Empat Langkah Sukses Qurani

Oleh Nurul H. Maarif*)
 

Islam itu selaras dengan hajat hidup umat manusia. Islam tidak menghalang-halangi pemeluknya untuk menjalankan aktivitas keduniaan, selama tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan. Sesuai konteksnya, menjalani aktivitas keduniaan itu ada kalanya boleh dan bahkan ada kalanya wajib. Banyak ayat al-Quran maupun Hadis Nabi yang memberikan arahan tentang hal ini. Misalnya, Allah Swt berfirman: “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki) dari Rabb-mu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 198).

Ayat di atas memberikan pesan penting, bahwa menjalani aktivitas keduniaan bukanlah lelaku dosa atau aib yang mesti dijauhi. Melalui ayat yang lain lagi, bahkan Allah Swt menyampaikan pesan bahwa kita hendaklah mengejar akhirat namun tetap tanpa melupakan bagian kita di dunia (Qs. al-Qashash: 77), karena hal-hal keduniaan juga penting guna menopang kehidupan yang tengah dijalani sebagai hamba Allah Swt di bumi. Ini sekaligus mengisyaratkan urgensi keseimbangan dalam menjalani aktivitas keakhiratan dan keduniaan. Kesimbangan inilah kunci utama meraih kesuksesan. Beribadah tekun itu penting dan bekerja keras juga tak kalah penting. Dan Rasulullah Saw mengajarkan keduanya sekaligus.

Rasulullah Saw, sebagai uswah hasanah (teladan kebaikan) adalah seorang pekerja keras. Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau telah menjalani bisnis perniagaan berpartner dengan Khadijah bint Khuwailid yang kelak menjadi isteri pertamanya. Kerja sama (musyarakah) dengan saudagar perempuan yang kaya raya ini menghasilkan kesuksesan yang berlipat-lipat, yang bahkan tidak pernah didapatkan sebelumnya oleh Khadijah. Ini tak lain karena perniagaan yang dijalani Rasulullah Saw berlandaskan prinsip amanah (kejujuran dan kepercayaan yang tinggi).

Dalam penjelasannya yang lain, Rasulullah Saw menyatakan, bukanlah kebaikan meninggalkan aktivitas duniawi karena semata mengejar urusan ukhrawi. Sebaliknya, juga bukanlah kebaikan mengejar duniawi semata dengan mengabaikan hajat ukhrawi. Yang terbaik, kata Rasul, menjalankan keduanya secara berimbang. Dan yang terpenting, janganlah kita menjadi beban sosial bagi orang lain dalam hal apapun.

Karunia yang Halal lagi Baik

Kendati dianjurkan menjalani aktivitas keduniaan, apapun bentuk aktivitas dan di manapun tempatnya, namun tentu saja Allah Swt memberikan aturan terkait hal ini. Misalnya, Allah Swt berfirman: “Hai sekalian manusia, makanlah  yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 168).

Dua hal patut dicatat dari ayat di atas, terkait aktivitas keduniaan yang kita jalani. Pertama, rezeki yang kita cari hendaklah yang memenuhi kreteria halal dan thayyib. Halal itu sesuatu yang tidak dilarang oleh agama, baik karena bentuk aktivitasnya maupun karena substansi barangnya. Sedangkan thayyib itu terkait dengan substansi barang. Misalnya bergizi, menyehatkan, bermanfaat dan semacamnya.

Kedua, dalam menjalani aktivitas keduniaan, kita dilarang mengikuti langkah-langkah setan, yakni langkah-langkah yang tidak sesuai tuntunan agama. Biasanya, jika kita telah menarget mendapatkan suatu goal atau hasil tertentu, maka seribu satu macam cara akan ditempuh, baik cara yang benar maupun yang salah. Rasulullah Saw telah mengingatkan jauh-jauh hari, akan datang suatu zaman, manusia tidak lagi peduli dari mana ia mendapatkan rezkinya, baik dari jalan yang halal/dibenarkan agama maupun dari jalan yang haram/dilarang agama. Ini tampaknya sudah nyata terlihat di depan mata kita.

Empat Langkah Meraih Sukses

Siapapun yang menjalani aktivitas keduniaan tentu saja ingin meraih kesuksesan terbaik: kendati ukuran kesuksesan itu sendiri berbeda-beda. Perbedaan latar belakang dan tujuan akan menentukan perbedaan cara pandang tentang kesuksesan ini. Ada yang mengukur kesuksesan berdasarkan meteri dan ada pula yang berdasarkan ukuran non-materi.

Pertanyaannya: bagaimana al-Quran memberikan arahan langkah-langkah menuju keberuntungan atau kesuksesan? Jawabannya bisa kita temukan dalam Qs. al-Jumu’ah [62]: 10. Allah Swt berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Ayat di atas secara eksplisit menjelaskan empat langkah meraih keberuntungan atau kesuksesan. Pertama, tunaikan dan tuntaskanlah shalat! Secara khusus, ungkapan yang digunakann dalam ayat itu adalah shalat. Namun secara umum, ungkapan ini menyiratkan pemahaman bahwa pengabdian pada Allah Swt semestinya diletakkan di awal sebelum menjalani aktivitas apapun. Selesaikanlah terlebih dahulu urusan atau kewajiban kita pada Allah Swt lalu melangkahlah menyelesaikan aktivitas yang lain. Sebab, siapapun yang menjalankan aktivitas keduniaan, sesungguhnya ia tengah mengais karunia-Nya. Dialah al-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Karenanya, menghadaplah pada-Nya terlebih dahulu sebelum kita menjalani aktivitas lainnya.

Kedua, bertebaranlah di muka bumi! Bertebaran di muka bumi guna menjalani aktivitas keduniaan adalah bagian penting dari karakter dinamis manusia, yang karenanya diwajibkan oleh Allah Swt. Berteberan ini menunjukkan bahwa manusia tidak boleh ongkang-ongkang kaki dan berleha-leha hanya mengharap kemurahan Allah Swt, namun tidak menjalani aktivitas semestinya. Bertebaran di muka bumi juga tidak terbatas pada wilayah maupun jenis aktivitasnya. Bisa di dalam maupun di luar negeri. Bisa beraktivitas secara sipil, militer, ASN, dan sebagainya. Yang terpenting rambu-rambu Allah Swt tidak dilanggar.

Ketiga, carilah karunia Allah Swt! Bertebaran di muka bumi untuk menjalani aktivitas keduniaan, haruslah dilakukan dengan visi dan tujuan yang jelas, yakni untuk meraih karunia Allah Swt, bukan untuk tujuan lain. Dan proses mencari karunia Allah Swt ini haruslah dilakukan dengan cara yang baik sesuai ajaran agama dan norma sosial. Ukuran kebaikan itu, misalnya, tidak menzalimi, menyakiti atau merugikan pihak lain.

Keempat, ingatlah Allah Swt sebanyak-banyaknya! Setelah menuntaskan urusan dengan Allah Swt, lalu bertebaran di muka bumi, mencari karunia-Nya, maka langkah selanjutnya adalah memperbanyak dzikir (ingat dan tawakkal) pada-Nya. Karunia yang dikejar adalah karunia-Nya, maka proses mengejarnya juga harus melibatkan-Nya. Dengan melibatkan-Nya, maka kita telah menjadikan-Nya sebagai pengontrol sesungguhnya, sehingga kita tidak salah langkah dan tidak akan terjerumus pada hal-hal yang terlarang agama.

Jika empat langkah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh dan konsisten, insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan atau keberuntungan, tidak hanya di dunia melainkan di akhirat. Inilah yang digambarkan melalui penutup firman-Nya “la’allakum tuflihun/supaya kamu beruntung.” Dengan demikian jelas, kesuksesan atau keberuntungan itu melibatkan aktivitas vertikal sekaligus hosizontal, batin sekaligus dhahir, hati sekaligus otak, akal sekaligus otot dan seterusnya. Tidak cukup hanya dengan sibuk menjalani aktivitas keduniaan dengan mengabaikan kewajiban pada Allah Swt. Menggunakan bahasa Yusuf Mansur (owner Ponpes Darul Quran), kesuksesan itu hanya bisa dicapai dengan melibatkan Allah Swt kapanpun dan di manapun: Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Wa Allah a’lam.[]      
 
*) Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten

(HU Radar Banten, 23 Desember 2017)