyarat beliau kian terbukti.

Kedua, beliau juga mengisyaratkan, siapapun yang mencari ilmu untuk kepentingan pragmatis, selain Allah Swt, maka akan menempati tempat di neraka. Apa sebab? Orang yang orientasinya pragmatis, cenderung berani melabrak berbagai aturan dan tatanan, baik agama maupun sosial. Padahal untuk meraih surga-Nya, aturan dan tatanan itu harus dihormati dan ditaati sepenuhnya. Dan para pelaku plagiarisme ini bukanlah orang yang menghormati ketentuan ini, sehingga jalan yang salahpun ditempuhnya.  

Sanad Keilmuan

Bisa dimengerti kiranya, jika dalam tradisi Islam, termasuk pesantren tentunya, sanad atau mata rantai keguruan atau keilmuan menjadi sangat penting diperhatikan. Apa yang diinformasikan seseorang, harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan sumbernya, jika ternyata bukan pernyataan sendiri.

al-Quran, harus jelas mata rantai keguruannya, hingga Allah Swt. Hadis, juga harus jelas transmisi keguruannya, hingga Rasulullah Saw. Pembelajaran kitab apapun, juga senantiasa harus jelas jalur keguruannya. Dan tradisi ini terus dijaga dalam sejarah Islam.

Jika ada Hadis atau pernyataan yang tidak jelas sumbernya, sudah barang tentu diragukan kebenarannya. Karenanya, penelitian atas sumber berita atau informasi yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu (salaf al-shalih), benar-benar serius dan teruji. Keilmuan yang mereka miliki akhirnya benar-benar orisinil dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

Kendati belum mengenal aturan akademik yang rigid, nyatanya mereka terbiasa menyebut sumber informasi yang disampaikannya secara valid. Tengok saja kitab-kitab tafsir, fikih, tasawuf, akidah dan lebih-lebih kitab Hadis. Bahkan untuk kitab-kitab Hadis, silsilah keguruan ditulis secara detail dan runut, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, dan selainnya.

Dan di zaman ini, tampaknya banyak orang yang tidak peduli lagi dengan sanad atau mata rantai keguruan. Mereka bisa menyampaikan apapun yang disukainya, tanpa menyebut sumbernya, kendati itu sebetulnya ucapan orang lain. Ulama Hadis bersepakat: al-isnad min al-din laula al-isnad la qala man sya’a ma sya’a (Mata rantai keguruan itu bagian dari agama. Tanpanya, orang bisa menyampaikan apapun yang diingininya).

Mengacu pada tradisi kontrol mata rantai keguruan ulama terdahulu yang begitu ketat, kiranya apa yang terjadi pada (sebagian) kampus patut membuat prihatin. Untuk itu, sivitas kampus haruslah betul-betul membuat kontrol yang terukur dan aturan yang ketat sekaligus tegas. Pemanjaan pada kemudahan download internet harus dibatasi. Juga harus sungguh-sungguh mengkroscek secara detail mata rantai keilmuan karya ilmiah yang ada.

Selain itu, kiranya pihak kampus yang memiliki iktikad baik memajukan dunia pendidikan, perlu memiliki teknologi canggih dan terintegrasi dengan kampus lain, yang mampu mendeteksi secara mudah naskah-naskah yang terindikasi mengandung unsur plagiarisme.

Harapannya, kampus-kampus yang ada tidak hanya menjadi – pinjam istilah Prof. Mahfud MD – “peternakan doktor”, yang hanya berorientasi melahirkan doktor sebanyak-banyaknya, namun mereka tidak memiliki integritas yang baik dan moralitas yang luhur. Mereka inilah yang akan memberi sumbangan besar pada kerusakan bangsa ini.[]

*Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Penulis buku Penafsiran Politik (Pustaka Qi Falah: 2014), Kerahmatan Islam (Quanta: 2016), Samudra Keteladanan Muhammad (Alvabet: 2017) dan Islam Mengasihi, Bukan Membenci (Mizan: 2017).