Bagaimana Islam Memandang Rasisme?

Oleh Nurul H. Maarif*

Pidato politik perdana Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, usai dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo, Senin, 16 Oktober 2017, langsung menuai aneka reaksi dari berbagai kalangan. Diantara deretan panjang naskah pidatonya, kata “pribumi” yang konon tidak ada dalam naskah pidato resminya, itu menjadi sorotan puncak kontroversinya. Bola panas terus menggelinding ke berbagai arah.

Sebagian, tentu saja para pendukung dan simpatisannya, menilai penggunaan terma “pribumi” itu biasa-biasa saja dan tidak ada unsur negatif apapun. Konteknya hanya memberikan semangat pada warga asli Jakarta, umumnya Indonesia, untuk bangkit menatap kehidupan yang lebih baik. Ada lagi yang bilang konteknya sedang menjelaskan sejarah, yang kala itu masyarakat Indonesia dalam kangkangan penjajah. Tiada lain untuk membanngkitkan semangat kemandirian.

Bagi kelompok di seberangnya, yang tentu saja berbeda jalur politik dengan Gubernur DKI terpilih, ini menjadi makanan empuk yang harus segera disantap. Bagi mereka, terma “pribumi” mengindikasikan nilai rasisme, karena bermakna pembedaan atau peng-kelas-an antara warga asli dan warga pendatang atau keturunan, kendati Gubernur DKI sendiri sesungguhnya warga keturunan.

Bahkan banyak juga yang menilai, terma yang digunakan itu berbahaya karena berpotensi memecah-belah bangsa. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang modern ini, tidak sepatutnya terma rasisme yang menjurus perpecahan ini digunakan. Tak heran jika ada sebagian kelompok ini yang segera saja mempersoalkannya dan melaporkan penyampainya ke pihak berewajib.

Yang lain lagi menilai, ini strategi isu yang mulai dimainkan untuk kepentingan Pilpres 2019. Pelurunya sudah diarahkan untuk menembak calon tertentu. Wa Allah a’lam. Tentu saja, yang lebih tahu tentang maksud ungkapan “pribumi” itu adalah penyampainya sendiri, yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pendengarnya hanya meraba-raba dan menebak-nebak tanpa kebenaran yang pasti. Rupanya Pilkada DKI memang ditakdirkan ramai dan terus menyisakan aneka dendam.
 
Atas peristiwa di atas, kiranya penting sekali kita kembali pada ajaran Islam yang luhur dan rahmatan li al-‘alamin (menjadi rahmat bagi alam semesta). Bagaimana sesungguhnya Islam memandang keragaman latar belakang keturunan atau ras ini? Adakah konsep pribumi dan nonpribumi dalam konteks Islam?

Pandangan Islam

Sebagai agama untuk kemanusiaan, sudah barang tentu Islam mempersamakan semua umat manusia di dunia ini, tanpa membeda-bedakan unsur keturunannya. Allah Swt memang sengaja dengan sadar-sesadarnya menciptakan manusia secara beragam, dalam segala hal, termasuk kesukuan, kebangsaan, warna kulit dan sebagainya. Karena bukan atribut ini yang dijadikan sebagai ukuran kemuliaan.

Allah Swt berfirman dengan sangat tegas, jelas dan lugas: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. al-Hujurat [49]: 13).

Melalui ayat ini, kendati seluruh manusia sejatinya masih satu darah keturunan Adam dan Hawa, namun Allah Swt tetap mewarnainya dengan aneka keragaman. Betapa mudahnya Allah Swt menjadikan segalanya seragam tanpa perbedaan. Kun fayakun-Nya akan menjadikan semua itu terwujud dengan sangat gampang. Nyatanya ini tidak dilakukan-Nya. Dan sesungguhnya Allah Swt sengaja menjadikan perbedaan untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Karenanya, bukan latar belakang perbedaan itu yang menjadi ukuran kemuliaan manusia di hadapan-Nya, melainkan kadar ketakwaannya. Perbedaan adalah sarana untuk berkompetisi, bukan untuk saling menghabisi. Perbedaan adalah sarana untuk saling berbuat baik, bukan untuk saling mencabik. Perbedaan adalah sarana untuk saling mengenal, bukan untuk saling memenggal atau mengganjal. Dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini akan lestari melalui kebersamaan dalam perbedaan yang terjalin indah.

Kita boleh berbeda rasnya, namun kita adalah keluarga, karena kita hadir dari Tuhan yang sama dan moyang yang sama, juga akan kembali pada Tuhan yang sama. Antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain harus saling menghormati, melindungi dan tolong-menolong untuk saling memberikan kemanfaatan.

Dikutip Abu Zahrah (Zahrah al-Tafasir: II/877), Abu Ya’la meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda:“Seluruh makhluk adalah keluarga Allah SWT; dan yang paling dicintai-Nya adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya.” Siapapun yang ada di alam raya ini, baik keturunan Adam maupun selainnya, dengan demikian adalah saudara. Yang paling dicintai-Nya dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan alam sekitarnya.

Hanya Iblis yang membedakan kemuliaan dari unsur penciptaan yang sesungguhnya sudah menjadi takdir-Nya. Dalam keangkuhannya, ia menyatakan: “Saya lebih baik dari padanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Qs. al-A’raf [7]: 12 dan  Qs. Shad [38]: 76). Karena itu, tidak semestinya umat manusia membeda-bedakan saudaranya karena latar belakang keturunanya, yang padahal dia sendiri tidak mampu memilih hendak lahir dari keturunan siapa.

Dalam keteladanannya, Rasulullah Saw bisa bergaul dengan siapapun tanpa membuat garis berbedaan. Dan beliau tidak pernah merasa menjadi yang lebih baik. Di Habasyah/Etiopia, pada hijrah pertama dan kedua, kaum muslim adalah pendatang yang dilindungi dengan baik. Di Madinah, Rasulullah Saw dan para Muhajirin adalah pendatang.

Di Madinah telah ada Kabilah Aus dan Kazraj, yang menurut Akram Dhiyauddin Umari, berasal dari keturunan Yaman. Bahkan di sana telah ada juga kelompok Yahudi Qainuqa, Bani Nadhir dan Quraidhah. Namun karena semangat hidup bersama, mereka bisa berdampingan dengan baik dan saling membantu. Bahwa ada riak-riak kecil, tentu saja dalam konteks sosial di manapun hal itu bisa saja muncul.

Karena itu, dalam berbagai pergaulannya, Rasulullah Saw tidak pernah membedakan relasinya berdasarkan latar belakangnya. Itu sebabnya, seperti ditulis Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (al-Jami’ li Ahkam al-Quran: IX/340), beliau mengatakan: “Saya diutus oleh Allah SWT untuk orang-orang kulit merah dan hitam.”

Atas dasar itu juga, dalam wirayat Ahmad bin Hanbal (Musnad Ahmad bin Hanbal: XXXVIII/474) Rasulullah Saw menegaskan: “Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang ‘Arab atas orang ‘Ajam (non-‘Arab), tidak pula orang ‘Ajam atas orang ‘Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketaqwaan.” Kelebihan hanya pada ketakwaan dan kemanfaatan.

Melihat kenyataan di atas, semestinya kita semua hidup hari ini sebagai keluarga besar yang saling menghargai satu sama lain. Bahwa ada tindakan-tindakan yang tidak bersahabat dari saudara-saudara kita yang berbeda, maka sesungguhnya itu lebih pada persoalan karakter individual dan tidak semestinya mengait-ngaitkannya dengan latar belakang keturunan.

Alangkah indahnya kita semua menatap masa depan Indonesia sebagai negara besar dengan berbagai keragaman penduduknya, baik warga asli maupun pendatang, sebagai saudara yang harus saling menghormati satu sama lain. Kebhinnekaan yang indah semestinya dijaga sembari menatap kebesaran Indonesia di masa yang akan datang jika bangsa ini terus bersatu padu secara kokoh.[]   

*Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Penulis buku Penafsiran Politik (Pustaka Qi Falah: 2014), Kerahmatan Islam (Quanta: 2016), Samudra Keteladanan Muhammad (Alvabet: 2017) dan Islam Mengasihi, Bukan Membenci (Mizan: 2017).